Langsung ke konten utama

Suatu Rabu


Kajian pagi itu  menyisakan dua catatan penting di buku kecilku. Pertama “kalau mau jadi orang terbaik, jangan lari dari ujian”. Kedua, “Siapa yang baik dalam menghadapi ujian, Allah akan mengangkat derajatnya”. Allah memang merencanakan tema kajian rutin masjid Nurul Huda hari itu khusus untukku. Allah yang menggerakan hati dan lisan Ustad Hakim untuk menyampaikan hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail Alaihissalam serta kisah Luqman dalam Al Quran. Allah sudah mempersiapkan diri hambaNya untuk menerima kabar beberapa menit setelah menuliskan jadwal ujian proposal skripsi di ruang sidang. Kabar bahagia itu belum sampai di telingamu, Pak.

“Mbak, ayo kita pulang ke Klaten. Ibu((bulek) mau ketemu.”
“Ada apa dek? Mbah kenapa?”
“…”
“Mbah kenapa dek”
(adikku menangis) “Mbak, pakde sedha
“Hah! Kenapa?”

Pikirku mengembara pada banyaknya kenangan bersamamu. Canda, tawa, nasihat, marah. Dadaku sesak. Air mata meluruh. Maafkan aku, Pak.

 “Nduk,Bapak dimakamkan sore ini ya. Bapak sudah tenang. Dimudahkan semuanya. In syaa Allah sae, nduk” suara salah satu Paklekku.
“Kamu ikhlas, kan?” tanya Ibuku.
Aku menjawab dengan lisan yang ku usahakan terdengar tabah di pendengaran mereka, “Iya, sore ini saja. Ndak usah nunggu aku ndak papa

Ada yang hilang raganya. Namun sebenarnya tidak. Sebab sebelum Allah mengambil hakNya atas setiap jiwa manusia, beliau sudah mewariskan nilai-nilai hidup pada yang ditinggalkannya. Allah memanggilmu dengan cara yang baik, tanpa rintihan juga erangan rasa sakit. Hanya dengan tiga kali hembusan nafas. Begitulah Allah memuliakan dirimu, Pak. Allah lebih menyayangimu. Allah teramat sayang padamu.

Ada yang hilang raganya, namun kebaikan-kebaikannya mengekal. Menjadi kenangan. Menjadi amal tak berkesudahan. In syaa Allah.

Allah, izinkan kami menunaikan hak atas beliau. Menjadi salah satu yang menjadi pintu keridhaanMu. Menjadi anak-anak shalihah. In syaa Allah.

Moga inilah cara Allah mengangkat derajat kami, menjadikan satu diantara banyak prajurit terbaiknya dimuka Bumi In syaa Allah.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...