“Ayam Ayaaaam. Ayaaam, Buuu...” “Ayam Ayaaaam. Ayaaam, Buuu...” “Ayam Ayaaaam. Ayaaam, Buuu...” “Bu, Nisa pulang ya. Sudah jam 10, Nisa harus siap-siap berangkat sekolah. Lagipula, Nisa sudah ikut jualan keliling cukup jauh, Bu,” pinta Nisa. “Sebentar lagi ya, nduk. Jualan Ibu masih banyak. Masih berat bawaan Ibu,” Nisa mengangguk lesu. “Mbaaaaak, beli Ayamnya!” “ Alhamdulillah . Nah itu ada yang beli jualan Ibu, nduk . Kamu pulang sekarang ndak papa. Nanti sampaikan pada Bude Warni, adikmu jangan lupa diingatkan untuk makan dan tidur siang ya,” pesan Ibu. “Iya, Bu. Nisa pulang ya. Ibu hati-hati jualannya,” pamit Nisa sambil mencium tangan Ibu. Dalam perjalanan pulang menuju rumah, Nisa tertegun melihat bangunan rumah-rumah di komplek perumahan tempat Ibu berjualan ayam keliling. Nisa membatin, “ Kapan ya Nisa bisa punya rumah sebagus itu? Rumah dengan taman yang luas. Setiap sore Nisa bisa duduk di taman dan bersenda gurau dengan Ibu, Bapak, juga dik Ayu.” “...
Menghimpun Hikmah yang Terserak