Langsung ke konten utama

Proposal Kematian



Di setiap berulangnya waktu dalam hitungan tahun ketika Allah menakdirkan kelahiranku ke dunia. Seketika itu juga rasa bersalahku menggunung pada orang-orang disekitar atas banyak hak mereka yang belum aku penuhi. Pun ketika aku katakan bahwa aku sudah mencoba berbuat baik, nyatanya kewajibanku pada mereka masihlah berjebah dan belum tertunaikan secara maksimal. Namun hampir selalunya, doa mereka tetap melantun tulus padaku. Entah secara lisan atau mereka simpan dalam diam. :((

Tak hanya itu, penghambaanku pun masih saja seujung kuku padaNya sedangkan tak kurang sama sekali nikmat yang telah diberikanNya. Bahkan ujian dariNya justru yang membuatku kembali ingat pada ‘hutang’ yang harus aku lunasi. Berhutang kalimat tauhid, bahwa Hanya Dia yang pantas untuk diagungkan atas segala-galanya. :((((

Aku jadi terngiang percakapan 2 tahun yang lalu dengan Bunda. Ketika Bunda menanyakan kabarku saat bertemu dan meledekku dengan pertanyaan, “Gimana kabar hati? Adakah seseorang yang menempati?”. Aku senyum-senyum sendiri. Menangkap arti senyumku, Bunda berujar, “Wajar jika anak seusiamu memiliki rasa itu, Bunda pun pernah merasakannya. Namun, ada yang seringkali kita lupa hingga hanyut dalam kefanaan perasaan itu. Tiap hari, list kita akan bertambah dan semakin panjang untuk membuat kriteria seseorang yang berhak membersamai kita. Tidakkah kita sadari? Bahwa usia kita kadangkala tidak sepanjang list/kriteria yang kita buat.” Bisa saja kematian itu datang jauh sebelum kita menemukan dia yang sering kita idam-idamkan dalam list permohonan kita terhadap kedatangannya.

Kematian selalu lebih cepat datang dari yang kita bayangkan.

Mudah bagi kita untuk membuat cita-cita dunia sebanyak apapun. Namun, cukup sulit bagi kita untuk merangkai kata-kata terhadap akhir kehidupan duniawi kita nantinya. Padahal, kematian itulah gerbang kehidupan yang sebenarnya. Sesiapa yang mempersiapkan kematiannya dengan baik, dia akan menjadi orang paling visioner di alam semesta.

Mengingat nasihat Bunda seperti mengingatkan lagi pada niat serta tujuan kita untuk hidup di dunia sebagai manusia. Mengevaluasinya. Menjadikan pijakan untuk terus berjuang dan bertambah lebih baik. Sudahkah kita membuat proposal kematian kita pada Allah? Tentang permohonan atas kondisi iman terbaik sepanjang usia kita saat menemuiNya. Kematian yang tepat berada di atas jalan keridhaanNya

Kepada siapa saja yang sedang diberikan nikmat pertambahan waktu. Semoga hanya semangat, manfaat, dan kebaikan yang mengisi waktu-waktu kita yang sangat terbatas.

Barakallah fii umrik. Semoga Allah memberkahi usia kita.



Komentar

  1. mb titis sekti, salah satu kakak saya yang paling menginspirasi saya, meskipun terkesan judes dan galak, dibalik itu mb titis sekti adalah sosok yang perhatian dan ramah. meskipun perawakan nya menyeramkan :D
    mb, kita belum lama kenal, tapi mb udah nyuri hatiku.. ciielah..
    saya bersyukur kita sudah dijadikan saudara seatap disolo :)

    BalasHapus
  2. hmm judes dan galak ya? :D terima kasih adik sudah membuka diri untuk saling belajar satu sama lain :))

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...