Langsung ke konten utama

Kucing

Di kampung belimbing tempat saya tinggal, para tetua kampung sering mengatakan "Kucing itu hewan kesayangan Rasulullah SAW". Ketika ada yang menghardik kucing, seringkali kami (saat itu masih kecil) dimarahin habis-habisan oleh Wak Haji. Tetangga saya bahkan memiliki kucing banyak sekali. Heran saya dibuatnya. Namun, keheranan ini belum seberapa dengan yang saya alami sendiri di rumah.

Cerita bermula lima tahun lalu, waktu kami menemukan seekor anak kucing. Ibu menamakannya Cimeng maksudnya si Meng (orang-orang sini memanggil kucing dengan "meng" karena suaranya "meong-meong"). Terdengar unyu. Ibu, kakak, dan adik saya sayang banget sama Cimeng. Saat Cimeng masih sangat kecil Ibu rutin membuatkan susu untuknya. Beranjak besar di belikan ikan segar untuk makan. Pakde tukang sayur belakang  rumah paham betul pesanan Ibu setiap hari. Bermula dari Cimeng kemudian bertambah banyaknya hingga pernah mencapai 11 ekor kucing yang Ibu berikan makan.

Bagaimana dengan saya? Saya adalah orang terbawel di rumah, karena kucing-kucing itu kadang membuat rumah kotor lagi setelah saya bersihkan. Walaupun saya juga senang mengajak kucing-kucing itu bermain tali. Muka-muka mereka menggemaskan sekali.

Suatu sore, sepulang dari sekolah. Saat itu saya sedang sangat capek karena beban akademik. Ketika mendapati pulang ke rumah dan rumah dalam kondisi berantakan jadilah kucing-kucing itu saya marahi. Kemudian, marah itu terdengar oleh Ibu saya. Ibu memanggil saya, mengajak saya bicara.

"Kamu kenapa pulang sekolah marah-marah begitu? Kalau capek ya makan, terus tidur, bukan marah-marah."
"Itu berantakan rumahnya, Bu"
"Ya nanti bisa Ibu bereskan, kalau kamu capek"

kemudian Ibu menasehati
"Ibu sedih kalau kamu marah-marah begitu sama hewan. Kan Ibu juga gak pernah membeda-bedakan sayang Ibu ke kalian dan kucing. Semua Ibu sayang, Ibu kasih makan, Ibu perhatikan. Tis, siapa yang tahu kalau rezeki Allah untuk keluarga ini datangnya dari kucing-kucing itu?"

kemudian mata saya berkaca-kaca.

"Maafin tis ya, Bu"

Dengan besar hati Ibu bilang, "sekarang kamu makan, istirahat. Nanti kalau sudah tenang, kita bicara lagi".
Berjalanlah saya ke kamar. Adik saya mengintip. "Kenapa mbak?", saya berkata kepada adik saya "Yu, Cimeng kemana? Cariini, mbak Tis mau ketemu" (sambil nangis). Pergilah adik saya mencari Cimeng.

Terima kasih Cimeng :)
Hari itu saya belajar dari kucing dan tentu saja kebijaksanaan Ibu.
Sekarang Cimeng sudah tidak ada, Cimeng mati karena sakit. Saat Cimeng mati, rumah saya penuh dengan air mata. Di telpon pun Ibu bercerita sambil menghela nafas.

Ahh iya, rumah saya ini. Walaupun sederhana, atapnya pun bocor tapi selalu banyak hikmah yang saya ambil dari orang-orang yang ada di dalamnya. Jadi, kalau kamu punya kucing, seperti pesan Ibu. Sayangi kucingmu, kita tidak tahu darimana rezeki Allah datang. Siapa tahu dari seekor kucing, kita bisa melakukan mengumpulkan koin-koin kebaikan pun dengan hewan-hewan lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...