Langsung ke konten utama

Rumah

Lebih baik disini rumah kita sendiri, segala nikmat dan anugerah yang Kuasa. Semuanya ada disini (Rumah Kita)
and wherever i wonder, the one thing i've learn. It's to here, i'll always return (This is where i belong, Bryan Adams)

Tahukah rasanya berlayar di birunya lautan kemudian kau kembali melihat bentangan warna hijau? Kembali mendarat. Begitulah rasanya pulang, Kapten.

Hari-hari bahkan menit-menit menuju pulang merupakan waktu-waktu yang panjang, namun ada banyak sekali kejutan. Sebuah artikel di koran Joglosemar, telpon salah satu staff Kemenpora, akreditasi. Fiuh, rasanya saya sudah mengatur penyelesaian deadline dengan sebaik mungkin untuk pulang. Tapi...selalu ada kejutan sebelum saya pulang. Ada apa dengan Solo dan hidup saya? -___-

Kemarin, hampir saya ketinggalan kereta karena sibuk dengan handphone sampai tidak sadar kalau keretanya sudah datang. Di kereta, berkali-kali saya telpon salah seorang adik tingkat sampai tidak fokus dengan teman duduk saya. Malamnya, memejamkan mata pun sulit rasanya. Setibanya di stasiun Jatinegara, pagi masih sangat belia, akhirnya saya menunggu kereta menuju Bogor sampai ketiduran dengan posisi duduk dan kepala memeluk tas. Sempat kesal dengan petugas yang tidak mau membuka mushola.

Setibanya kereta, diumumkam bahwa bagi orang-orang yang akan menuju Bogor untuk transit di stasiun Manggarai, sesampainya di Manggarai kereta menuju Bogor ditunda karena banjir. Saya duduk ditemani seorang Ibu asal Bojong Gede yang bercerita soal kehidupan dan anak-anaknya. Sesampainya di stasiun UI, langit mendung. Hujan. Orang-orang berjalan dengan langkah kaki terburu-buru. Kota ini selalu cepat berubah.

Di rumah, hanya tinggal Ibu dan Bapak. Mengecup tangan mereka takzim, mencium Ibu. Sedih rasanya adik dan kakak saya sudah berangkat menuju sekolah dan temat kerja sejak pukul setengah enam pagi tadi. Kemudian saya berbenah. Waaaah, alhamdulilah nikmatnya di rumah. Saya biarkan handphone dalam keadaan mati.

Sore, saya sapa beberapa tetangga saya. Bulek, kiki, kakak Cia, mama Cia, Bang Sobri. Aah, Betapa mereka masih mengingat saya dengan baik. Eeeeh mbak Titis pulang...

Malam. Ruang keluarga. Berkumpul semuanya. Adik saya menjajah saya dengan cerita-ceritanya. Kalau tembok rumah kami bisa bicara barangkali ia akan menimpuk kami karena kami terlalu banyak berceloteh disana. Beruntungnya tembok itu selalu jadi pendengar yang baik. Well, waktu-waktu di ruangan inilah yang selalu jadi obat rindu bahkan yang membuat saya rindu untuk pulang. Kelak, di rumah masa depan saya, ruang keluarga adalah tempat yang saya ingin atur sedemikian hebatnya untuk suami dan tentu saja buat abang, kakak, adek (calon anak-anak saya). Ada banyak buku disana, mereka bebas bercerita apa saja. Kemudian sama seperti di ruang keluarga ini saya akan menjadi pendengar celoteh mereka. Hmm, kali ini kau tembok! Kau tidak menjadi pendengar seorang diri.

Ah iyaaa, Semoga Solo dan deadline yang terjeda, bersabar sejenak untuk saya menuntaskan bakti sebagai seorang putri.

Malam ini hujan. Semogaa rumah kami hari ini ataupun di masa depan selalu Allah limpahkan dengan keberkahan :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...