Langsung ke konten utama

Traveling Never Ending



Gegara membaca sebuah kalimat dalam novel ditengah rutinitas magang… 
I used to travel to see the world, hoping that someday you and me can travel together  
-Travelovers-       
Tetiba saya jadi ingat saat saya kelas dua SMA. Waktu itu saya sedang giat-giatnya melakukan banyak aktivitas di alam bebas, bertemu dan berkenalan dengan banyak orang. Sebutlah Pangrango, Baduy, Jelajah Sukabumi, Bogor dan sekitarnya. Nah, saya jadi ingat! Ada sebuah doa yang sering saya lantunkan dalam perjalanan-perjalanan seru tersebut ke teman-teman saya. Doanya semacam kalimat yang saya buat miring (yang diatas itu loh). Bahkan dulu, saat kami (sebutlah saya dan ketiga sahabat karib saya) sedang sering-seringnya curhat bareng, saya pernah juga bercerita soal doa yang sama~  
Saya ulangi kalimat itu lagi : hoping that someday you and me can travel together
Yeaaah, “the coolest men ever”. Begitu kira-kira saya akan menyebutnya kelak, di saat yang ‘tepat’ seperti bagaimana Bapak dan Ibu memberikan saya sebuah nama ‘Titis’= Tepat sasaran, Jitu! Tentulah waktu dan saat yang tepat itu akan tiba sesuai kehendakNya *sabar*
Jadi ingat juga waktu saya wawancara Beasiswa Baktinusa, di dalam ‘Proposal Hidup’ yang saya buat, saya bahkan menuliskan sebuah tempat yang sangat ingin saya kunjungi bersama “the coolest men ever” dan pewawancara saat itu sempat menanyakan mengenai tempat tersebut ‘memang seberapa bagusnya sih sampai mau dikunjungi gitu?’ saya jawab saja ‘justru karena saya belum tau tempatnya kaya gimana, jadi saya mau kesana, Pak’. Lebih jauh lagi, saya sudah menuliskan nama anak laki-laki saya kelak. Saya kasih bocoran ya, kalau laki-laki nanti akan ada kata Laksamananya, kalau perempuan masih diramu, karena ada beberapa pilihan. Tetapi tenang saja teman-teman, hal-hal tersebut saya sisipkan di sela beberapa mimpi saya yang lainnya, jadi itu belum fokus utama, tapi gak ada salahnya dong mendoakannya dari sekarang? *senyum*
            Begitulaah…travelling ternyata udah mendarah daging bagi diri saya. Berangkat kuliah pun saya hitung jalan-jalan, kemanapun! Berbekal tas ransel, mp4, botol minum, cukuplah mereka menemani langkah-langkah ini menjejak jengkal bumi manapun. Pernah suatu ketika saya ngomong sama diri sendiri
“kenapa gue selalu norak kalau liat gunung, sawah, awan cerah, bulan sabit dan banyak pertanda alam lainnya”
Pernah juga terselip tekad
‘yaelah tis, udah tua, udahan mainnya pensiun dari nanjak dan segala macamnya!”
Tapi semua itu disadarkan oleh sms temen saya yang habis pulang dari Merapi
Ahh, ojo pensiunlah tis, cukup istirahat wae. Gak ada istilah pensiun menikmati alam to, terlalu indah buat dilewatkan
Well, gak ada kata pensiun untuk menikmati alam memang karena hijau itu selalu meneduhkan mata *senyumlagi*
Jadi mikir, itulah kenapa dalam Islam dijelaskan bahwa bila kita mau mengenal orang lain dengan baik, maka lakukan perjalanan selama beberapa hari dengannya. Belum lagi doa orang yang melakukan perjalanan jauh biasanya ‘di dengar’ Allah, kalau ditambah saat jalan-jalan kehujanan, doa waktu hujan kan juga di ijabah jadilah paket komplit untuk minta sebanyak-banyaknya sama Allah. Itulah kenapa saya senang jalan, ada banyak moment untuk saya berbagi banyak hal soal hati sama Yang Punya Hati
Kemudian saya ralat omongan saya : Umm, saya tidak akan pensiun dari rutinitas seru dan mengasyikan yang memang sudah orang tua saya didikan kepada saya sedari kecil, mereka mengenalkan saya soal pantai, gunung, sawah, terlalu sayang kalau pensiun dini, toh jalan-jalan tidak harus bermakna pergi naik gunung. Berkunjung ke sanak keluarga, kerabat, sahabt juga terhitung jalan-jalan kan? Datang atau ngisi seminar bersama *itu juga bisa terhitung jalan-jalan kan*? Semua kan tergantung dari sudut mana kita lihatnya toh? Yaudahlah yaa… Travelling never ending.
Termasuk jalan-jalan mencari orang yang tepat juga bisa kan? *eh*
Dimanapun kamu semoga hari-harimu selalu bersemangat dalam kebaikan yaa. Aamin
Sadar atau gak, kalimat terakhir ini juga akhir dari perjalanan kedua mata kalian terhadap tulisan ini loh, jadi jangan lupa mengaminkan doa-doa dalam rangkaian perjalananmu tadi yaa setulus-tulusnya hahaha. Aamin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...