Langsung ke konten utama

Inspirasi Hari Ibu

Pundak itu akan selalu terbeban.
oleh pekerjaan-pekerjaan yang tak berkesudahan
Tanggung jawab atas sebuah perdaban.

Mata itu akan semakin hitam dan berkantung.
Hanya karena kesediannya bangun paling pagi.
Mencuci pakaian, menyiapkan makanan, memastikan bahwa para penyejuk jiwanya menuntut ilmu dengan penuh kesiapan.

Telinga itu semakin terasah untuk mendengarkan segala macam rasa kehidupan.
Tak akan bosan ia luangkan waktu demi cerita-cerita dunia yang penuh tantang.

Tangan itu semakin kuat menggenggam.
Meyakinkan hati bahwa segala sesuatu pasti memiliki jalan keluar.
Atau sekedar digunakannya untuk mengelus kepala sang buah hati yang sedang penuh pikiran.

Kaki itu semakin kokoh berjalan.
Menjejaki hari-hari penuh ujian.
Walau jadang ada keluh terucapkan.
Namun, tak pernah surut perjuangan

Jiwa itu semakin lapang atas banyaknya kesakitan perasaan oleh lisan, tindakan, bahkan pikiran yang tak sopan.

Ia bertahan
Lebih lama daripada siapapun

Hari berganti
Waktu berputar
Diantara detak dan detik itu, ada peran yang akan di estafetkan
Adakah kesiapan?
Layakkah diri itu mengemban?
Apakah nilai-nilainya akan terwariskan?
Mampukah cita-cita besar itu tertunaikan?
Pertanyakan pada jiwa dalaman.

22 Desember 2015
Dalam perjalanan Solo menuju Depok

Dipersembahkan untuk mereka yang masih menyimpan nyala semangat dalam membina generasi-generasi gemilang. Khusus untukmu, Ibu :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...