Langsung ke konten utama

Resensi Buku Ayah



Tidak ada Ayah yang sempurna, namun cinta seorang seorang Ayah selalu sempurna adalah kalimat yang menjadi kesan berharga bagi seorang Irfan Hamka pada sosok Buya Hamka sebagai Ayahnya. Hamka bukan hanya pantas menyandang gelar Ayah bagi anak-anaknya, namun juga bagi seluruh ummat Islam yang pernah berinteraksi langsung dengannya atau dengan mereka yang pernah membaca serta mendengar buah pemikiran beliau dalam buku, rekaman, siaran beliau dalam media massa. Terlihat dari nasihat-nasihat tegas dan bernas yang beliau berikan pada setiap orang yang berkunjung ke rumah beliau untuk sekedar menyelesaikan urusan pribadi mereka.

Manusia hidup dalam kenangan, begitu pula seorang Irfan. Dalam buku ini, Irfan mengajak pembaca untuk mengenal Hamka lebih melalui ceritanya mengenai interaksi Hamka dengan istri, anak-anak, binatang, masyarakat sekitar rumahnya, hingga jin yang menempati rumahnya kala itu. Selain itu, pembaca juga di buat hanyut dalam kisah Hamka dan Irfan selama perjalanan untuk berhaji melalui jalur laut, juga perjalanan maut melalui jalur udara menuju Irak, serta perjalanan darat menegangkan melintasi Padang Pasir Arab menuju Makkah. Dalam setiap bagian cerita dalam buku ini, kita bisa melihat sikap hidup, karakter, cara pandang Hamka sebagai seseorang yang sholih dan sangat memegang teguh tauhid. Kata-kata “Allah, Allah, Allah” selalu muncul saat Hamka dihadapkan pada situasi yang berhadapan dengan maut dan gambaran diri yang sangat tenang dalam menghadapi maut yang ada dihadapannya.

Benarlah adanya bahwa ujian-ujian hidup yang menimpa para ulama dan orang – orang sholih selalu lebih berat dibandingkan ujian hidup manusia pada umumnya. Namun, justru pada setiap tempaan itu, orang-orang sholih selalu berhasil menemukan hikmah dan menjadikan diri mereka terus bertambah kuat dan kuat begitu pula Hamka. Seperti yang diungkapkan Hamka pada Irfan saat diatnya “Apa yang mendorong semangat Ayah, sampai Ayah menjadi seperti sekarang ini?” dan Hamka menjawabnya dengan kalimat, “Ayah dari kecil mendapat cobaan”. Cobaan hidup berupa perceraian kedua orang tuanya, serangan penyakit cacar, bullying, dipenjara, hingga ditolak sebagai guru Muhammadiyah karena tidak memiliki gelar diploma. Akhirnya, semua tempaan hidup itulah yang menjadikan Hamka ulama kebanggaan ummat yang karyanya tak lekang oleh waktu karena keistiqomahannya dalam mencintai ilmu dan mengamalkannya.

Ada salah satu pegangan hidup Hamka yang masih sangat relevan untuk dijadikan pedoman, yakni semua orang harus meluruskan niat, menjalankan kehidupan semata karena Allah. Niat itulah yang sejatinya menjadi seseorang akan senantiasa hidup meski jasadnya tak lagi membersamaimu. Bersama buku ini, segala keteladanan itu semakin layak untuk ditiru dan dilipatgandakan kebaikannya dan juga menjadikan kami semakin mencintaimu... Ayah...


Di tulis dalam event Litercy Award yang diadakan oleh BAZNAS dan Republika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...