Langsung ke konten utama

Menjeda


Jika aku sebuah kalimat panjang. Sebelum sampai pada ‘titik’ adakalanya aku butuh ‘koma’ untuk membuat tatanan kalimat yang tersusun baik.

Jika aku malam. Sebelum sampai kepada pagi. Aku selalu butuh ‘fajar’. Memberi tanda semesta bahwa hari baru telah tiba.

Pun jika aku adalah siang. Sebelum pergantian kepada malam. Aku juga butuh ‘senja’. Setidaknya untuk membuat manusia menghela saat melihat jingga. Juga membuat lengkung yang meluruskan segalanya. 

Atau kalau aku adalah penguasa jalanan. Sesekali aku butuh ‘polisi tidur’. Mengerem dan  menurunkan gigi, kemudian menaikkan gas dan gigi kembali.

Baiklah, nyatanya aku hanyalah seorang ‘pendaki’ yang kerjanya ditantang untuk selalu sampai di puncak. Berjam-jam aku berjalan. Aha! Menemukan pos. Membangun tenda, memasak, tidur, mendaki lagi. Begitu terus sampai pada ‘puncak’.

Begitulah hidup. Seringkali membutuhkan jeda. Sesekali (mungkin) saya lelah...
Seringkali kita mengeluh lelah. Kemudian menagih waktu jeda. Bukankah dunia dan seisinya ini juga hanya sebuah jeda?
Menjeda tidak selalu tentang tidur. Menjeda bisa dengan mengela nafas, minum, makan bersama, membaca, menulis, mendengarkan musik, jalan-jalan, bersilaturahim dan sejuta kata menyoal aktivitas kehidupan lainnya yang menyenangkan.
Menjeda adalah memberikan waktu sejenak kepada diri untuk melihat sejauh mana langkah kaki menjejak. Memberi hak kesenangan pada diri dari rutinitas pekerjaan dan visi kehidupan.

Lelah itu pasti datang semangat itu juga terkadang layu. Itulah gunanya ‘jeda’ dalam hidup. Kita duduk sejenak, melihat sekeliling. Mengambil energi dari alam dan sekitarnya. Mengambil hikmah dari kejadian di sekitar kita. Kemudian kembali mengambil peran. Waktu kita tidak banyak di dunia ini. Mari bergegas. Sebelum waktunya tiba. 
Menjeda bukan berhenti, tapi beralih aktivitas. 
Menjedalah sejenak. Kemudian tersenyum. Sebab, lelah ini hanya sebentar saja kawan :’). Camkan! Sebentar saja


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...