Langsung ke konten utama

Berlabuh ke Ciamis [3] : Alun-alun

Langit Sore di Alun-alun Ciamis
Pukul 15.30 kami (saya dan Fitri) undur diri dari objek wisata Icakan untuk kembali ke alun-alun bertemu Sakinah sahabat saya yang menetap bersama keluarganya di Ciamis. Ini kali ke empat saya kembali ke alun-alun Ciamis. Saya sempat berpikir, kenapa hampir di seluruh kota di pulau Jawa yang pernah saya kunjungi memiliki alun-alun kota yang juga menjadi pusat kota? Sebut saja Solo, Ciamis, Yogyakarta, Malang, Banyuwangi, Bandung, dan lainnya.

Uniknya lagi, jalan di sekitar alun-alun biasanya di buat satu arah seolah-seolah saat kita berkeliling kota tersebut titik kembalinya terletak di alun-alun. Sempat saya bertanya sama Fitri, “Fit, kayanya mah kita mau lewat mana aja tetep tembusnya ke alun-alun ya?”. Pasti ada filosofisnya. Hemat pikir saya, filosofi alun-alun mengingatkan saya akan kalimat di buku Negeri Lima Menara karya A. Fuadi. Beliau menuliskan setiap ruang kosong kembali ke atas. Kalau orang berkeliling satu kota saja bisa kembali ke pusat kota tersebut (alun-alun), gimana dengan manusia? Puas berkeliling dunia tentu saja ia akan kembali kepada yang menciptakannya. Bukannya juga Allah Maha segalanya pun hanya dengan mengingatNya hati kita jadi tenang? Allah lagi, Allah terus.

Sore itu, sambil melihat ramainya alun-alun ditambah perjumpaan dengan sahabat. Genaplah perasaan syukur.

Bagaimana bisa aku membenci jingga
Jika perpaduan diantara warna-warnnya selalu kutemukan Dia


Ya, jingga sore itu kami habiskan di alun-alun hingga matahari benar-benar terbenam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...