Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

#Jepang 11: Salju

Pemandangan dari dalam kereta dalam perjalanan menuju kota Sapporo Satu-satu bulir-bulir salju itu turun. Menatapnya dari balik jendela. Adakah kata yang lebih pantas diucapkan selain syukur? Stasiun Orang-orang lalu lalang, Walau badai menerjang. Demi waktu yang tak bisa di ulang. Negeri Matahari Terbit ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga kepercayaan. Jalanan Jika hidup harus memilih, Manakah jalan yang akan kita pilih? Ada banyak persimpangan. Taman Kanak-kanak Walau dingin, bermain adalah rutinitas bagi mereka. Aku bermain maka aku senang. Betapa senyum mereka adalah obat untuk melipatgandakan semangat. Rumah Harta yang paling berharga.. Rumah... Keluarga... Sungai Sungai kecil di University Hokkaido Berjalan lebih jauh...tenggelam dalam cipak suara air... Langit Adakah hati yang seluas langit biru? Pohon  Tetap kokoh. Mengakar, Begitulah Muslim Sepeda Bertahan diantara timbunan Boneka Salju  Terseny...

#Jepang 10: Bertahan

Welcome Hokkaido. Tepat setahun yang lalu Allah izinkan hambanNya yang faqir ini merasakan lembutnya buliran salju. Seorang anak penjual ayam keliling menginjakkan kaki di atas daratan putih. Jika bukan karena kehendak Allah dan izinNya maka tak akan bisa raga serta jiwa ini sampai kesana. Dalam diam saya mencari hikmah mengapa Allah izinkan saya menginjakkan kaki di bumiNya yang penuh salju. Berbeda dengan Tokyo, salju di perfektur Hokkaido sangat banyak dan tebal. Menurut penuturan Mbak Lina salah satu anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hokkaido, suhu saat itu terhitung normal. Dalam cuaca ekstrem, suhu bisa mencapai minus 25 derajat bahkan lebih rendah lagi. Dingin banget! Dan ada kebodohan yang saya lakukan. Alas kaki saya adalah sendal bermerk cross berwarna pink seperti foto di bawah ini. Hahaha Dari sekian banyak persiapan, saya luput mempersiapkan alas kaki yang tepat digunakan untuk musim dingin. Saat ingat sudah dalam posisi siap terbang. Rencana untuk beli se...

Beres-beres Kamar

Pernah baca tulisan singkat yang nempel di tembok kamarnya Iffah. Kalau saya tidak salah ingat isinya “kamarmu cerminan dakwahmu” atau “kamarmu cerminan imanmu”. Akibatnya, saya jadi agak khawatir dengan kondisi kamar saya sendiri. Banyaknya aktivitas seringkali menjadi alasan untuk menunda membersihkan kamar. “Nanti aja deh pas weekend” . Akhirnya saya memerlukan waktu yang cukup panjang untuk membersihkan debu-debu yang menempel dan sawang-sawang yang menggelantung. Kalau analogi debu menempel di kamar itu ibarat nafsu yang menguasai jiwa, maka saya harus lekas memperbanyak istigfar untuk membersihkan jiwa saya yang tentunya sanagt kotor. Memohon ampun. Jika debu yang menempel banyak, waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan kamar juga semakin banyak. Maka jika nafsu itu besar, tenaga yang dikerahkan untuk melawannya juga besar. Betapa beres-beres kamar itu seperti beres-beres diri. Niat jadi hal utama saat akan melakukan suatu kegiatan. Kalau niat beres-beres kamarnya gak koko...