Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

Diam-diam

Bismillahirrahmannirahim Ungkapan ini bukan apa-apa. Belum bisa mengungkap seluruh rasanya. Maknanya dari bagian hati terbawah dan mungkin akan mendapat tempat dibawah. Tak apa-apa, asalkan datang dari hati.         Dalam bilangan waktu yang tidak sedikit. Ada kebaikan yang diredam-redam. Diam-diam. Ada yang melantun doa di sepertiga malam. Diam-diam. Ada yang ikhlas bekerja tanpa keluhan. Diam-diam. Ada yang rela memberi uang tanpa harap imbalan. Diam-diam. Ada yang mengisi ruang dalam diri. Ada yang dengan kedewasaan, ia mengajari arti kesabaran. Ada juga yang dengan sikap tak acuhnya ternyata dalam intipku dia gigih bekerja. Dia yang ikhlas membuatku berkaca malu. Dia yang dengan semangatnya justru mengajarkanku arti lelah. Bukan dari perkataan tapi perbuatan. Dia yang tetap sederhana di antara menara prestasinya. Pun dia yang tidak pernah hadir mengajarkan kesungguhan dalam perjuangan. Dia adalah yang berani mengambil bagian. Sa...

Hello S(kri)Psi

Ada hal yang paling membuat gue kangen dengan rumah. Bukan kangen Bapak dan Ibu, tapi ke adik. Buka-buka buku “coret-coretan” ternyata gue pernah mencatat sms dari adik gue tanggal 27 November 2013 jam 04 : 23 :  29. Anak manis satu itu adalah pengirim doa pertama dan sangat mengesankan. Mba titis happy bithday ya :* ;). Semoga diberikan kesehatan, semoga dimudahkan segala urusannya, diberikan rizki yang berkah. Semoga bisa lanjut kuliah S2... Amiinn :D :D :D (Ayuchan) Ternyata ada hikmah dibalik kebiasaan gak penting gue untuk mencatat ulang sms-sms berkesan dari teman, sahabat, atau keluarga. Disaat sedang mencari-cari semangat untuk menulis skripsi, sumber semangat itu teramat dekat. Beberapa pekan lalu juga ada seorang adik tingkat gue yang kece abis di Psikologi UNS bernama Melinda mengirimkan sebuah pesan. Isinya : Ini kak titis bgt, “reading brings knowledge-writing brings wisdom” Terus ada lagi. “Writing is never about knowing – it’s about sharing ...

#Jepang 3: Takdir

Disaat kita sudah hampir lupa dengan keinginan kita, justru keinginan itu benar-benar terjadi. Aku bikin target. Awal November fiksasi judul Skripsi, kemudian akhir November setelah pleno mulai fokus cari pembimbing dan mulai BAB 1. Diskusi ke beberapa dosen, mulai dari pak Hakim, Bu Menik, sampai pak Arif. Semua berjalan seperti air mengalir. Begitu ada kesempatan, siap maju ke dosen. Alhamdulilah di tengah tegangnya menyiapkan re -organisasi HIMAPSI, Allah kasih kemudahan untuk Skripsi. Tanggapan positif mengenai judul skripsi menjadikan semangat dan optimis untuk menyelesaikan tugas akhir. Hingga suatu hari ada pesan masuk dari seorang adik namanya Adi Sutakwa biasa dipanggil Takwa, isinya “mbak, bulan Februari ke Jepang yuk?”. Eh? Aku kaget. Darimana anak ini tahu kalau aku punya impian ke Jepang? Baru ketemu aja beberapa kali itupun karena dia jadi volunteer gerakan sosial Bakti Nusa UNS Aksi Cinta Budaya Indonesia (ACBI). Akhirnya, aku setujui ajakannya. Beberapa har...

#Jepang 2: Bertemu

Ada rahasia Allah dalam setiap pertemuan. Bisa jadi, orang yang kita temui hari itu adalah perantara rezeki dari Allah buat kita. Bisa juga dari cerita-cerita mereka menjadi bekal untuk kita lebih baik dalam menjalani kehidupan. Intinya, bertemu dengan mereka merupakan salah satu cara Allah mempersiapkan kita untuk “level” kehidupan selanjutnya. Hanya kesabaran yang bisa menjelaskan setiap alasan dari pertemuan yang Allah telah rancang bagi kita. Tahun 2012, sahabatku Sakinah pergi ke Malaysia dan Singapura. Ia bercerita mengenai perjuangan serta “mekanisme langit” yang mengantarkannya sampai ke negeri Jiran untuk mengikuti kuliah umum seorang tokoh pemikiran Islam yang disegani dunia. Beliau adalah Syed Muhammad Naquib Al Attas. Hingga Allah kasih bonus banyak untuknya. Teman-teman di Malaysia dan Singapura yang menyayanginya. Bahagia ketika tahu dia dikelilingi orang-orang yang lebih baik. Di kampus, aku punya kawan hebat bernama Angela R. Anindita. Dia bercerita tentang pe...

Random #2

Orang-orang bilang "Dibalik laki-laki yang hebat pasti ada sosok perempuan yang hebat pula" Kemudian, dalam sebuah perjalanan aku merenung dan sampai pada pemahaman yang lainnya. "Di samping perempuan yang hebat, ada laki-laki yang bijaksana" Tak banyak  laki-laki di zaman digital ini yang bersikap bijaksana bagi perempuan untuk terus menuntut ilmu. Jika dikatakan perempuan adalah pilar peradaban maka jelas perempuan harus cerdas. Ilmu selalu penting sebagai bekal membangun peradaban. Banyak yang mengatakan perempuan itu hanya seputar sumur, dapur, dan kasur. Padahal, untuk bisa memberikan yang terbaik di sumur, dapur, dan kasur, perempuan tetap butuh ilmu. Jadi, buat kamu Fitrah perempuan sejati sebagai Ibu Membangun peradaban Maka, sekolah setinggi apapun tidak pernah sia-sia kalau nantinya akan tetap kembali pada sumur, dapur, dan kasur Tidak! tidak ada yang sia-sia Katanya, kamu ingin jadi perempuan hebat kan? Jangan berhenti ya. Jangan berhenti per...