Langsung ke konten utama

#Jepang 2: Bertemu

Ada rahasia Allah dalam setiap pertemuan. Bisa jadi, orang yang kita temui hari itu adalah perantara rezeki dari Allah buat kita. Bisa juga dari cerita-cerita mereka menjadi bekal untuk kita lebih baik dalam menjalani kehidupan. Intinya, bertemu dengan mereka merupakan salah satu cara Allah mempersiapkan kita untuk “level” kehidupan selanjutnya. Hanya kesabaran yang bisa menjelaskan setiap alasan dari pertemuan yang Allah telah rancang bagi kita.

Tahun 2012, sahabatku Sakinah pergi ke Malaysia dan Singapura. Ia bercerita mengenai perjuangan serta “mekanisme langit” yang mengantarkannya sampai ke negeri Jiran untuk mengikuti kuliah umum seorang tokoh pemikiran Islam yang disegani dunia. Beliau adalah Syed Muhammad Naquib Al Attas. Hingga Allah kasih bonus banyak untuknya. Teman-teman di Malaysia dan Singapura yang menyayanginya. Bahagia ketika tahu dia dikelilingi orang-orang yang lebih baik.

Di kampus, aku punya kawan hebat bernama Angela R. Anindita. Dia bercerita tentang pengalamannya saat ikut AFS dan mimpinya ke USA, kuliah disana. Aku mengambil hikmah dari cerita-ceritanya. Dia salah satu kawan yang sangat “besar hatinya” sekaligus bijaksana. Pernah suatu ketika dia bilang “Tis, go international itu bukan berapa banyak kita pergi ke luar negeri, tapi bagaimana karya kita diakui oleh negeri-negeri di luar sana” (bener gak ya Nin redaksionalnya?)

Tak hanya Saki dan Anin, Allah memberikan aku “kado” berharga di usia kedua puluh yakni bertemu dengan para aktivis UNS dalam wadah Beasiswa Aktivis Nusantara, Dompet Dhuafa. Dengan menara prestasi mereka yang menjulang, aku belajar soal kesederhanaan dan kebersahajaan. Dulu pernah juga aku berpikir, apa gunanya ke luar negeri? Toh di Indonesia semua sudah ada. Alam yang jauh lebih keren dari ujung timur sampai barat. Namun, Mas Krisna fasilitator kami pernah memberikan pemahaman bahwa dengan kita pergi ke luar negeri maka kita akan semakin mencintai Indonesia. Kita ambil ilmu dari sana, kita bangun Indonesia menjadi lebih baik. Ini dibuktikan dengan cerita Woro sehabis pulang dari Thailand.

Waktu melaju. Di bulan Agustus 2013 ada acara Temu Nasional Negarawan Muda di Bogor. Aku satu bangku dengan mbak Erni. Mbak Erni adalah penerima manfaat beasiswa aktivis nusantara UNS angkatan sebelumnya. Beliau muslimah cerdas dan inspiratif. Tulisan beliau sering dimuat di surat kabar. Beliau pernah pergi ke Jerman untuk menjadi delegasi Indonesia dalam sebuah ajang internasional. Dalam perjalanan ke Bogor itu, beliau bercerita mengenai perjuangannya untuk ke Jerman. Mengurus visa yang tidak mudah. Hingga cerita hadirnya “tangan-tangan Allah” yang mengirimkan uang 10.000.000 ke rekening beliau melalui perantara bupati Sragen. Malam itu, aku takjub dengan janji Allah bagi hambaNya yang senantiasa bersabar dan tawakal.

Masih ingat dengan filosofi tempat sampah yang beberapa waktu lalu pernah aku tuliskan?(coba lihat ditulisan sebelumnya ya). Bagianku selama ini hanya mendengarkan, mendengarkan, dan mendengarkan setiap cerita orang-orang yang aku temui. Aku jadikan menara inspirasi. Boleh jadi, kamu yang sedang membaca tulisan ini salah satu inspirasi itu. 

Hal terpenting yang menjadi hikmah dari setiap pertemuan itu adalah “boleh jadi mereka yang dengan atau tanpa disengaja aku temui, ternyata ambil bagian lebih banyak untuk mendoakanku daripada diriku sendiri”.

eh...kamu tahu tidak? Doa-doa tentang kebaikan, insya Allah berbalas kepada yang mendoakan :')


bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...