Langsung ke konten utama

Nafas Panjang Pendidikan : Sebuah Refleksi


Tergugah menulis setelah kemarin mendengarkan salah satu lagu kesukaan sejak SD berkumandang di puncak acara Hari Pendidikan Nasional 2024 di Arena GBK.Meski peranku kini bertambah, sebagai istri dan ibu, tapi gejolak jiwaku menyelami dunia pendidikan tiba-tiba bangkit kembali. Setelah melewati tahun-tahun yang berat, mengikis hampir sebagian besar gelora pengabdian, nyaris menjadi seorang yang pragmatis. Aku di ingatkan kembali dengan larik-larik lagu Pemuda dari Chaseiro.

Pemuda, kemana langkahmu menuju 

Apa yang membuat engkau ragu 

Tujuan sejati menunggumu sudah 

Tetaplah pada pendirian semula

Ku ulangi kalimat itu, "tetaplah pada pendirian semula". Aku yang hari ini merupakan mimpi dan harapanku di masa lalu. Mimpi tentang kebermanfaatan yang ingin ku bagikan kepada sebanyak-banyaknya anak-anak Indonesia, tentang kondisi adik-adik di Sanggrahan Study Club dan perasaan terpenjaranya dengan sekolah. 

Di masa itu, aku nyaris marah dan putus asa, upaya-upaya yang ku lakukan agar mereka tertarik untuk merasa senang datang ke sekolah seperti nihil hasil. Guru-guru pramuka hingga ansamble musik menyerah dan mundur teratur. Sekarang, saat aku berada di tempat yang menjadi hulu dari kebijakan pendidikan, perasaan marah dan putus asa itu menyergap lagi. Aku tidak bisa sendirian menahan getir dan mimpi baik untuk pendidikan Indonesia. Pendidikan bukan hal fisik ataupun sarana prasarana yang mudah di perbaiki, butuh 20 tahun untuk melihat dampak perubahannya. 

Kebijakan pendidikan hari ini memang seharusnya melihat pada kebutuhan anak bangsa untuk 20 tahun ke depan. Perlu bashirah, memfirasati zaman. Aku sendiri bergidik setiap kali berselancar di media sosial. Bagaimana bisa anak-anak Indonesia tumbuh dengan arus informasi yang sulit terbendung.Isinya acapkali hal negatif. Rasanya, saat ada gerakan 'Jangan Jadi Guru', aku ingin mengamininya saja, karena berat betul tanggung jawab sebagai guru dengan jaminan kesejahteraan 'duniawi' yang sedikit. Sebab aku pernah menjadi salah satu bagiannya. Aku merasakan gaji 150.000 dan mendidik anak-anak usia dini.

Beban administrasi guru memang sudah diupayakan untuk dikurangi. Tapi beban mendidik tidak akan pernah bisa berkurang. Bahwa tidak mudah untuk menjadi guru pembelajar yang harus bisa memahami seluruh siswa/berpusat pada peserta didik, sekaligus menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman baginya. Padahal, guru sebagai manusia biasa juga berisi banyak kelemahan-kelemahan. Ia memiliki keluarga juga peran-peran sosial lainnya, tapi dituntut serba bisa termasuk kepada urusan-urusan kesiapsiagaan bencana, hingga psikologis peserta didiknya. Bagaimana bisa menjadi pemimpin pembelajaran bila belum selesai dengan diri sendiri. 

Belum lagi logical fallacy yang dialami oleh generasi muda kebanyakan saat ini. 

teman yang religius dianggap mabuk agama;

teman yang rajin dibilang ambis;

kritis dibilang si paling tahu;

melakukan personal branding dianggap sombong;

unjuk bakat dinggap caper; 

membantu guru dibilang pick me; 

melaporkan pelanggaran di cap cepu; 

tidak menyontek/memberikan sontekan pastilah dianggap pelit; 

menyampaikan kebenaran disebut sok suci/munafik

sebaliknya, orang-orang yang terbiasa melakukan pelanggaran dinormalisasi. Kehidupan kita menjadi mudah memaafkan setiap celah yang justru bermuatan kekerasan, sarkas, bahkan perilaku perundungan. 

Belum lagi dengan tantangan sosial yang dipersiapkan oleh guru di sekolah maupun anak dalam bermansyarakat. Kasus perceraian terus meningkat, perselingkuhan merajalela. Guru harus semakin siap menghadapi segala luka dan trauma yang dialami anak dirumah dan di tunjukkan di sekolah. Apakah mudah bagi guru mendampingi segala jenis problem peserta didik secara utuh? dan mungkin juga situasi yang lebih ekstrim lagi, jika guru harus menghadapi jika peserta didik itu lahir dan besar dari orang tua tunggal atau bahkan sesama jenis. 

Sudahkah merdeka belajar juga memerdekakan guru dan berdampak bagi pendidikan. Jawabannya 15 tahun lagi. 

Meskipun secara jujur, gelora merdeka belajar ini jika direnungkan justru sangat sejalan dengan konsep yang Islam tawarkan. Islam adalah kemerdekaan itu sendiri (silahkan baca buku Risalah untuk Kaum Muslimin karya Syed Moh. Naquib Al Attas untuk mendalami ini). 

Aku merenungkan, Rusia dulu memproklamirkan sebagai negara sosialis, namun atas izin Allah, negara-negara pecahannya menjadi negara Islam yang kuat. Sesungguhnya sesuai janji Allah, Islam akan terjaga oleh Tangan Allah sendiri, sementara ulama dan para pengusung dakwah itu hanyalah perantara saja. Mengingat itu, aku juga yakin, bahwa pendidikan pun dari siapapun pencetus gerakan atau idenya, namun sesungguhnya Allah-lah yang akan senantiasa menjaganya. Begitu pula setiap generasi yang mengirinya. 

Setiap masa akan ada rijalnya. Mungkin aku harus berdamai, bahwa dari banyak mimpi yang aku tuliskan, jika tidak tersampaikan apalagi terealisasikan, aku mengimani bahwa hidup ini selalu beriringan dengan takdir baik dariNya. Sebab Allah adalah sebaik-baik pembuat makar. 

Lalu, lanjutkan lagi perjuangan. tetaplah pada pendirian, mungkin dipersimpangan jalan aku akan menemukan kawan untuk berjalan beriringan.

Untukmu yang didalamnya selalu ada letup kecil untuk menjaga nyala pendidikan dinegeri ini, mari bernafas panjang, menghela sesekali, lalu melanjutkan langkah. 

Selamat hari pendidikan..



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...