Langsung ke konten utama

Hello S(kri)Psi

Ada hal yang paling membuat gue kangen dengan rumah. Bukan kangen Bapak dan Ibu, tapi ke adik.

Buka-buka buku “coret-coretan” ternyata gue pernah mencatat sms dari adik gue tanggal 27 November 2013 jam 04 : 23 :  29.
Anak manis satu itu adalah pengirim doa pertama dan sangat mengesankan.

Mba titis happy bithday ya :* ;). Semoga diberikan kesehatan, semoga dimudahkan segala urusannya, diberikan rizki yang berkah. Semoga bisa lanjut kuliah S2... Amiinn :D :D :D (Ayuchan)

Ternyata ada hikmah dibalik kebiasaan gak penting gue untuk mencatat ulang sms-sms berkesan dari teman, sahabat, atau keluarga. Disaat sedang mencari-cari semangat untuk menulis skripsi, sumber semangat itu teramat dekat.

Beberapa pekan lalu juga ada seorang adik tingkat gue yang kece abis di Psikologi UNS bernama Melinda mengirimkan sebuah pesan. Isinya :

Ini kak titis bgt, “reading brings knowledge-writing brings wisdom”
Terus ada lagi. “Writing is never about knowing – it’s about sharing and caring”. Semangat kak skripsinya. Semoga ilmu yang kakak tuangkan dalam skripsi tidak hanya memberi manfaat bagi penulisnya tapi juga pembacanya.

dan...
banyak orang lain Shofia, Anin, Mita, Omot, Devri bahkan pak Arif, pak Nugraha, Bu Rin pun teman-teman yang bahkan sudah bergelar S. Psi.

Skripsi itu tentang pendewasaan diri.
Seni membaca dan menulis di balut kesabaran setiap hari.
Ke kampus untuk menanti.
Jadi, udah deh lo Tis, tuntaskan kewajiban lo yang berserakan kemarin-kemarin.

Demi kamu S.(kri)Psi
Tertanda mahasiswa tingkat akhir yang menyayangimu. Ha ha ha


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...