Langsung ke konten utama

Hati yang Menang



Hati yang Menang
Oleh : Titis Sekti Wjayanti

27 Ramadhan pukul 08.00 WIB
“Eh, mbak Rasna pulang” kata Bulik Yanti.
“Oalah, cah ayu teka1, naik apa, Ras?” tanya Pakde Tukang Sayur
“Masya Allah, sudah besar kali anak Pak Slamet sekarang” ujar Ummi Umar
“Rasna, pulang. Mampir sini ke rumah Mama Cia” sambut Mama Cia
Ku balas semua perkataan mereka tentang kedatanganku dengan anggukan dan seulas senyum. Semua masih mengenalku dengan baik. Alhamdulilah. Aku pamit dari kerumunan beberapa tetangga di depan rumah, kemudian masuk ke dalam rumah. Aku ucapkan salam terbaik teruntuk Ibu, Bapak, Adik, dan Kakak perempuanku. “Assalamualaikum”. Aku sambangi mereka satu-persatu di sudut-sudut ruangan tempat mereka berada. Ibu tersenyum saat ku cium tangannya takzim. Bapak berujar “Anakku, wedok mulih2”. Adikku langsung menyerbu kardus kecil yang aku jinjing sejak kedatanganku sambil bertanya “Bawa apa, mbak?”, dan Kakakku yang cuek saja melihat aku datang, kemudian mengingatkanku untuk beristirahat. Aku mengamati kondisi rumahku. Kucing-kucing ibuku sekarang ada delapan ekor. Rumah mulai bocor di sana-sini. Cat tembok mengelupas. Rindu ini seketika mati. Terbayar lunas atas penantian panjang. Begitulah janji Allah bagi orang-orang yang bersabar. Usai berkeliling rumah, aku menyegerakan untuk membersihkan diri, membenahi barang-barang bawaan, dan beranjak tidur melemaskan tulang punggung akibat duduk selama 17 jam.

Kejadian 1
 27 Ramadhan pukul 18.45 WIB
“Dar! Der! Dor! Hahaha lagi Ki, nyalain3 lagi Ki.” ujar Yazid
“Kikiiii main petasan mulu lu yak, cepetan berangkat tarawih! teriak Asep gusar.
“Bentar lagi, Ncang4. Dua lagi nih”
“Ampun dah ini bocah, duit dibakarin mulu, kenyang emang lu sama petasan?”
“Yaelah Ncang, kayak kagak pernah muda aje” kata Kiki
“Iya Ncang anak muda, nih” timpal Yazid.
“Dibilangin malah pada ngejawabin semua lu. Udah sono berangkat tarawih, gue sambit5 nih satu-satu!” seru Asep sambil mengangkat sebelah sandal jepitnya.
“Iyaaaa Ncang, ini berangkat. Kabur, Ki. Hahaha. Dadah Ncang” pamit Yazid sambil berlari dan melempar petasan terakhir tidak jauh dari posisi Asep berdiri.
Dor!
“Astagfirullahaldzim, Yazid, Kiki, awas ya lu berdua!”

Kejadian 2
28 Ramadhan pukul 09.00 WIB
Dinda dan Tiara, dua gadis kelas tiga Sekolah Dasar Negeri Inpres. Pada waktu tertentu mereka bertengkar namun di waktu lainnya mereka saling menyayangi satu sama lain. Selayaknya anak kecil seusianya, baju baru selalu menjadi topik perbincangan menarik di kalangan mereka di detik-detik menjelang lebaran.
“Dinda, aku udah beli baju baru dong” kata Tiara.
“Ih norak6 banget sih lu Tiara. Gua juga udah beli kali” jawab Dinda.
“Aku dibeliin empat pasang dong sama Ayah, kemarin ke PGC, sama sepatu juga. Warna merah, hijau, biru, dan ungu” pamer Tiara.
“…” (Dinda diam sejenak)
“Ayaaaaah, Tiara baju lebarannya empat pasang, masak aku cuma dua sih” teriak Dinda sambil berlari masuk ke dalam rumah mencari Ayah. 


Kejadian 3
28 Ramadhan, 19.15 WIB
Taman Kanak-kanak itu beralih fungsi menjadi tempat solat tarawih berjamaah bagi para ibu selama bulan Ramadhan. Dua puluh rakaat solat tarawih ditambah tiga belas rakaat solat witir di tiga malam terakhir Ramadhan. Suara Hj. Anah saat menjadi Imam solat kami selalu syahdu didengarkan. Entahlah apa penyebabnya. Lantunan suaranya khas, menyejukkan hati. Tinggal tiga saf, itupun hanya berisi para sesepuh kampung yang sudah memiliki minimal 3-5 orang cucu. Lima belas tahun berlalu. Polanya selalu sama. Ramai di awal, sepi di akhir. Hanya anak-anak kecil yang semakin ramai berdatangan hanya untuk meminta tanda tangan buku Ramadhan sambil sesekali membuat kegaduhan, menguji kekhusyukkan para jamaah. Mereka selalu menggemaskan.
“Ayo Ibu-ibu pada gantian, masa dari dulu saya terus yang jadi imam solatnya” kata Hj. Anah seusai solat.
“Belajar jadi imam ayo, biar nanti kalau saya dipanggil yang Maha Kuasa, saya tenang, majlis ta’lim ada yang ngisi” Hj. Annah menambahkan.
Hidup hanya sebuah siklus. Sehat, sakit, muda, tua, hidup, dan mati. Sudah siapkah kami saat tak ada lagi imam solat dengan lantunan suara yang menyejukkan hati? Ketika yang muda sibuk bekerja, membanting tulang, pulang keletihan, masjid-masjid sepi. Maka, kemana lagi kami mencari sesosok pemimpin?

Kejadian 4
Ramadhan 29 pukul 05.00 WIB
Dua ratus ekor ayam. Alhamdulilah. Pesanan ayam pada saat lebaran selalu melonjak setiap tahunnya. Rezeki bagi keluarga kami dalam mencari berkah dunia.  
“Ini dianter ke Pak Budi ya, Pak”
“Ini ayam bumbu ungkepan Bu Bambang, ya”
Hiruk pikuk keluarga kami setiap satu hari menjelang hari Raya Lebaran. Aku, Kakak, dan Adik membersihkan ayam sampai bersih sehingga tidak ada bulu yang masih menancap di tubuh ayam, membersihkan ati dan ampela, bapak membersihkan usus, ibu memotong ayam, dan orang-orang datang ke rumah kami silih berganti. Semua bekerja, bahu-membahu. Tak apalah, kami menunda baju baru, ketupat sayur, dan segala macamnya, asalkan kebersamaan terus membumi di rumah kami.
“Nduk, nanti malam kita beli mie ayam ya” kata Bapak.
“Asiik”

Ramadhan 29 pukul 21.00 WIB
Allahu Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar!
Suiiiiing, duar! Dar der dor!
              Gema takbir dan bunyi petasan bersahut-sahutan. Aku menatap langit. Perpaduan bintang langit dan kembang api selalu menjadi kombinasi mewah.  Aku  duduk di balkon belakang rumah, berteman secangkir kopi susu. Menghelas nafas, memutar kenangan. Tiga hari berlalu sejak kedatanganku ditambah tiga tahun merantau di kota lain, banyak hal berubah di kampung ini. Pemukiman semakin padat. Generasi terus berganti. Pohon kecapi Engkong7 tinggal tiga, pohon sawo sudah tidak ada, pohon rambutan samping rumah sudah lama di babat, pohon belimbing masih berbuah lebat. Banyak wajah baru di sekitar rumah kami namun, rutinitas di rumah ini sepuluh tahun terakhir masih sama. Tak pernah lagi kami merasakan euforia mudik lebaran. Ya, hidup memang seperti sebuah roda, adakalanya di atas dan di bawah. Harga mutlak kehidupan.
               Aku membayangkan wajah orang-orang yang aku sayangi. Bapak, Ibu, Adik dan Kakak perempuanku. Wajah kenyang setelah makan mie ayam sekaligus wajah lelah setelah seharian bekerja. Malam penghabisan. Tak terasa air mataku menitik. Ada banyak rasa berkecamuk di dada ini. Entahlah. Berpisah dengan Ramadhan, kembali ke rumah, beristirahat sejenak dari rutinitas menjadi kesempatan mahal bagiku untuk mengingat semua rekam jejak perjalanan. Akankah tahun depan aku bertemu dengan Ramadhan lagi? Masihkah aku merayakannya di kampung ini? Apakah Bapak, Ibu, Kakak, dan Adik masih membersamai? Bagaimana dengan bisnis ayam potong keluarga kami? Siapa imam solat Tarawih selanjutnya? Perbincangan tentang baju baru antara Dinda dan Tiara? Fiuuuh ku hembuskan nafas. Ku hapus air mata kemudian bangkit dari dudukku. Malam ini kemenangan. Ya, berharap kemenangan atas naik derajatku di mataNya. Ku pejamkan mata, ku katakan dengan suara lirih : Ya Allah izinkanlah kami suatu hari nanti berkumpul bersama orang-orang solih, menjadi salah satu orang yang Engkau ridhoi sebagai pemenang sejati.
              Sebelum bergabung tidur bersama tubuh-tubuh yang memenangkan hati ini, kunyalakan MP4, ku mainkan lagu Bryan Adams-This is Where I Belong
“and wherever I wonder. The one things I’ve learn. It’s to here I’ll always return. It’s to You, I’ll always return”
Malam ini, kami memenangkan Ramadhan dengan cara kami, berharap besok pagi adalah pagi terbaik dari lahirnya hati-hati yang menang.

Cawang, 1 Agustus 2013

Catatan :
1.      Cah ayu, teka = Anak manis datang
2.      Wedok = perempuan, mulih = pulang
3.      Nyalain = Bahasa slang dari menyalakan
4.      Ncang = Panggilan pengganti Om dalam bahasa Betawi, khususnya untuk saudara tertua Ayah dan Ibu
5.      Sambit = bahasa slang kata pukul
6.      Norak = bahasa slang yang menandakan sifat berlebihan
7.      Engkong = Panggilan Kakek dalam bahasa Betawi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...