Langsung ke konten utama

#2 Serial Penjaga Merah Putih : Nehan

Januari 2016, sekolah ingin ikut lomba pildacil. Dibuatlah seleksi kecil-kecilan untuk mencari anak-anak berbakat dan semangat untuk ikut lomba. Tersebutlah Bita dan Nehan. Pertama kali latihan, mereka masih banyak belum hafal teks ceramah yang dibagikan oleh Pak guru. Guru-guru agak ragu, sebab tahun lalu kandidat terpilih malah nangis di atas podium sesaat sebelum gilirannya tampil. Alhasil, belum sepatah kata pun diucapkan, anak langsung turun podium. Ngebayangin anaknya nangis, lucu juga sih. Eheheh.

Pertemuan kedua. Bita suda hafal teks ceramah. Alhamdulillah. Sedangkan Nehan baru saja mengucapkan “Kepada dewan juri, guru-guru, serta teman-teman ku yang kucintai” tiba-tiba diam dan melirik panik ke arah Pak Guru. Ia lupa teksnya. Dengan terbata-bata, Nehan menyelesaikan ceramahnya dengan berkali-kali diingatkan tentang bagian teks yang ia lupa. Pertemuan selanjutnya, Nehan sudah hafal hampir seluruh isi teks ceramah. Hingga di pertemuan kelima Nehan berhasil mengingat isi teks ceramah tanpa bantuan dari pak Guru. Ada yang  menarik saat latihan pildacil. Hari itu, latihan di mulai pukul 10.00. Pulang sekolah, tak jarang anak-anak merajuk ini itu sebelum mulai latihan. Jajan dululah, membuat atraksi agar aku melihatnya, memberikan pertanyaan, berlarian di taman dan banyak hal lainnya. Tak terkecuali dengan Bita. Mungkin karena suda hafal teks ceramah dan memiliki progres latihan yang paling cepat diantara teman-temannya, Bita pun bosan untuk latihan. Harus dipanggil berkali-kali agar Bita mau masuk ke dalam mushola. Ketika sudah masuk, Bita malah berlari-larian, tidur-tiduran, dan membuat gerakan-gerakan lucu untuk menggoda temannya saat tampil latihan ceramah. Melihat tingkat Bita, Nehan tiba-tiba berkata, “Bita, kamu yang semangat loh. Kamu sudah lebih dulu hafal. Gak boleh malas. Aku aja semangat padahal yang hafal kamu duluan”. Bita diam saja mendengar ucapan Nehan, tapi jadi sedikit serius latihannya. Aku senyum-senyum sendiri mendengar perkataan Nehan.

Latihan selanjutnya, Nehan datang menghampiriku kemudian bilang, “Bu Titis, aku suka kalau belajarnya sama bu Titis.” Aku terharu di buatnya. Ku bilang, “Terima kasih Nehan. Kenapa Nehan sukanya belajar sama bu Titis?”. "Ya suka aja", kemudian mencium tanganku.

Di hari perlombaan, aku bangga sekali padanya. Walaupun tidak membersamainya secara langsung saat latihan karena harus melatih anak lainnya menghafal surat pendek, namun kusempatkan melihatnya tampil di hadapan para juri. Dengan sorban yang dikalungkan atas permintaannya sendiri, Nehan tampil dengan percaya diri. Tidak lupa isi teks sedikitpun. Suaranya lantang. Ketika pengumuman juara lomba pildacil, nama Nehan belum terlampir sebagai juara. Nehan berkata pada kami, “Gak papa aku gak juara, tapi aku kalau ada lomba lagi dikasih tau ya, aku mau lomba lagi.”

Hey, ada yang sekecil itu tapi sangat pandai merawat semangatnya juga pantang menyerah.

Kadang suka senyum-senyum sendiri ngebayangin anak-anak besok kalau sudah besar akan jadi apa. Jadi apapun, semoga selalu dekat dengan Allah ya, nak :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...