Langsung ke konten utama

Memori yang Terserak [1]


Untuk Seminar Kesehatan Mental tentang anak-anak,
judulnya terima kasih ayah, ibu, dan indonesia
masa depan mereka sebagai generasi yang sehat, kuat, tangguh
terimakasih sudah peduli

matahari dan cahayanya di pagi hari
biar secerah merekam
ingatan kisah pemilik negeri
saat sehat setara tidak lapar
cerdas semakna bisa bicara
senyum sebatas rasa kenyang
membayang baca tulis tidak terperi
memimpi sandang putih apalah pantas
retaknya budi penebus isapan jari

malam apabila menutupi cahaya siang
terpejamlah dari puas mencuri
tidurkan mimpi mencelakai demi berpunya
rebahlah angan yang berharap tanpa usaha

usai lalu mulai
segan meminta katakan saja berharap
setiap jalan bertemu pada tujuan
seperti tulisan butuh papan, ilmu perlu buku
pintar bermula belajar

hingga tidak ada biji yang subur tanpa air
kesadaran ini berbuah melalui perjuangan
denganmu perubahan terjadi tidak sendirian
bersamamu pergerakan muncul karna keberanian

sambutlah pesan generasi
berangkat dari ketulusan hati
tangan perkasa pemuda lahirkan kepedulian
semangat pendidik leburkan dinding-dinding ketertinggalan
karna nasib bangsa dititipkan bukan untuk diulang, tapi diteruskan

kepada orang tua
anak mengenal, bisa itu karna memulai
ayah membimbing kami dari rasa takut menjadi keoptimisan
ibu memahamkan kami berbagi itu tidak mengurangi

kepada kakak
adik mengambil teladan, tumbuh itu karna dijaga

kepada guru
murid belajar memberi, yang baik itu untuk ditiru
bahwa tidak ada batas berhenti kecuali ujung usia kami

kepada kawan
tangan bergenggam, berhasil itu tersenyum bersama

kepada bangsa dan negara
generasi ini bertahan mengisi dengan karya

maka biar degup ini berwujud langkah
bersama kibar sangsaka selagi bangsa menyuara
menghentakkan kaki kecil ini memanjat asa
kerikil yang menjadi gunung perbaikan masa
bersama..kami sehat,
kami kuat,
dan kami tangguh,
untukmu indonesia!!

Karya : Tutut Rahmawati | Psikologi UNS 2008|

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...