Akhir-akhir ini aku
baru sadar, bahwa tidaklah mudah untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan
yang kita buat. Sungguh tidak mudah.
Tidak mudah bukan berarti tidak bisa kan?
Hanya perlu
kesabaran dalam mengurai setiap benang kesulitan.
Menjalani sabar
bersama kenangan yang tertinggal dalam diri seorang Ayah sungguh tidaklah
mudah.
Tawa yang khas saat
berhasil membuat aku kesal karena ke-iseng-an yang dibuatnya.
Marah yang membuatku
jera untuk melakukan tindakan-tindakan nakal.
Rangkulan bersahabat
saat berjalan menyusuri gang-gang sempit untuk belajar tentang kehidupan.
Nasihat-nasihat
penuh makna yang menjadi ‘bekalan perjalanan’.
Aku masih bisa
mengingatnya dengan baik, meskipun hanya dengan memejamkan mata.
Tak ada kebencian
yang diwariskan walaupun berbanyak orang membuat sakit hatinya.
Tak ada malu yang
ditunjukkannya jika sedang melakukan aktivitas kebaikan.
Tak ada keluh yang
diucapkannya meskipun lelah, meski resah dengan cibiran orang sekitar.
Aku masih bisa
merasakan semangat itu, meski hanya dengan memejamkan mata.
Buku-buku itu.
Cerita-cerita
tentang para pahlawan itu.
Jenderal Sudirman,
Soekarno, Bung Tomo, para Jenderal yang di masukkan dalam sumur Lubang Buaya.
Diskusi tentang
potret pemuda masa kini, politik, wayang, lagu-lagu para wali dengan turi-turi
putih kesukaanmu, bahkan agama.
Sungguh aku masih
menyimpan semua kenangan bersamanya dengan baik, meski hanya dengan memejamkan
mata.
Maka, coba jelaskan
padaku. Mengapa aku bisa sangat rindu padamu, Pak? Meski hanya dengan
memejamkan mata.
kata-kata yang mengharukan :')
BalasHapus