Senin, 9 September 2013. Pukul 17.10. Turun dari
Bus NUSA di depan Boulevard UNS (Gerbang depan UNS). Menggendong tas ransel.
Memeluk map di dada. Menikmati senja UNS sendirian (lagi). Selamat datang
Jingga.
Jalan kaki adalah kebiasan yang sangat sering
gue lakukan untuk menuju ke banyak tempat di kota Solo. Selain tidak dibawakan
motor oleh kedua orang tua, gue juga traumatis mengendarai sepeda motor.
Bersepeda lebih asik bahkan ketika dulu SMA gue lebih suka mengendarai sepeda
keliling kota sama Anne, Rara, Arri. Dikarenakan sepedanya tidak gue bawa
kesini, akhirnya gue memutuskan untuk berjalan kaki. “Lebih sehat”, begitu kata
Ibu. Gue juga bukan tipikal anak yang penuntut dari dulu jadi yaudahlah ya,
dinikmati saja rezekinya. Hikmahnya, gue menemukan keasyikan berjalan kaki
setahun belakangan. Terlebih lagi
semenjak ada pembangunan trotoar di kampus UNS Kentingan, nasib pejalan kaki
macam gue semakin nikmat menjalankan rutinitas. Hahaha. Terima kasih bapak
Rektor =)
Rute jalan kaki favorit itu dari boulevard lurus
ke utara menuju gedung rektorat, kemudian belok ke arah timur, masuk ke trotoar
melintasi Danau UNS berbentuk Gunungan Wayang di sebelah tenggara rektorat
(kayanya). Melintasi Fak. Pertanian, MIPA, Kedokteran dan sampai di depan Gd.
Pascasarjana, jalan lambat-lambat di depan masjid Nurul Huda (NH) yang keren,
keluar gerbang belakang, belok ke arah timur menuju kos Candra Dewi 3. Kadang,
kalau sudah tiba waktu magrib dan gue kangen dengan masjid NH, gue akan
memutuskan untuk solat Magrib dan duduk sejenak dengan mushaf gue.
Kalau sedang terburu-buru, gue kadang
menggunakan prinsip potong kompas. Dari depan boulevard UNS jalan lurus ke
utara melewati rektorat, auditorium, perpustakaan, UNS Press, sampai ke gd.
Pascasarjana, dan masjid NH (lagi).
Jalan kaki beramai-ramai lebih menyenangkan
apabila dari rektorat mengambil rute trotoar ke barat, melewati lembah teknik,
KOPMA, FSSR, FH, FKIP, dan lagi-lagi berujung di masjid NH. Kemarin, waktu
sahabat-sahabat terbaik gue main ke Solo, gue ajak mereka jalan kaki lewat rute
barat rektorat. Jadinya setiap gue lewat rute tersebut, gue punya waktu sejenak
untuk menyalakan MP4 gue, bersenandung, dan merekam kejadian saat kita jalan
kaki.
Dalam perjalanan, banyak hal terekam di mata
gue. Mulai dari ibu-ibu yang sedang menyuapi anak kecilnya, mahasiswa yang
sedang Jogging memutari lapangan rektorat, mahasiswi yang ketawa-ketiwi sama
teman-temannya, Voca Erudita (Student
Choir UNS) atau Marching Band UNS yang lagi latihan, orang yang berjalan
cepat-cepat, teman gue yang lagi motoran, dan banyak lagi. Seru!
Intinya, sudah tidak berbilang banyaknya gue
jalan kaki mengitari UNS, gue sampai tahu betul betapa ramainya boulevard dulu
setiap sore dengan orang-orang yang dugem (duduk gembira) di bawah pohon
rindang dengan orang terkasihnya atau kelompok bermainnya. Sesekali mereka
jajan di pedagang kaki lima yang ramai berjualan. Hingga pada suatu saat gue
lihat ada rambu-rambu gambar laki-laki dan perempuan pegangan tangan dikasih
coret. Artinya : Dilarang Pacaran. Huahaha asli ketawa bacanya. Kreatif banget
yang bikin rambu. Menasehati secara halus. Jempolah
Hanya membutuhkan waktu 30 menit. Kalau kamu gak suka jogging, maka jalan kaki
menjadi alternatif pilihan untuk menjaga kesehatan. Apalagi kalau kamu memiliki
banyak amanah di kampus, sekali-kali bolehlah meletakkan kunci motor sejenak
kemudian menikmati udara segar pagi dan sore hari. Relaksasi. Adakalanya kamu
bisa bertegur sapa dengan teman-teman dari fakultas lainnya yang bertemu di
jalan. Hitung-hitung bersilaturahim gratis. Melihat orang lain sehat dan kasih
kita seulas senyum itu lebih baik daripada harus menjenguknya ke rumah sakit
setelah sekian lama tidak bertemu. Percaya deh sama gue.
Selain di UNS, gue juga pernah jalan kaki dari Solo
Grand Mall (SGM) sampai Gramedia di jalan Slamet Riyadi. Kemudian jalan kaki
dari Gladak-Ngarsopuro. Belum lagi kalau Car
Free Day (CFD), gue bisa jalan kaki dari bunderan Gladak-SGM. Jalan kaki
antara Mesen-Tirtomoyo juga asyik. Dengan
mau tidak mau berjalan kaki, gue jadi tau rute-rute bus di Solo, melihat dan
mengamati banyak orang. Bahkan, kadang tanpa sengaja gue diajak berbincang
santai menyoal kehidupan atau berperan menjadi pendengar yang baik. Serunya
lagi, kalau gue tanpa sengaja melihat ekspresi teman-teman gue yang naik motor
dengan tergesa, pandangan lurus ke depan. Kasian lihatnya, sudah dikasih nikmat
bermotor, tergesa mengendarainya, sehingga belum tentu dia bisa menikmati
keindahan sekelilingnya.
Well, jalan
kaki itu selain mengasah otot kaki, membesarkan betis dan menyehatkan badan
juga punya efek samping mengasah rasa, memekakan telinga, mata bahkan hati. Tak
peduli bila sebagian orang bilang itu pekerjaan membuang-buang waktu dan hanya
menghasilkan keletihan. Gue pikir, hidup itu seni memaknai setiap keletihan
yang sekejap mampir kok. Penduduk
bumi mana yang tidak merasa letih saat menjalani kehidupan? Yup, daripada sendiri merasa letih,
lebih baik sendiri menikmati letih. Yuk, yang ngaku aktivis kampus cobain deh
rutinitas jalan kaki di kampus masing-masing, biar kerjaannya gak aksi, ngaji, debat, rapat atau
mengkritisi tulisan-tulisan terus tapi berlatih diri untuk pandai merasa, membumi,
belajar dengan pribumi lainnya. Selamat mencoba! Salam sehat Negarawan Muda
Indonesia (Baktinusa Dompet Dhuafa)
Titis Sekti Wijayanti
bukannya aksi itu juga jalan kaki, apalagi yg long march *pfftt*
BalasHapus