Langsung ke konten utama

#Jepang 5: Email

Kamu tahu? Dalam jarak, ada hal yang senantiasa medekatkan. Ia bernama Doa. Darinya lah pengharapan melantun dalam khusyu’ kepada Sang Khalik.

Ada yang bilang. Dengan harapan, kita dapat terus hidup.
Tapi aku percaya, hanya dengan Doa kita dapat merubah Takdir. Harapan dan Doa itu terbuntal satu ikat.

Setelah pengiriman abstrak. Aku harap-harap cemas. Bagaimana kalau abstrak kami diterima? Ini berarti harus ada yang aku korbankan. Dialah Skripsi. Namanya sering menggaung di benak mahasiswa tingkat akhir, begitu juga di benakku. Di sisi lain, Jepang seisinya seperti magnet untuk dikunjungi. Sungguh, perasaan ini kusebut dengan galau. Maaf, tapi bukan galau kacangan tentang cecintaan.

Fwd Email Panitia HISAS dari Takwa

Hidup dalam pilihan-pilihan menuntutku untuk mengendalikan nafsu dan jeli dalam membuat keputusan. Dalam pendidikan Ibu, aku harus siap menanggung akibat-akibat dari semua keputusanku. Baik atau buruk. Maka, ketika pada tanggal 16 Desember 2013 aku mendapat kiriman email dari Takwa. Ada yang harus segera diputuskan. Maju atau mundur.

Ah, hanya dengan sebuah selembar surat dan aku di dera kegalauan. Tenang. Dalam kondisi demikian, aku sudah punya obatnya yaitu berjalan kaki sendirian di sore menjelang senja kemudian sibuk berpikir mengambil pelajaran dari masa lalu ataupun segala yang aku lihat. Itu memudahkanku membuat keputusan.

...dan akhirnya. Aku memilih maju. Awalnya, keputusan ini menjadi rahasia besarku. Tak banyak orang yang aku beritahu, kecuali keluarga. Semuanya sudah aku pikirkan dan rasanya aku tak perlu menuliskan segala pertimbangan atau niatku saat menjadikan keputusan itu sebuah rahasia kan? Sebab arti memang tidak melulu untuk diumbar keberadaannya.

Bismillah.


bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...