Langsung ke konten utama

Have a Great Fifteen, Ayu

We’re the world | we’re the children | we’re the one who make brighter day | so, lets start giving


Hi, kamu.
Ya, kamu! Kamu yang bikin kesel, bahagia, khawatir dan macam-macam rasa lainnya. Kamu juga teman berantem yang paling bikin kangen. Kamu yang katanya ingin bermanfaat untuk orang lain. Kamu yang lebih suka nyanyi-nyanyi di depan kaca daripada belajar. Kamu yang suara teriaknya nomor satu di rumah. Kamu yang ingin naik gunung. Kamu yang suka cerita-cerita. Begitu juga kamu yang suka marah tiba-tiba.

Kamu tahu tidak? Kata bang H. Rhoma Irama : Masa muda, masa yang berapi-api. Maka, semoga MAN 13 Jakarta menjadikan kamu muslimah yang tangguh dengan masa muda mengesankan. Waktu-waktumu berisi hal-hal baru yang kamu ingin coba dengan selalu memegang teguh batasan yang Allah sudah tetapkan. Boleh berteman dengan siapapun, namun ingat prinsip, menjaga hati dan sikap sebaik-baiknya.


Pencarian Jati Diri
Masa SMA adalah masa pencarian jati diri. Pandai memilah. Senangi berkumpul dengan orang-orang pandai dan sholeh. Sibukkan waktu dengan hal-hal baik yang prestatif. Prestatif di mata bapak, ibu juga Allah. Berpetualang dengan BERANI, mengenal banyak kawan, menemukan banyak makna meniatkan untuk mencari ILMU. Setidaknya, berpetualang bukanlah perbuatan dosa atau kriminal. Tapi salah satu cara efektif untuk merasakan kehadiran Allah dan belajar mensyukuri nikmat Allah. Allah bersama orang-orang yang berani dan yakin (beriman).

Cinta
Cinta? Fitrah manusia kan untuk mencintai dan dicintai. Kata Ibu : “Jodoh itu gampang, kalau kita rajin, kita pandai, nanti akan banyak yang datang ke rumah. Tinggal pilih”. Mencintai itu menjaga. Menjaga hati sampai pada waktu dan orang yang tepat. Laki-laki yang mengaku mencintai kamu adalah laki-laki yang tidak mengumbar janji-janji kehidupan masa nanti, tapi yang menjaga kodrat perempuan. Bohong deh kalau ada yang bilang cinta tapi suka pegang-pegang, suka bilang sayang sama kamu tapi minta pacaran, itu mah tandanya dia sayang kamu tapi tidak sayang Allah. Serem kan? Gak keren banget pokoknya laki-laki kaya gitu. Eits, tapi kamu harus tahu tentang janji Allah bahwa perempuan baik hanya untuk laki-laki yang baik begitu juga sebaliknya. Kamu pilih yang mana?

Teman
Semenjak masuk SMA, pasti kamu merasa ingin jadi yang paling dimengerti, diakuin, dipahami. Sesekali suka merasa kalau Bapak, Ibu, Mbak Febri, Mbak Tis menyebalkan. Inginnya main terus sama teman-teman. Cepat bosan di rumah. Kalau sudah begitu. Coba kamu ingat-ingat, kalau kamu main terus, kemudian kamu sakit. Siapa yang ada disamping kamu? Pijetin kamu, anterin kamu ke dokter, suapin kamu, dan membuatkan secangkir teh. Bukan teman-temanmu yang kamu bangga-banggakan itu kan? Bahagia dan sedih itu harus selalu kembali ke rumah. Sebagaimanapun berkeluh kesah, berbicara dari hati ke hati dengan Ibu, Bapak, Mbak Febri, Mbak Tis harus selalu menjadi kebiasaan.

Cita-cita
Ingat film Lima Elang? Buku 5 cm? Film-film lain yang pernah kita tonton bareng itu banyak inspirasinya. Ingin jadi apapun kamu nanti, selama pondasinya untuk bermanfaat lebih kepada orang lain, cukuplah bagi kami yang menyayangimu.

Lima belas tahun membersamaimu itu sesuatu. Seperti baru kemarin mengajakmu main sepeda, mengajarimu naik sepeda, mengantarkan ke TK, mencarikan SD, mengambil rapport, dan sekarang kamu yang punya banyak adik-adik di sekolah, di rumah. Semoga berkah ilmunya, pengalamannya. Dewasa bukan soal umur. Selamat mendewasa dan tetap saling menggenggam. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...