Langsung ke konten utama

Orang-orang yang Berjalan Cepat

Pagi. Langit masih muram sejak kedatanganku pukul 02.30. Ku lirik handphone dalam tas. Waktu menunjukkan pukul 04.30. Tak terasa, sudah dua jam aku tertidur di bangku stasiun dalam posisi duduk sambil memeluk tas. Stasiun sudah ramai pengunjung. Ahh... lekaslah menunaikan kewajiban dulu sebagai seorang hamba.

"CL ke Depok, mas" ujarku kepada petugas
Ku ulurkan lembaran biru yang kumiliki, ku amati kartu itu dengan saksama. Sistem perkereta-apian di kota ini semakin baik pelayanannya.
"Mbak, kalau udah minggir, gantian" kata salah seorang laki-laki di belakangku.
"Oh iya, maaf" kataku
 Berhentilah melamun batinku.

Pagi masih sangat belia. Di kota perantauan, mungkin aku masih mengerjakan pekerjaan "rumah" belum beraktivitas di luar kos. Memasuki peron, ku amati sekeliling. Hampir sebagian besar berjalan menunduk dengan langkah kaki terburu-buru. Beberapa di antaranya menyumpal telinga dengan headset. Entah lagu apa yang sedang mereka dendangkan. Aku mengulum senyum. Membatin.

Empat-tujuh tahun yang lalu, aku sama dengan mereka. Tak ada beda. Bangun pukul 04.00. Bersiap-siap, pukul 05.15 berangkat ke sekolah. Berjalan tergesa-gesa. Berlomba dengan waktu agar tidak terlambat masuk sekolah. Sesekali berkejaran dengan bus sekolah. Terlambat lima menit saja, berakibat fatal akan panjangnya kemacetan yang akan aku dapatkan. Suara klakson bersahut-sahutab. Beragam kata makian. Kalau hari itu terlalu melelahkan aku lebih memilih duduk di pojok angkot kemudian tidur daripada menikmati keruwetan. 

*suara pengumuman* 
Keretaku hampir berangkat. Aku berjalan cepat, menabrak beberapa orang. Senjataku hanya "maaf". Lagi-lagi terlalu banyak memori otakku bernostalgia dengan hiruk pikuk kota ini. Nyaris saja aku tertinggal kereta lagi.

Manggarai yang ramai. Aku duduk saja di jalanan karena bangku sudah padat dengan orang-orang. Ku amati lagi orang-orang yang gelisah karena kereta belum kunjung datang. Ah iya, aku masih bisa mengeja rasanya, menanti sesuatu yang tak kunjung datang. Begitu keretaku tiba, aku duduk memejamkan mata.

Kata orang, kota ini keras. Ya, benar. Kota ini yang mengajarkan berharganya waktu, kesempatan, dan kesiapan. Kota ini juga yang mengajarkan manajemen diri yang baik, kepercayaan diri. Bagaimanapun wajah kota ini nanti, ia sudah punya tempat khusus pada seonggok daging yang aku miliki. 

Akhirnya UI...
Ku langkahkan kaki mantap. Sebentar lagi rumah. Gerimis menemani langkah kaki meloncati banyak kubangan. Aku berjalan di pinggir, mempersilahkan orang-orang yang aku temui untuk berjalan secepat-cepatnya. Semoga waktu berjabat tangan denganmu hari ini, kawan.

Kamu tahu? Kalau kamu ingin belajar berharganya waktu yang kamu miliki. Cobalah satu minggu di kota ini. Ada banyak hikmah yang terserak. Itupun jika kamu mau menjadikannya sebagai hikmah. Hujan, berkahilah Ibukota kami.

Selamat pagi Jabodetabek. Sampai jumpa lagi, dengan langkah kaki yang terburu-buru!
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...