Langsung ke konten utama

Perdana Menteri dan Tukang Dayung #Skripsweet 1



Setibanya dikampus. Tertangkaplah satu sosok yang teramat saya rindukan langkah kakinya menuju ruang-ruang kelas. Bu Menik. Begitulah panggilan akrab beliau. Pendidikan doktoral di UGM menuntut beliau untuk fokus dan mengambil cuti mengajar  serta menjadi pengampu skripsi. Otak saya bekerja cepat membawa langkah semakin dekat pada keberadaan beliau.
“Ibu”, salam saya sembari mencium tangan beliau takzim. Kemudian saya tersenyum. Beliau pun membalas senyuman saya.
“Kamu yang kemarin sms ya, dek? Gimana skripsimu?”, tanya beliau.
“Duh kapan ya ada waktu ngobrol”, tambah beliau.
...
Cerita saya pun mengalir spontan mengenai ide yang selama ini membenak. Kegelisahan dan semangat saya akan sebuah isu mengenai lingkungan hidup serta pecinta alam. Masyarakat Mesen sepertinya juga paham soal ketertarikan saya kepada hal-hal tersebut. Seperti beberapa dosen yang saya ajak berbagi soal ide saya tersebut alhamdulilah respon beliau pun sama : antusias. Diskusi pun mengalir ringan agar saya membaca beberapa jurnal. Ah senangnya. Beliau adalah salah satu rujukan saya dalam membaca karya-karya tokoh. Memilah buku penting bagi saya agar tidak membuang-buang waktu membaca buku yang belum tentu termaktub kebenaran.
Sebelum mengakhiri jumpa, beliau berkata,”Dek, kamu tahu cerita soal perdana menteri dan tukang dayung?”
“Belum, bu”
Beginilah ceritanya...
Suatu hari Raja melaksanakan tugas negara ke pesisir pantai. Malam harinya, Raja memerintahkan Perdana Menterinya untuk melakukan patroli ke seantero pesisir memastikan lokasi dalam keadaan terkendali. Seketika itu juga, berangkatlah Perdana Menteri melaksanakan titah Raja.
Jeda sejenak setelah Perdana Menteri pergi. Raja mendengar suara anjing yang tidak berhenti melolong. Kebetulan berpihak, Raja melihat tukang dayung didekatnya. Dipanggilnya tukang dayung tersebut, kemudian Raja memerintahkan padanya untuk melihat dimana suara anjing yang terus melolong itu.
Sekembalinya, tukang dayung melaporkan bahwa keberadaan anjing berjarak 200 meter dari lokasi. Raja bertanya, “Kenapa anjing itu terus melolong?”
Pergilah lagi si tukang dayung menengok si anjing.
Sekembalinya, tukang dayung melaporkan bahwa anjing tersebut melolong karena baru saja melahirkan.
Raja kembali bertanya,”Berapa banyak anaknya?”
Pergilah lagi si tukang dayung menengok si anjing.
Sekembalinya, tukang dayung bertutur,”Anaknya berjumlah 3 ekor.”
Raja kembali bertanya,”Apa warnanya?”
Dan si tukang dayung kembali lagi menengok si anjing. Hal yang sama berulang setiap kali Raja mengajukan pertanyaan baru kepada si tukang dayung. Setelah Raja merasa cukup dengan infomasi, Raja mengucapkan terima kasih. Si tukang dayung pun melanjutkan aktivitasnya.
Tak lama setelah itu, Perdana Menteri kembali dari patroli yang dilakukannya. Perdana Menteri melaporkan segala hal yang ditemuinya termasuk anjing yang terus melolong, apa penyebabnya, jumlah anaknya, warna anaknya. Perdana Menteri menjelaskan sampai sedetail-detailnya sehingga pertanyaan yang Raja ajukan kepada tukang dayung, terijawab sempurna oleh Perdana Menterinya.
...kemudian beliau bertanya,”Kamu mau jadi yang mana? Tukang dayung atau Perdana Menteri?”
Peneliti itu seperti seorang Perdana Menteri. Dia mampu menjelaskan dengan detail penelitiannya bahkan sebelum orang lain mengajukan pertanyaan. Jadilah seperti Perdana Menteri.
Terima kasih, Bu Menik inspirasinya.
Kalian harus tahu, kalau dosen-dosen kami di Psikologi UNS adalah dosen-dosen yang teramat keren, terlebih metode pembelajaran yang digunakan. Entahlah. Sekolah memang menyenangkan. Selalu menyenangkan~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...