Langsung ke konten utama

Akhirnya, Menggenap

Kepada sahabat 'menggila' semasa bangku putih biru. Mulai dari narsis bareng di koridor sekolah. Cerita tentang keluarga 'bego' sama Emeh, Nadira, Mutiara, Amira, Dita, Vemdia dan lain-lainnya. Belum lagi waktu-waktu yang sering kita gunakan untuk sekedar curhat soal kehidupan.

Masih ingat dengan sebutan gembel 1, gembel 2, dan gembel 3? Gue lupa kronologi kenapa dulu kita bisa mencetuskan sebutan itu? Ahh. sudahlah itu tadi hanya pengantar sebelum masuk kepada inti dari tulisan ini.

Del, tiga tahun kita bareng-bareng. Kemudian lepas dari SMP kita memilih jalannya masing-masing. Lo yang ambil sekolah analis kesehatan sementara gue yang milih ke SMA. Lo yang udah kerja, sementara gue masih jadi anak kuliahan. Enam tahun kita 'berjarak', Del. Secara fisik iya, tapi secara hati insya Allah selalu dekat ya? *tsah*. Buktinya? Walaupun gak satu bulan sekali ketemu, tapi kita masih menyisipkan waktu ketemu sepadat apapun urusan kerja ataupun yang lainnya.

Del, waktu kabar itu datang di penghujung tahun 2013 kemarin. Rasanya gue mau cepet pulang dan menguyek-nguyek kepala lo. Bahagia banget dengernya :')

Kemarin adalah hari bersejarah buat lo del. Menggenap.
Iya Menggenapkan agama, menggenapkan rasa, menggenapkan rezeki-rezeki kalian. Kalau jarak Solo - Cibubur itu bisa ditempuh sekelebatan mata, rasanya gue pengen kemarin itu jadi salah satu saksi di hari bersejarah lo. Melihat prosesi yang sangat khidmat itu.

Semoga hanya keberkahan yang Allah limpahkan pada rumah tangga kalian. Sakinah Mawadah Warahmah. Menjadi sebaik-baiknya pendidik buat anak-anak yang Allah titipkan kelak (insya Allah). Seperti kata lo kemarin, Del. Bisa jadi di penghujung tahun ini kita ketemu dan gue sudah menjadi 'tante'. Haha.

Kalaupun raga belum sampai di peraduan, semoga doa-doanya selalu sampai. Have a better life :)
Sampai ketemu lagi, Del. Insya Allah :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...