Rinai
[reposting
dari tulisan tentang hujan dengan beberapa editan]
Hujaaaaaan.
Hayo siapa yang suka sama hujan? Melihat dan mengamati secara jelas
bahwa banyak orang yang menyenangi
hujan.
“Tisooo,
aku suka hujan”
“Wah,
alhamdulilah hujan”
“yeee
ujaaan”
“Tis, tis,
tis bunyi hujan di atas genting” :p
Dan ada
lebih banyak lagi kalimat seruan saat hujan turun. Kenapa kamu suka hujan?
Padahal ada banyak hal yang Allah suguhkan. Langit, awan, matahari, pohon,
bunga, bintang pun dengan aku :p hehehe. Everyone have a choice, right? Semua
punya alasan kenapa memilih untuk mencintai hal yang dipilih untuk dicintainya.
Termasuk memilih hujan.
Jadi teringat
isi sebuah surat dari seorang sahabat “Tis, tau gak? Sebenarnya Allah kasih
manusia dua kitab sebagai penuntun hidup. Yang pertama adalah Al Quran itu
sendiri dan yang kedua ialah Alam Semesta”. Yup! dari keduanyalah manusia
mengambil hikmah dari apa-apa yang dia lihat dan jalani. Hikmah dari setiap
tapak menjalani kehidupan. Dan hujan merupakan bagian dari alam semesta. Itu
berarti bahwa hujan pun dapat memberi kita pelajaran hidup.
“Allahumma
Shoyiban Nafi’an”-
Ya Allah semoga hujan yang Engkau turunkan ini bermanfaat. Doa yang senantiasa terucap di tengah rinai air yang turun dengan derasnya. Kalau kita simak, isi doanya adalah sebuah harapan untuk hujan yang memberi kebermanfaatan. Untuk membuat tanah basah, melepaskan penat terik kala siang menyengat, menggemburkan tanah, membuat sorak karena paceklik usai pun membuat adik-adik kecil berlarian bermain hujan. Dan akan ada banyak lengkung saat hujan datang. Apa kamu melihat banyak lengkung tersebut? Semoga saja iya karena itu pertanda bahwa hati ini masih berfungsi dengan baik. Karena lengkung ini hanya untuk mereka yang bisa memaknai dengan cermat setiap titik-titik yang Allah bentangkan. Dan tahukah? Hal yang tiba-tiba saja terlintas dibenak ini adalah hujan saja turun ke bumi dengan harapan dan perintah untuk menjadi sebuah manfaat, kita yang manusia masa iya mau kalah manfaat sama hujan? Berarti benar adanya itu isi surat teman saya. Kita perlu banyak belajar dari alam semesta nih kayanya!~
Ya Allah semoga hujan yang Engkau turunkan ini bermanfaat. Doa yang senantiasa terucap di tengah rinai air yang turun dengan derasnya. Kalau kita simak, isi doanya adalah sebuah harapan untuk hujan yang memberi kebermanfaatan. Untuk membuat tanah basah, melepaskan penat terik kala siang menyengat, menggemburkan tanah, membuat sorak karena paceklik usai pun membuat adik-adik kecil berlarian bermain hujan. Dan akan ada banyak lengkung saat hujan datang. Apa kamu melihat banyak lengkung tersebut? Semoga saja iya karena itu pertanda bahwa hati ini masih berfungsi dengan baik. Karena lengkung ini hanya untuk mereka yang bisa memaknai dengan cermat setiap titik-titik yang Allah bentangkan. Dan tahukah? Hal yang tiba-tiba saja terlintas dibenak ini adalah hujan saja turun ke bumi dengan harapan dan perintah untuk menjadi sebuah manfaat, kita yang manusia masa iya mau kalah manfaat sama hujan? Berarti benar adanya itu isi surat teman saya. Kita perlu banyak belajar dari alam semesta nih kayanya!~
Sudahlah
akui saja, Sangat menyenangkan memang
menikmati kebesaran alam semesta bahkan menghabiskan waktu
berlama-lama ataupun memandang semuanya lekat-lekat. Seorang kakak yang dulu
menemani saya dalam lingkaran berbagi
pernah bilang “Aku suka belajar dari alam, karena banyak hikmah dan pelajaran
yang bisa diambil”. Aku setuju kakak. Menyenangkan memang menikmati bahkan
menghabiskan waktu lama-lama melihat semua keindahan ini membuat kita sadar
bahwa ada sebuah kekuatan besar yang menciptakan semua ini. Dan tanpa sadar
pun, relung-relung hati ini semakin yakin akan keberadaanNya : ) pun dengan
menikmati hujan.
Terkait
rinai, Pernah ada sebuah percakapan
menarik saat rinai hujan
disenja hari
A : aku
tidak suka hujan
S :
kenapa?
A : karena
hujan menghapus banyak warna
S : tapi
tidakkah kau lihat rintik air dirindang daun hijau itu, masih ada hijau sayang
A : ahh,
tidak aku hanya ingin melihat semburat merahku sore ini walau hanya sejenak dan
hujan menghapus merahku
S :
tersenyum...
Hihihi
lucu ya, ada yang ngambek sama ujan coba. Kalaupun hujan menghapus warna merah
sore itu, tapi masih ada hijau kan? Dan hijau itu selalu berhasil meneduhkan
sepasang mata. *menatap hijau lekat-lekat biar teduh : D
Kalau
ngeliat film pasti ada banyak adegan waktu hujan. Di film horor, hujan nambahin
kesan horornya. Di film korea hujan nambahin kesan sweetnya, di film barat ujan
nambahin kesan tangguhnya, di film Indonesia hujan menambah kesan dramatis
hahaha
Dan
hujan terkadang seolah tau apa yang sedang kau rasakan, seolah hujan mengerti
isi hati ini.Pernah merasakannya? Ketika semuanya sesak rapat, kemudian hadir
titik-titik air dan terus saja turun tanpa ampun dan kamu merasakan sebuah
kelegaan? Hingga kamu menamakannya “suka” suka pada hujan. Seolah hujan mau
berbagi segala resah, takut dan semua yang sedang disimpan rapat-rapat. Dan
tanpa sadar bulir-bulir air menetes dari kedua mata. Dan kamu semakin bersorak,
karena hujan berhasil menutupi bulir-bulir air yang menetes dari kedua matamu.
Prokprokprok kali ini bersyukurlah karena hujan berhasil menolongmu, karena
(mungkin) hanya hujan yang tau betapa manusia itu pasti memiliki sisi lemah
setangguh apapun ia!
Aku
yakin ada banyak rasa yang bermain saat rinai-rinai itu muncul itulah mengapa
(mungkin) doa sewaktu hujan adalah waktu berdoa yang baik untuk diijabah,
karena tanpa disadari ada sebuah kejujuran mengalir, karena bukan mulutmu yang
berbicara, bukan mulutmu yang mendoa. Karena ketulusan dan segala hal yang dari
hati pasti akan sampai kepada hati yang lain bukan? Pun akan sampai pada Sang
Pemilik Hati~
Saya
kutip lagi ah surat favorit saya “Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? “ (Ar Rahman : 55)
sweet :) pengen nangis bacanya
BalasHapusTerima kasih Rifat sudah bermain kesini :)
BalasHapus