Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

#3 Serial Penjaga Merah Putih : Zahra dan Permintaan Maaf

Kelas B3 kebagian jadwal TPQ. Hari ini jadwal hafalan surat Al Kausar. Kita akan menghafal dengan menggunakan gerakan tangan. Tapi...anak-anak terus lari-larian. Membuka tempat bermain mandi bola bahkan rebutan bola plastik. Akhirnya, ku katakan pada mereka “tidak ada yang boleh bermain bola kalau kalian saling rebutan satu sama lain, sekarang bolanya kasih Ibu atau diletakkan sendiri ke dalam tempat mandi bola.” Wajah anak-anak merengut kesal, melempar bola, kemudian duduk. Ada yang duduk di meja. Ada yang keluar kelas. Bahkan ada yang mengambil mainan bola kasti tanpa izin terlebih dahulu. Ku panggil salah seorang anak, “Zahra, kenapa sih hari ini? Kok gak nurut dibilangin sama Bu Guru, bu Guru salah apa sama Zahra sampai Zahra berlaku demikian sama Ibu?”. “Bu Guru bohong.” Jedeeer! Hati guru mana yang gak sedih dibilang bohong :( Aku bertanya lagi padanya, “Kapan bu guru bohong?” “Waktu itu bu guru bilang kalau kita gak TPQ lagi, tapi kenapa sekarang TPQ?” “Loh, k...

Tentang Menangis

Tak jarang, orang yang menangis dijuluki cengeng, tidak tabah, mengumbar kesedihan, baper (bawa perasaan), dan sebagainya. Ada sebuah cerita tentang berharganya sebuah air mata. Di salah satu sekolah inklusi kota Solo, ada seorang anak laki-laki yang malu-malu saat bertemu dengan seorang guru. Butuh waktu hampir 15 menit agar ia mau main bersama sang guru, itupun dengan sedikit paksaan. Dari mana tahunya terpaksa? Saat diminta masuk ke kelas, ia menangis. Dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata, hanya jatuh beberapa tetes. Anak-anak biasanya akan leluasa mengeluarkan teriakan dan air matanya untuk menunjukkan rasa takut, marah, sedih, sakit. Tapi anak ini berbeda. Setelah diselidiki, anak itu memang sangat susah menangis, bahkan pernah harus diberikan pemahaman “gak papa menangis, mas boleh menangis”. Tahu penyebabnya? Ayahnya seorang tentara, dalam pendidikan di keluarga sang anak tidak boleh menunjukkan kelemahan, apalagi menangis. Jadilah ia selalu menahan air matan...

Pola Berpikir Setan

Hari itu adalah training value terakhir bagi penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara Angkatan Ketiga. Temanya brotherhood . Pak Romi selaku Direktur Beastudi Indonesia datang untuk menjelaskan tema tersebut pada kami. Ada kalimat menarik dari beliau yang sampai detik ini sangat menginspirasi saya. “Jauhilah pola berpikir setan”. Apa itu pola berpikir setan? Ketika kita berpikir bahwa kita tidak pantas datang ke masjid dan merasa tidak pantas untuk berteman dengan orang-orang sholih/sholihah. Jawaban pak Romi seperti tamparan keras pada diri ini. Betapa selama ini seringkali pikiran itu datang. Merasa bahwa para akhi dan ukhti masjid itu adalah orang-orang alim yang eksklusif. Sebenarnya, mereka yang eksklusif atau diri kita yang terlalu sombong? Saya jadi teringat penggalan lagu obat hati yang dibawakan oleh Opick. Obat hati ada lima perkara. Salah satunya adalah berkumpul dengan orang sholih. Jika mendatangi masjid saja tidak mau, lantas kemana lagi kita mencari...