Langsung ke konten utama

Obrolan Meja Makan [1]

Kalau kau suka makan bilang saya
Saya!

Meja makan adalah tempat favorit yang dikunjungi begitu masuk kamar dan selesai berbenah diri sepulang dari sekolah. Siang itu, seperti biasa rumah lengang. Bapak mengantar pesanan, kakak kerja, adik main. Menyiduk nasi sajalah. Melengkapi lauk eeh ada suara "Assalamualaikum" khas suara Ibu

"Ibu udah pulang jualan? tumben"
"Iya, Alhamdulilah ramai hari ini"

Kebiasaan di rumah kami adalah membagikan kejadian apa saja yang kami temui selama di sekolah atau tempat kerja bersama Ibu. Seletih apapun Ibu sepulang jualan, selalu tersisip 'sempat' bagi kedua telinga Ibu mendengar celoteh kami.

Kebetulan! Moment yang pas untuk mengadu keluh kesah di Sekolah. Hanya kami berdua

"Bu, masa ya tis diancam gak naik kelas kalau ikut lomba (dulu ada suatu lomba yang memang agak pelik untuk diikuti, karena pelatihnya juga agak-agak gimana gitu). Gimana coba bu muridnya ikut lomba gak boleh? Ibu ke sekolah ya, belain titis"
"Ngapain Ibu ke Sekolah?"
"Belain tis lah bu biar naik kelas sama ikut lomba"
"Lah yang sekolah siapa? Yang ikut lomba siapa? Kok Ibu yang diminta ke sekolah. Emang Ibu yang Sekolah"
"Ish, Ibu nih gak kaya orang tua temen-temen aku, ke sekolah belain anaknya kalau ada apa-apa"
(pasang muka bete sambil makan)

"Lah yang sekolah siapa, Ibu tanya? Kenapa Ibu yang harus tanggung jawab? Yang memutuskan siapa waktu itu? Terserah titis pokoknya. Ibu kan tugasnya nyekolahin kamu udah besar, udah tahu mana yang terbaik buat titis"

Jleb!
[meja makan hening]

"Yaudah ah, Ibu mau ke dapur"

Ibu ngeloyor pergi. Jadilah si anak cemberut sambil makan dan berpikir.
Ahh, Ibu. Obrolan meja makan itu sangat mendidik. Ya, mendidik akan nilai-nilai tangggung jawab.
Terima kasih, Ibu


Menanti waktu pulang untuk kembali bercengkrama di meja makan sama Ibu :')


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...