Langsung ke konten utama

Tempat Sampah

Hari ini aku bercerita. Soal ruang yang selama ini Dia beri. Polanya sama : kosong - isi - kosong - isi begitu seterusnya. Silih berganti yang menempati. Tak peduli banyaknya detik yang terlampaui. Bagi sebagian orang, ruang itu teramat berharga. Ruang inspirasi yang terserak. Tapi, bagi sebagian lainnya ruang itu hanya sebuah tempat singgah biasa. Aku menyebutnya seperti sebuah buku, setengah kosong, setengah isi. 

Ruang itu adalah sebuah lubang dengan diameter beragam tempat semua orang memasukkan yang disebutnya sampah. Menurut Wikipedia sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Apa selamanya sampah berarti sisa dari suatu proses? 

Umm mari kuceritakan lebih lanjut...
Tahun lalu, temanku berjalan. Menepi pada sebuah tempat pembuangan sampah. Dilihatnya segulung kertas. Dibacanya. Dimaknainya. Cintalah iya akan makna yang terkandung di dalamnya. Disimpannya.
Belum lagi orang-orang cerdas yang bisa memanfaatkan "sampah" dengan bijaksana. Botol-botol dikumpulkan. Jadilah karya bernilai jual.

Awal tahun 2011, saat tiba kesempatan menorehkan jejak di Hargo Dalem, aku menemukan rumah botol. Ini buktinya!

Foto diambil saat pendakian tahun 2011
Orang-orang gunung itu, yang harus menempuh waktu 3 - 5 jam menuju rumah mereka, tanpa mengenal teori kecerdasan ekologis apalagi kenal dengan Daniel Goleman lihat apa yang mereka berikan pada semesta. Bahkan mereka sangat bertanggung jawab melebihi "janji" yang sering digaungkan para penakluk alam.

Kemudian...beralih pada tempat sampah itu sendiri.
Tanpa 'tempat', bagaimana 'ruang' akan ada? Maka aku akan menulis soal filosofi tempat sampah.

Filosofi tempat sampah ini adalah inspirasi dari lontaran asal sahabat-sahabat  terbaik. Begini lontarannya "Menjadi tempat sampah seorang psikolog itu tidak mudah" atau "Terima kasih, Titis karena sudah menjadi tempat sampah yang baik".

Aku? Tempat sampah? Bukan sembarang tempat sampah. Sampah yang aku tampung adalah sejuta macam rasa berbeda. Kadang manis, pahit, asam, pun asin. Modalku hanya 'ruang' untuk mereka bercerita. Apa saja. Sesuka hati. Buang saja! Sesekali saat mereka membuang sampah-sampahnya aku timpali dengan senyum, air mata, bahkan tawa terbahak. Kemudian aku menghimpun sampahnya. Menjadikan sampah-sampah itu menara. Menjulang. Berharap hikmahnya aku pahami. Justru dari sampah-sampah itulah ruangku dari hari ke hari semakin besar dan luas.

Kamu tahu? Itulah kenapa jatuh cinta berawal dari mendengarkan. Ya, mendengarkan keluh kesah, canda tawa, ampas-ampas kehidupan.

Ketidakberartian di matanya belum tentu tidak keberartian di mataNya kan.
Semoga, kita selalu menjadi sebaik-baiknya tempat sampah saat ampas-ampas hidup itu datang. Pandai menampungnya, mengambil hikmah dibaliknya

Oh iya! Kamu tahu tidak? Soal ruang itu, umm adakalanya sama seperti hati...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...