Langsung ke konten utama

Pedang Allah

Jika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan, maka pilihlah pilihan yang paling menyelisihi hawa nafsu kita. Meski berat, tapi kita akan tenang

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tattimusshsholihaat..
Allah sudah memilihmu...
Allah sudah memilih kita...
Allah sudah mengambil suatu perjanjian baru..
Perjanjian yang salah satunya Allah gunakan saat mengambil janji para Nabi dan Rasul. Mitsaqan ghaliza.
Ar rasy Allah telah bergetar dan setan bersikeras memutus ikatan agung itu sebab ialah takdir yang menjadikannya makhluk keji serta mengingingkan sebanyak mungkin anak Adam membersamainya dalam Jahannam..

Namun...
Mari kita tafakuri perjalanan panjang kita.
Sebab apa Allah jumpa dan persatukan kita?
Sebab apa Allah mudahkan proses kita?
Sebab apa Allah begitu menyayangi kita?

In syaa Allah..
Apa yang baru tidak akan menjadi bekas..
Setiap yang hadir berhak memiliki tempat..
Meski nanti ia tidak diungkapkan
Namun senantiasa dirasa kehadirannya...
Sebab begitulah setiap episode hidup yang terdapat nama Allah di dalamnya, ia akan memiliki getarannya sendiri..

Ini bukan kali pertama aku merasa tenang, terjaga dalam prasangka baik, sekaligus berpasrah penuh pada Allah. Bahkan aku merasakannya sejak namamu disebutkan. Ada banyak sekali keajaiban dan hikmah yang aku temui dalam proses ini.

Bersanding denganmu menyisa pertanyaan padaku.. apa aku pantas ya Allah?
Berkali-kali aku bertanya itu pada Allah, pada diriku sendiri. Dan meminta doa orang lain agar aku dipantaskan...

Dan dalam upaya memantaskan itu semoga tidak berkeberatan ya jika kita akan melakukan masa perkenalan sepanjang hayat? Tentunya untu terus jadi lebih baik, untuk terus belajar, untuk saling menasehati. Untuk saling memaklumi ketidaksempurnaan, untuk melipatgandakan kesabaran, untuk ridho Allah yg terpenting. Untuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah...

Hadirmu seperti jawaban dari sebuah doa bahwa aku minta pada Allah, sesiapa yang mengisi hidupku nantinya ia adalah orang yang akan jadi perantara kebaikan dalam keluarga. Dan rasanya seperti ditemukan dengan sahabat yang telah lama hilang.. ma syaa Allah :"

Sungguh aku mencintai masyarakat ini dan aku juga menyukai keoptimisan Rasulullah SAW pada atas luasnya taufik dan hidayah Allah  tanpa mengenal masa, latar belakang, status sosial..

Maka..
Wahai pedang Allah mari kita senantiasa menjaga  komitmen kita pada Allah, pada Islam..menjaga adab kita dalam berhubungan satu sama lainnya, menghormati guru kita, dan berendah diri di hadapan mukmin lain..

Semoga dengannya, disaat Allah pisahkan kita. Allah akan banggakan kita dihadapan seluruh penduduk langit..

Dan manisnya..saat kita berpisah, justru kita bertemu cinta sejati kita kan? Allah Tercinta
In syaa Allah :))

Lets grow old together

Mari saling menggenggam
Semoga Allah selalu menjagamu wahai pedang Allah dengan sebaik penjagaan. Sebab aku berlindung dari kelemahan diriku untuk menjaga diri sendiri..

Barakallah, bi.. Baarakallah fiikum

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...