Langsung ke konten utama

#Obrolan Meja Makan 5 : Melangitkan Rasa Syukur



Dik, selalu ada yang berkesan dalam pertemuan-pertemuan kita di atas meja makan, dan itu menjadi bagian yang paling aku suka. Suka jika berlama-lama mendengar cerita kalian. Tangis, tawa, canda, ide, semangat, pokoknya semua-mua yang kalian punya, jadi candu untuk bertemu.

Seperti ungkapmu dalam salah satu percakapan kita
Mbak, bersyukur itu tidak hanya saat kita diberikan kemudahan oleh Allah atau ketika apa yang kita inginkan dikabulkan Allah. Tapi juga saat Allah menangguhkan harapan kita.

Bersyukur saat kita mendapatkan apa yang kita impikan, tentu saja mudah. Setidaknya lebih mudah daripada bersyukur ketika kita sudah berusaha mati-matian namun Allah merencanakan sesuatu yang berbeda dari yang sudah kita usahakan. Tapi kalian, tetap melangitkan rasa syukur itu pada Allah. Walaupun Allah belum izinkan kaki kalian menjejak di Negeri Sakura.

Kita jadi belajar mbak, tentang cara membuat film yang baik, juga cara berinteraksi yang baik dengan anak-anak saat pembuatan film.

Kebersyukuran itu tercermin dari hikmah yang kalian jabarkan. Satu demi satu. Menjadikan kalian lebih dewasa. Sungguh aku yakin, Allah semakin bangga pada kalian. Apalagi Ibu Bapak, Ummi Abi, Mama Papa?

Seringkali kita merasa bahwa rasa sayang Allah kepada hambaNya hanya ditunjukkanNya melalui banyak kemudahan yang kita jumpai. Tapi kalian memberikan cara pandang yang berbeda. Mengalirkan semangat hidup bahwa Allah selalu sayang pada kita. Entah kemudahan atau kesulitan yang diberikanNya, keduanya sama-sama mendidik kita untuk melangitkan syukur yang sama.

Untukmu Adinda...
Semoga semakin banyak hikmah yang terhimpun dalam jumpa kita.

Tahukah? Menjadi bernilai di hadapan manusia itu baik. Tapi menjadi bernilai di mata Allah itu jauh lebih baik.
Uhibukifillah :)

Komentar

  1. Makasih Mbak Titis, makasih sudah menjadi teman, kakak, guru yang baik buat kami ya, ini rizki luar biasa yang Allah kasih ke kami, iya, bisa dipertemukan dengan sahabat sahabat yang baik :') barakallah mbak :))

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...