Langsung ke konten utama

#Jepang 8: Kemudahan

Percayalah lelah ini sebentar saja -Ipang-


Berkas pembuatan paspor yang kurang ditambah ketidakdewasaan dalam membuat keputusan pada Takwa dan Upik menjadi lapisan tumpuk rasa bersalah.

Usai pertemuan di Perpustakaan Pusat. Aku mulai fokus dengan paper penelitian. Akas alumni Pecinta Alam SMA 7 Surakarta sekaligus mahasiswa jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS banyak membantu dalam mencari subjek penelitian. Disela penggarapan itu adalah Shin sang perempuan karibku yang juga rela mengantarkan ke pusat pengelolaan green campus hanya untuk mencari secercah harapan agar kami bisa berangkat. Namun, tak kunjung jawaban “ya kami bisa berangkat” itu didapatkan.

Waktu berjalan cepat hingga detik-detik pengumpulan semua berkas (paper, scan paspor, dan tiket) kian dekat. Paper belum dikoreksi dosen pembimbing. Tiket? Uang yang kami punya jauh dari kata cukup. “Allah Maha Kaya, mbak” ujar Takwa dan Upik menenangkan. Kami sudah berusaha mengerjakan bagian pekerjaan kami. Sekarang tinggal Allah mengerjakan bagianNya dan kami harus bersiap merapikan hati terhadap semua takdirNya.

Hingga janji Allah datang bagi setiap kesabaran... Seperti mengulang kalimat di salah bagian buku 9 Matahari “Saat kita tidak lagi menggenggam erat apa yang kita inginkan, justru seketika itu keinginan kita benar-benar terwujud”. Satu kesulitan yang kami hadapi, Allah kelilingi dengan empat kemudahan.


Kemudahan pertama terjadi pada suatu malam yang seharusnya menjadi deadline pengumpulan semua berkas. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk yang intinya berisi bahwa deadline pengumpulan berkas di undur sampai sepekan mendatang. Alhamdulilah. Paper kami masih berkesempatan untuk di koreksi oleh dosen pembimbing.

Kemudahan kedua Allah berikan pada suatu siang di Kampus Mesen. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Ketika diangkat ternyata telepon dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (KEMENPORA RI) yang memberi respon terhadap proposal yang kami ajukan. Alhamdulilah. KEMENPORA bersedia membiayai tiket pesawat kami pergi-pulang (Indonesia – Jepang). Kami? Iya, kami. Takwa, Upik, dan Aku mendapat support keberangkatan.

Kemudahan ketiga ditunjukkanNya melalui kebesaran hati Bapak Kepala Program Studi Psikologi UNS untuk memberikan izin penggunaan dana sumbangan FK UNS. Proses lobby yang panjang dan respon penerimaan yang awalnya dilempar kesana-kesini akhirnya membuahkan hasil. Alhamdulilah.

Kemudahan keempat adalah menggenapnya perasaan bahagia dan haru saat visa kami bisa keluar dengan kebijaksanaan Kedutaan Besar Jepang yang memperbolehkan kami menyusulkan persyaratan yang kurang saat pengambilang visa. Alhamdulilah

Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan? (Q. S. Ar-Rahman)

Allah tahu sedihnya ditolak berkali-kali saat mengajukan proposal sponsorship. Allah tahu penatnya menyusun paper di saat yang lain sibuk mengerjakan skripsi dan tak bosan bertanya tentang keberlanjutan skripsiku. Allah tahu beratnya mengirit uang saku agar bisa membayar paspor dan visa. Allah tahu pahitnya berkorban waktu pulang dan kebersamaan dengan keluarga. Allah Tahu Semua Rasanya.

Setiap kali mengingat kemudahan-kemudahan itu, rasanya Allah teramat dekat jaraknya. Hamba yang masih sering lalai tapi Allah izinkan melihat dunia yang lebih maju dari Indonesia. Sungguh lelah kami yang menggunung itu serta merta luruh berganti dengan syukur yang melesap. Maka, menjejaknya langkah di Jepang harus menjadi pembuktian bahwa kami adalah agen rahmatan lil alamin. Kami adalah pemuda-pemuda Islam dan kami bukan teroris. 

When we pray, Allah hears more than we say, answers more than we ask, and gives more than we imagine, in His own time and His own way. Allah hears every unspoken word, sees every unseen wound, and mends every unbearable pain. [Dr. Bilal Philips] -quotes ini buat oleh Ust. Wiranto yang secara tidak sengaja muncul di timeline Facebook-

Sekarang, pasti kamu percaya kan? Percayalah lelah ini hanya sebentar saja jika kita senantiasa mengandalkan Allah dalam segala perkara

Bersambung...

Komentar

  1. kejaiban, sungguh jika Allah berkehendak, maka terjadilah :)
    entah kenapa air mataku menetes membaca posting #jepang

    BalasHapus
  2. Allah selalu punya cara-cara terbaik yang mengejutkan ya? hehe Alhamdulillahirrabila'alamin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...