Mengelola
Stress, Seni Memaknai Kehidupan
Oleh
: Titis Sekti Wijayanti
Bahagia
itu ada dalam diri kesannya zahir rupanya maknawi
-Unic-
Siapa yang tidak pernah
mengalami stres di dunia ini? Stres menjaring ke segala jenis pekerjaan,
jabatan bahkan usia. Tak terelakkan. Kadarnya ada yang rendah, sedang, dan
tinggi dengan resiko gangguan neurotik atau psikotik. Penyebab stres adalah saat
realita tidak sesuai dengan harapan, kemudian timbulah ‘konflik’. Sebuah
pergulatan batin mencari titik benar dan salah. Jadilah ‘masalah’ yang kemudian
orang-orang berkecenderungan untuk mempermasalahkan ‘masalah’ itu sendiri.
Begitulah stres bermula, tumbuh, dan terus saja berkembang dalam diri manusia.
Siklus yang tidak akan pernah habis di dalam setiap aspek kehidupan tempat manusia
mengaktualisasikan diri.
Di lansir dalam sebuah
media elektronik bahwa stres dapat memicu seseorang untuk melakukan
tindakan-tindakan tidak sehat seperti terganggunya aktivitas tidur, malas
berolahraga, lebih sering mengonsumsi makanan siap saji (junk food), menggunakan narkoba, dan perilaku merokok. Belum lagi
maraknya kasus bunuh diri akibat seseorang merasa tertekan menghadapi sebuah
permasalahan hidup. Berdasarkan berbagai fakta mengenai stres maka pepatah “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa
yang kuat” tidak lagi berlaku. Beberapa pakar kesehatan bahkan seringkali
mengatakan bahwa penyebab terganggunya beberapa fungsi fisiologis adalah stres.
Stres sudah terlalu membumi, terlalu klasik dijadikan sebuah permasalahan.
Stres yang membumia dalah fenomena saat setiap orang berbicara tentang stres. Stres menjadi bahan pembicaraan sehari-hari, baik di radio, televisi, surat kabar dan diberbagai konferensi maupun di kalangan civitas akademika. Sayangnya orang-orang selalu mengambil perspektif bahwa stres adalah hal yang mengerikan yang menyebabkan timbulnya perilaku maladpatif ataupun disfungsional fisiologis. Padahal stres dalam keadaan demikian disebut dengan istilah distres. Stres yang dikelola dengan baik akan menghasilkan kontrol diri yang lebih baik, dalam keadaan ini disebut dengan istilah eustres. Eustres dan distres adalah sebuah penawaran untuk mengelola stres dalam kehidupan. Perubahan-perubahan sosial yang cepat sebagai konsekuensi modernisasi mempunyai dampak pada individu untuk menjadi pribadi handal dan tangguh dalam menjalani hidup.
Koping
Setiap individu
bereaksi berbeda dalam bentuk dan intensitasnya tergantung proses yang terjadi
di dalam dirinya. Dalam psikologi, perception
of self akan mempengaruhi seseorang dalam memberikan reaksi pada setiap
stimulus yang diberikan kepada individu tersebut. Reaksi seseorang ketika
menghadapi stres disebut koping. Koping seringkali dimaknai sebagai sebagai
cara untuk menyelesaikan suatu masalah (problem
solving). Ada dua jenis koping menurut Lazzarus (dalam Siswanto, 2007)
yakni tindakan langsung (agresi, penghindaran, apati) dan peredaan atau
peringanan (defense mechanism). Pada
koping jenis tindakan langsung biasanya individu akan melakukan tindakan nyata dalam rangka
mengatasi luka, ancaman atau perubahan posisi terhadap masalah yang dialami,
sedangkan pada koping jenis peredaan, individu akan cenderung merubah persepsi
atau reaksi emosinya dalam upaya mengurangi atau menghilangkan tekanan
fisik/motorik.
Selain kedua jenis
koping di atas, ada pula jenis-jenis koping yang sehat, diantaranya: penalaran,
objektifitas, konsentrasi, humor, supresi, toleransi, empati, afiliasi,
altruisme, penegasan diri, dan pengamatan diri. Sejumlah koping tersebut
dikatakan koping yang sehat karena membantu individu dalam proses penyesuaian
diri dengan lingkungan yang dianggapnya sedang bermasalah. Koping pengamatan
diri memiliki kesejajaran makna dengan introspeksi, yang mana individu
melakukan pengamatan terhadap tingkah laku, motif, ciri, sifat sendiri dan
seterusnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri sendiri yang semakin
dalam. Dengan demikian individu memiliki kemampuan transendensi, yaitu
kemampuan membuat jarak antara diri yang diamati dengan diri yang mengamati.
Kecakapan memaknai kehidupan lewat kedalaman proses mengenal diri sendiri. Begitulah
koping positif bekerja membantu individu dalam mengelola stres menjadi eustres.
Seni
Memaknai Kehidupan
Seni
selalu bicara soal rasa dan keindahan. Sifatnya subjektif, tergantung dari
sudut pandang seseorang yang sedang menikmati sebuah karya. Begitu pula halnya
ketika kita menjalani proses kehidupan. Semuanya penuh unsur subjektifitas
tergantung dari sudut pandang yang menjalani kehidupan itu sendiri. Tuhan
sengaja menganugerahkan manusia akal, cipta, rasa, karsa agar manusia
mengolahnya menjadi sebuah bekal perjalanan dalam menemukan makna hidup itu
sendiri. Berkali-kali orang yang bilang bahwa hidup manusia selalu diiringi
dengan ujian-ujian kehidupan. Ah ya... begitulah pula Tuhan menjanjikan kenaikan
derajat bagi hamba-hambaNya yang bisa menghadapi ujian kehidupannya dengan
baik. Dengan akalnya, manusia kemudian berpikir mengenai tingkah laku atau
proses penyelesaian yang baik bagi setiap ‘ujiannya’. Dalam konteks ini
sebutlah ujian kehidupan sebagai ‘masalah’ yang tiada habisnya.
Sebuah
hal penting dalam ujian kehidupan adalah cara setiap manusia memaknai segala
sesuatu yang diberikan Tuhan olehnya. Menemukan hikmah. Bisa jadi seseorang
mengalami gangguan kejiwaan karena ia salah dalam memaknai hidupnya. Di lain
sisi, seseorang bisa terlihat begitu bahagia walaupun terlilit hutang-hutang
dalam bilangan ratusan juta rupiah. Inilah seninya menjalani kehidupan. Seberapa
pandai kita memaknai. Sederhananya, kita hanya perlu sedikit bergeser sudut
pandang dari merana ke merona bahwa senyum itu selalu ke samping bukan ke
depan. Begitu juga dari perasaan sendiri menyepi menjadi sendiri menikmati.
Hidup akan tetap indah, kan?
Jadi,
begitulah akal diberikan fungsi untuk terus berpikir mengelola stres yang muncul
dari setiap ujian kehidupan seorang manusia, kemudian menemukan hikmahnya.
Selanjutnya, biarkan rasa peka yang bekerja menuntun kita menjadi manusia yang
lebih berguna daripada manusia yang menyalahkan waktu, mengambinghitamkan
permasalahan bahkan bangga menggunakan dalil ‘saya sedang stres’ untuk beralih
tanggung jawab sebagai sebaik-baiknya pemimpin di muka bumi. Dewasa memang
selalu menjadi pilihan. Mari mendewasa, bersama-sama.
Komentar
Posting Komentar