Langsung ke konten utama

Tiga Cinta



Takdir bertemu
Terjalin asa cinta empat pasang mata

Satu visi
Menapak setiti demi setiti sekolah kehidupan
Janji bersama untuk sebuah angan
Dalam lelah perjalanan
Keringat perjuangan
Tangis kerinduan
Senyum kebanggaan
Menguatkan hati, menguatkan langjah

Yang terkasih, Tiga cinta di tiga kota
Walau raga tak selalu sampai pada pelabuhanmu
Aku yakin kau selalu ingat
Bahwa mutiara akan tetap jadi mutiara
Dan kebenaran pun akan tetap benar
Seperti benarnya ikatan ini karena Nya

Hey, kamu!
Pada tanah tempatmu berpijak
Teruslah mendewasa
Berjanjilah untuk memegang kuncinya
Menjaga, mendoa, menularkan kebaikan

Padamu tiga cinta
Pejuang panji kebenaran
Kecup manis petualangan dan ujian rindu
Tenanglah teguhlah
Jannah Allah pasti untuk kesabaran

Andai ada satu cara untuk menatap bersama senja kala itu

*Sahabat ialah ia yang berani menunjukkan dan menegakkan kebenaran. Menyayangimu sahabat karena sang pemilik Kasih Sayang*



 "Sampai kapanpun, aku adalah sahabat kalian. Begitu juga sebaliknya. Bagaimana hendak kulepaskan? Sesuatu yang melekat dalam doa-doaku"

Kaki-kaki ini sekarang menjejak di empat kota. Ciamis, Bogor, Solo, Jogja. Bagaimana bisa berpisah padahal mudah saja dulu Allah pertemukan kita di sebuah kota. Kalau tidak karena Rabitah yang setiap hari kita lantunkan, entahlah apa yang akan terjadi saat ini.Semoga ketika memang tidak lagi di dunia kita bersenda gurau bersama tapi kita diperkenankan bertemu lagi di muara tujuan kita. "Pegang teguh kuncinya, ya"

Teruntuk wanita-wanitaku, Sakinah Fithriyah, Nurul Latifah, Rina Arifani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...