Langsung ke konten utama

Jingga Pertama Pulau Jawa

Jika jingga adalah awal, dari hari dalam hitungan bulan,
resapkanlah setiap getar energi yang mengalir dari semburatnya
hingga ketika kau rasa lelah
tak punya lagi daya, kau tahu masih ada jingga

Satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 23-27 Januari 2013, kami (rangers KJS) berkesempatan untuk main ke Banyuwangi. Banyuwangi adalah kota paling timur di pulau Jawa. Tahu pelabuhan Ketapang, kan? Nah itu Banyuwangi punya. Ceritanya kami ingin menjelajahi salah satu panorama alam yang ada disana. Namanya Kawah Ijen.

Perjalanan dilakukan menggunakan kereta ekonomi Sri Tanjung dengan biaya pergi-pulang Rp 70.000,00/orang. Kanan-kiri sawah membentang. Well, perjalanan itu mengesankan buat saya karena waktu itu kali pertama saya menjelajah ke daerah Jawa Timur dengan menggunakan kereta api. Selama perjalanan, masing-masing dari rangers KJS bercerita. Mengenang masa-masa SMA, berdiskusi tentang kehidupan, mengambil inspirasi satu sama lainnya. Kadang diselingi dengan candaan, mainan gak penting. Seru!

Malam...
Alhamdulilah kami tiba di Banyuwangi. Kami mampir ke tempat salah satu saudara rangers KJS. Lebih tepatnya kami menumpang melumaskan punggung dari lelahnya perjalanan. Keesokan harinya kami sempat diajak berkeliling beberapa sudut kota Banyuwangi dan merasakan tradisi Maulid Nabi di sana. Saya sempat terlibat perbincangan seru dengan salah seorang paman teman saya yang tinggal disana. Beliau bercerita soal Pulau Lombok, cerita tentang Suku Osing, budaya Greduan (ajang mencari jodoh bagi pemuda yang masih lajang), sejarah Kerajaan Blambangan, Tari Gandrung, Tradisi kerbau-kerbauan (biasanya setelah panen, ada manusia yang didandanin jadi kerbau), Seblang (tradisi saat lebaran haji dan hari raya), dan cerita tentang Soekarno di Alas Purwo. Saya sampai mencatatnya di handphone. Pengalaman beliau banyak sekali. Bahkan saya juga terlibat diskusi seru soal bahasa yang ternyata beliau adalah guru bahasa Indonesia.

Keesokan harinya lagi, tiba saatnya kami menjelajah. Tujuan pertama adalah pantai Watu Dodol. Menurut keterangan salah satu teman saya, pantai itu bagus. Ya mungkin karena dia punya kenangan di tempat itu jadi bagus. Tapi menurut saya masih bagus Pantai Pok Tunggal di Gunung Kidul, walaupun lebih bagus dari pantai di Jawa Barat. Rute ke Watu Dodol itu naik bis Jurusan Situbondo dari Polsek Rogojampi dengan biaya Rp 15.000,00/orang. Setelah 1,5 jam, kami siap-siap menuju Kawah Ijen dengan naik bis sampai terminal Sri Tanjung dengan biaya Rp 7.000,00/orang. Lucunya, kami dikejar-kejar calo angkot. Bahkan saat kami sudah jalan kaki cukup jauh dari terminal menuju masjid untuk break Sholat Jum’at, ada angkot berwarna kuning yang ngikutin kita sampai masjid. Padahal calo dan supir angkotnya sudah berkali-kali ditolak sama teman saya yang asli Banyuwangi. Kalau ingat adegannya, saya masih suka ketawa-ketawa mendengar dialek orang Banyuwangi yang terdengar seperti orang yang ngajak berantem. Maklum sebagai anak yang lahir dan besar dari keturunan Jawa Tengah tulen yang dialeknya lebih halus, dialek orang Banyuwangi yang begitu adanya jadi terdengar “galak”. Hahaha

Pantai Watu Dodol
Melihat Bali
Ba’da Jum’atan kami luluh untuk naik mobil kuning dengan harga Rp 8.000,00/orang. Kawah Ijen kami datang! Perjalanan diselingi jalan kaki dan napak tilas beberapa tempat-tempat bersejarahnya teman saya sampai di terminal Sasak Perot. Dari Sasak Perot kami naik angkot sampai daerah Jambu. Disanalah pemberhentian angkot terakhir. Dari Jambu menuju Kawah Ijen kita harus sewa pick up atau bermodal jempol menyetop pick up milik penambang belerang kemudian nebeng sampai Kawah Ijen.

Di atas truk penambang menuju Kawah Ijen
Tak sabar menunggu pick up, kami melakukan prosesi tawar-menawar jasa pick up sampai atas. Beruntungnya kami bertemu rombongan lain dari FISIP UNS dan UGM. Akhirnya, kami bersembilan menjadi tim perjalanan menunju alam Kawah Ijen dengan biaya sewa pick up pergi-pulang sebesar Rp 350.000,00. Setibanya disana kami sholat Ashar kemudian menanti senja pertama pulau Jawa diselingi obrolan asyik di salah satu warung.


bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...