Langsung ke konten utama

#3 Serial Penjaga Merah Putih : Zahra dan Permintaan Maaf

Kelas B3 kebagian jadwal TPQ. Hari ini jadwal hafalan surat Al Kausar. Kita akan menghafal dengan menggunakan gerakan tangan. Tapi...anak-anak terus lari-larian. Membuka tempat bermain mandi bola bahkan rebutan bola plastik. Akhirnya, ku katakan pada mereka “tidak ada yang boleh bermain bola kalau kalian saling rebutan satu sama lain, sekarang bolanya kasih Ibu atau diletakkan sendiri ke dalam tempat mandi bola.” Wajah anak-anak merengut kesal, melempar bola, kemudian duduk. Ada yang duduk di meja. Ada yang keluar kelas. Bahkan ada yang mengambil mainan bola kasti tanpa izin terlebih dahulu.

Ku panggil salah seorang anak, “Zahra, kenapa sih hari ini? Kok gak nurut dibilangin sama Bu Guru, bu Guru salah apa sama Zahra sampai Zahra berlaku demikian sama Ibu?”.
“Bu Guru bohong.”
Jedeeer!
Hati guru mana yang gak sedih dibilang bohong :(

Aku bertanya lagi padanya, “Kapan bu guru bohong?”
“Waktu itu bu guru bilang kalau kita gak TPQ lagi, tapi kenapa sekarang TPQ?”
“Loh, kapan?” aku mencoba mengingat-ingat perkataan yang pernah kuucapkan padanya.
“Bu guru bilangnya hanya bulan lalu libur TPQnya, kan sekarang sudah ganti bulan?”
“Enggak, bu guru bohong. Bu guru pernah bilang gak TPQ”.
Gemas rasanya, bahkan kemarahan itu hampir keluar tapi ku ingat-ingat bahwa marah tidak akan pernah bisa mendidik anak-anak.
Ku hela nafas kemudian ku ulurkan tangan, “Oke. Bu guru salah. Bu guru minta maaf sama Zahra, tapi Zahra janji habis ini duduk dan meletakkan mainan ini di tempatnya. Zahra mau maafin bu Guru, gak?”

Ajaib. Permintaan maaf itu meluluhkan hati Zahra.
Ia berkata pada temannya, “Heeei, sini bolanya dimasukkan, nanti aku ndak di marahin sama bu guru.”

Kemudian ia duduk bersama teman-teman yang lainnya. Walaupun sesekali menggoda teman lainnya tapi setidaknya dia mau mengikuti TPQ hari itu sampai selesai.

Dua minggu berlalu, Zahra menyapaku, “Bu Guru, kapan kita TPQ lagi?”

Anak-anak itu, mereka adalah pemilik hati yang seluas langit. Mudah memaafkan kesalahan orang lain dan tentunya penuh dengan kejutan. Hahaha
Besok bu Guru harus berhati-hati kalau belajar bareng kalian ya, berhati-hati dalam menjawab setiap pertanyaan kalian. fufufu




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...