Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan.
"Pulang naik apa?"
"Sampai jam berapa?"
"Sama siapa?"
Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu.
Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi.
*merekam memori*
kamu tulis soal target-target hafalan
kamu tulis tentang pencapaian akademik
kamu tulis tentang pencapaian non akademik
dan banyak hal lainnya
Aku tergugu. Seusiamu dulu, aku tak ada dewasa-dewasanya. Berani menuliskan banyak mimpi dan harapan. Tapi kamu penuh kejutan. Menuliskannya setiap bulan ke bulan.
Saat aku bersiap kembali, kamu bilang "Aku mau jadi kaya kamu"
Kemudian aku tersenyum, membelai kepalanya, mencubit pipinya, mendoa dalam hati "Kamu adik solehah dan jempolan, semoga Allah memeluk mimpi-mimpimu, menjadikan kamu kebanggan terbaik rumah ini"
"Pulang naik apa?"
"Sampai jam berapa?"
"Sama siapa?"
Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu.
Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi.
*merekam memori*
kamu tulis soal target-target hafalan
kamu tulis tentang pencapaian akademik
kamu tulis tentang pencapaian non akademik
dan banyak hal lainnya
Aku tergugu. Seusiamu dulu, aku tak ada dewasa-dewasanya. Berani menuliskan banyak mimpi dan harapan. Tapi kamu penuh kejutan. Menuliskannya setiap bulan ke bulan.
Saat aku bersiap kembali, kamu bilang "Aku mau jadi kaya kamu"
Kemudian aku tersenyum, membelai kepalanya, mencubit pipinya, mendoa dalam hati "Kamu adik solehah dan jempolan, semoga Allah memeluk mimpi-mimpimu, menjadikan kamu kebanggan terbaik rumah ini"
Aaamiin,kakak jempolaan :D
BalasHapusmakasih wanita jempolan :')
BalasHapus