Di setiap berulangnya waktu dalam hitungan tahun ketika Allah
menakdirkan kelahiranku ke dunia. Seketika itu juga rasa bersalahku menggunung
pada orang-orang disekitar atas banyak hak mereka yang belum aku penuhi. Pun
ketika aku katakan bahwa aku sudah mencoba berbuat baik, nyatanya kewajibanku
pada mereka masihlah berjebah dan belum tertunaikan secara maksimal. Namun
hampir selalunya, doa mereka tetap melantun tulus padaku. Entah secara lisan
atau mereka simpan dalam diam. :((
Tak hanya itu, penghambaanku pun masih saja seujung kuku
padaNya sedangkan tak kurang sama sekali nikmat yang telah diberikanNya. Bahkan
ujian dariNya justru yang membuatku kembali ingat pada ‘hutang’ yang harus aku
lunasi. Berhutang kalimat tauhid, bahwa Hanya Dia yang pantas untuk diagungkan
atas segala-galanya. :((((
Aku jadi terngiang percakapan 2 tahun yang lalu dengan
Bunda. Ketika Bunda menanyakan kabarku saat bertemu dan meledekku dengan
pertanyaan, “Gimana kabar hati? Adakah seseorang yang menempati?”. Aku
senyum-senyum sendiri. Menangkap arti senyumku, Bunda berujar, “Wajar jika anak
seusiamu memiliki rasa itu, Bunda pun pernah merasakannya. Namun, ada yang
seringkali kita lupa hingga hanyut dalam kefanaan perasaan itu. Tiap hari, list kita akan bertambah dan semakin
panjang untuk membuat kriteria seseorang yang berhak membersamai kita. Tidakkah
kita sadari? Bahwa usia kita kadangkala tidak sepanjang list/kriteria yang kita buat.” Bisa saja kematian itu datang jauh
sebelum kita menemukan dia yang sering kita idam-idamkan dalam list permohonan kita terhadap
kedatangannya.
Kematian
selalu lebih cepat datang dari yang kita bayangkan.
Mudah bagi kita untuk membuat cita-cita dunia sebanyak
apapun. Namun, cukup sulit bagi kita untuk merangkai kata-kata terhadap akhir
kehidupan duniawi kita nantinya. Padahal, kematian itulah gerbang kehidupan
yang sebenarnya. Sesiapa yang mempersiapkan kematiannya dengan baik, dia akan
menjadi orang paling visioner di alam semesta.
Mengingat nasihat Bunda seperti mengingatkan lagi pada
niat serta tujuan kita untuk hidup di dunia sebagai manusia. Mengevaluasinya.
Menjadikan pijakan untuk terus berjuang dan bertambah lebih baik. Sudahkah kita
membuat proposal kematian kita pada Allah? Tentang permohonan atas kondisi iman
terbaik sepanjang usia kita saat menemuiNya. Kematian yang tepat berada di atas
jalan keridhaanNya
Kepada siapa saja yang sedang diberikan nikmat
pertambahan waktu. Semoga hanya semangat, manfaat, dan kebaikan yang mengisi
waktu-waktu kita yang sangat terbatas.
Barakallah
fii umrik. Semoga
Allah memberkahi usia kita.
mb titis sekti, salah satu kakak saya yang paling menginspirasi saya, meskipun terkesan judes dan galak, dibalik itu mb titis sekti adalah sosok yang perhatian dan ramah. meskipun perawakan nya menyeramkan :D
BalasHapusmb, kita belum lama kenal, tapi mb udah nyuri hatiku.. ciielah..
saya bersyukur kita sudah dijadikan saudara seatap disolo :)
hmm judes dan galak ya? :D terima kasih adik sudah membuka diri untuk saling belajar satu sama lain :))
BalasHapus