Langsung ke konten utama

Ketakberdayaan


Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri

“Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?”

Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa.

Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhanya”. Sepertinya, manusia itu selalu tertarik dan akan selalu demikian jika membicarakan hal-hal mengenai dirinya. Manusia selalu penasaran untuk mengenal dirinya dan hakikat kehidupannya serta sampainya ia pada makna kebahagiaan sejati. Buku-buku yang menuliskan tentang kepribadian, sifat, karakter, watak manusia sangatlah laris dan selalu menarik untuk diselami maknanya. Inikah pertanda bahwa sebenarnya manusia disamping penasaran dengan hakikat dirinya ia juga selalu mencari hakikat Tuhan untuk sampai pada perasaan tenang dan damai yang tak tertuliskan nikmatnya? Atau…apakah fitrah manusia adalah senantiasa mencari Tuhannya? Allah yang Esa.

Lantas, kenapa judul tulisan ini ketakberdayaan? Ah ya… ada tambahan jawaban dari pertanyaan yang sering diajukan para peserta itu, “seseorang hanya bisa mengenal dirinya lebih dalam dan sampai pada hakikat Allah dan KuasaNya hanya pada saat ia berada dalam kondisi terlemahnya. Ketakberdayaan.”

Coba kita amati. Manusia lebih banyak menyebut nama Allah saat berada dalam kesusahannya, kesadarannya atas banyak hal yang tidak dalam kuasa pengendalian. Adakah manusia mengingat Allah saat ia tertawa? Bahkan hingga terbahak-bahak? Seringkali dalam tawa itu manusia justru mengeluarkan ungkapan “kotor” dan tidak bernilai kebaikan. Tapi kenapa manusia jauh lebih senang tertawa daripada menangis, padahal beda diantaranya kita tahu bersama, hal mana yang lebih mendekatkan kita pada keberadaan Allah.

Maka, nikmati ketakberdayaan kita. Sebab memang begitulah adanya dan dengan menikmatinya kita akan tenang atas segala Kuasa yang menimpa diri kita atas kehendakNya. Dan begitulah rasanya, bahwa Allah dekat. Teramat dekatnya dalam diri kita, hingga dengan ketakberdayaan itu kita akan bergantung sepenuhnya, yakin bahwa kita berada dalam Tangan Terbaik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...