Langsung ke konten utama

Surat Untuk Ananda

Umm... Jadi, ceritanya kemarin iseng ikutan event menulis surat untuk calon anak. Tulisan ini (mungkin) akan gue kasih saat anak gue umur 17 tahun nanti. Kalau kesempatan itu tiba dan Allah meridhai tentu saja. Aamin. Begini isinya...

Assalamualaikum wr.wb

Dear anak Bunda yang sholeh,


Semoga saat membaca tulisan ini, abang sedang berada dalam suasana hati yang baik dan lapang sambil dihiasi "lengkung yang meluruskan segalanya". Sebab itulah pertanda saat kebahagiaan sedang hadir dalam diri kita. Bang, Allah memberi kita dua jingga, keduanya adalah hal yang paling dinanti dimuka bumi. Pada bilangan waktu diantara dua jingga. Disanalah doa Bunda terlantun menanti hadirmu. Memantaskan diri terus-menerus agar Allah memercayakanmu pada Bunda.

Di tanggal tujuh bulan kesebelas. Bagi orang lain boleh jadi waktu itu tanpa makna. Namun, bagi Bunda dan Ayah, hari itu adalah sejarah. Ayah mengadzankanmu kemudian Bunda menatapmu lekat dalam buaian. Kebahagiaan kami menggenap dengan kehadiranmu. Bunda masih ingat saat berpeluh juang menahan rasa sakit. Hari-hari setelahnya merupakan waktu menyenangkan untuk mendidik dan menjagamu sepenuh jiwa raga Bunda tanpa mengenal bilangan waktu serta jumlah rupiah. Dari Abanglah, Bunda belajar banyak soal kesyukuran dan kesabaran. Semoga, sampai pada bilangan usia berapapun. Doa-doa Abang selalu terlantun bagi Bunda dan Ayah.

Dulu, saat abang masih sangat kecil, sambil menggendongmu sesekali Bunda tertegun pada langit malam. Pekatnya awan sama sekali tidak meragukan Bunda akan keberadaan satu bintang. Meskipun pada suatu malam, mata Bunda tidak menemukan setitikpun cahaya di angkasa. Sungguh itu sama sekali tidak menggeruskan keyakinan Bunda. Yakin. Kemudian Bunda bisikkan pada salah satu telingamu, “seteguh itulah keimanan, Nak”. Ada atau tanpa Bunda kelak. Mendoalah agar iman kita kepada Allah terus meneguh tanpa keluh.

Bang, matamu itu seperti Ayah. Meneduhkan. Mata yang membuat Bunda jatuh pada sebuah kata. Cinta. Abang tahu? Mencintaimu adalah mencintai Ayah dan mencintai Ayah adalah mencintai Allah. Maka, ada yang ingin Bunda tekankan pada Abang, bahwa rangkaian cinta sepanjang apapun selalu berujung padaNya. Dulu, saat Ayah dan Bunda masih memendam rasa dalam hening. Masa muda kami teramat mengesankan. Berorganisasi, menjelajah ke berbagai kota, berprestasi pada bidang masing-masing. Abang harus tahu bahwa semua itu kami lakukan dalam upaya Allah meridhai kamu untuk kami. Lagi-lagi kamu. Bahkan jauh sebelum Bunda dan Ayah bertemu.

“Ada pertemuan, ada perpisahan. Hal yang mesti kita terima, yang penting bukan bagaimana perpisahan itu terjadi, tapi apa yang sempat kita tinggalkan sebelum waktu berpisah itu datang”. Hidup di dunia hanya 1,5 jam, Bang. Bermanfaatlah. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya seperti pesan Ayah. Tujuannya selalu satu ya, Bang. Menjadi Hamba yang diridhai Allah. Kelak di Syurga, ada abang, kakak, adik, Bunda, dan Ayah kemudian kita bercengkerama mengenang hidup yang pahit manisnya kita lesap bersama.

Bang, tujuh belas tahun sudah Bunda membersamaimu. Seperti baru kemarin melihat langkah pertamamu, mengajarimu makan sendiri, mengantarkan dan mencarikan sekolah, mengambil rapport. Doa Bunda dan Ayah, semoga berkah ilmu dan pengalamannya ya, Bang. Semoga Abang juga selalu bertambah dalam taqwa dan menemukan kebahagiaan dalam arti sebenarnya. Membawa terus kejujuran dan kebenaran sebagai pegangan hidup.

Semoga Abang juga selalu menempatkan Bunda, Ayah, kakak, dan adik di tempat yang terbaik di hati abang. Semoga Allah menjadikanmu sebaik-baiknya pemimpin bagi dirimu juga orang lain yang kamu temui. Pemimpin yang menebarkan kebaikan di muka Bumi, seperti namamu. Laksamana *********. Bunda cinta abang. Selamat bersyukur, sayang.

Wassalamualaikum wr.wb

Komentar

  1. Bisa kubayangkan Si Abang akan bangga terhadap bundanyan. Bisa jadi Si Abang berkaca-kaca kalau ia tidak menitikkan air mata haru. Terima kasih bunda akan nasihat yang akan menjadi bekalku kelak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...