Pernah
baca tulisan singkat yang nempel di
tembok kamarnya Iffah. Kalau saya tidak salah ingat isinya “kamarmu cerminan
dakwahmu” atau “kamarmu cerminan imanmu”. Akibatnya, saya jadi agak khawatir
dengan kondisi kamar saya sendiri. Banyaknya aktivitas seringkali menjadi
alasan untuk menunda membersihkan kamar. “Nanti
aja deh pas weekend”. Akhirnya saya memerlukan waktu yang cukup panjang
untuk membersihkan debu-debu yang menempel dan sawang-sawang yang
menggelantung. Kalau analogi debu menempel di kamar itu ibarat nafsu yang
menguasai jiwa, maka saya harus lekas memperbanyak istigfar untuk membersihkan jiwa saya yang tentunya sanagt kotor. Memohon ampun. Jika debu yang
menempel banyak, waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan kamar juga semakin
banyak. Maka jika nafsu itu besar, tenaga yang dikerahkan untuk melawannya juga
besar. Betapa beres-beres kamar itu
seperti beres-beres diri.
Niat
jadi hal utama saat akan melakukan suatu kegiatan. Kalau niat beres-beres
kamarnya gak kokoh pasti gampang
banget terhasut dengan aktivitas lainnya. Misalnya : nonton, baca buku, nulis,
dll. Kalau kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari tentu
saja kita perlu niat yang kokoh. Sebab Allah kita tak kan merubah nasib kaumNya
jika tak ada upaya maksimal untuk mau berubah.
Setelah
niat, kita juga harus sabar. Sabar memindahkan barang dan membersihkannya
dengan cermat dari debu yang menempel. Mejanya dibersihkan mulai dari kaki
meja, bagian atasnya, pokoknya semua bagiannya deh. Kemudian beranjak ke rak buku, lemari, jendela ventilasi, langit-langit
kamar, kardus-kardus buku, memilah-milah
barang yang masih berguna atau gak,
membersihkan rak piring, juga meja komputer dan perangkatnya. Setelah semuanya dibersihkan,
kita harus menata ulang masing-masing benda ke posisi semula. Kemudian
menggenapi dengan menyapu dan mengepelnya.
Lantas, bukankah beres-beres diri juga butuh kesabaran? Bersabar membiasakan
kebaikan. Biasa bangun subuh tepat waktu dan tidak tidur setelahnya, biasa
membaca Al Quran, membiasakan sunah-sunah Rasulullah SAW. Ada yang pernah
mengatakan bahwa dibutuhkan kekonsistenan selama 40 hari untuk menjadikan perilaku
tertentu menjadi sebuah kebiasaan atau nilai yang terinternalisasi. Seringkali
di tengah proses penginternalisasian nilai tersebut kita gagal. Kemudian kita coba
lagi terus dan terus. Sebab sabar tidak berujung. Justru modal utama hidup
adalah bersabar kemudian melapangkan dada. Bersabar dalam ketaataan...
Selanjutnya
tentang adil. Entah kenapa saat membereskan kertas-kertas dan mengamati seisi kamar.
Saya merasa ada barang-barang di dalam kamar yang belum dimanfaatkan dengan
baik dan maksimal. Misalnya sebuah buku kecil yang saya beli tapi terus-terusan
belum dipakai. Buku-buku yang belum saya baca atau saya baca setengah-setengah,
juga buku-buku sesiapa yang saya pinjam tapi belum saya kembalikan. Hiksss. Ini
jadi refleksi, tentang membeli barang sesuai prioritas kebutuhan bukan
keinginan. Bukankah adil bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya? Pada
haknya. Setidaknya pemahaman adil yang saya dapatkan demikian lewat tulisan
Prof. Attas. Coba kita telaah. Dalam berberes diri, baiknya kita memprioritaskan
kebutuhan-kebutuhan yang akan menunjang perbaikan diri. Memilah ilmu-ilmu yang
menjadi bekal pendewasaan. Salah pilih kebutuhan, justru akan menyakiti diri
kita sendiri. Bahkan justru menumbuhkan penyakit-penyakit hati. Hikss ya Allah,
aku berlindung dari dari sifat zalim kepada kamarku juga pada diriku sendiri.
Terakhir
amanah...
Semua
yang kita miliki hanya titipan. Ya seperti barang-barang yang ada dikamar kita.
Walaupun kita beli dengan uang hasil jerih payah kita tapi semua ada tenggang
waktunya. Sekedar mampir. Banyak sekali amanah di ruang kecil berukuran 3x4
meter ini. Komputer bulik, kardus-kardus buku BaktiNusa, barang-barang mbak
Vera. Saya ingat dulu saya ke Solo bermodal pakaian dan buku, hingga Allah
memudahkan perkuliahan saya dengan pinjaman komputer punya bulik. Semua akan
kembali kepada pemiliknya ketika sudah selesai saya gunakan. Bukankah kita juga
demikian? Semua akan berlalu. Jika kepuasaan beres-beres kamar adalah
kebersihan ruang dan kesiapan saat kamar ditilik oleh teman, maka kepuasan
beres-beres diri adalah kebersihan jiwa. Kesiapan perjumpaan denganNya.
Tapi...dalam
rutinitas beres-beres kamar ada bagian yang paling saya suka. Berlama-lama
dengan kotak kenangan. Di dalamnya saya punya surat, hadiah, dan banyak hal
yang saya simpan dari orang-orang terbaik. Saat membacanya kadang semangat saya
menjadi berkali lipat atau menangis haru juga ketawa-ketawa sendiri. Semua isi
dalam kotak kenangan tersebut menjadi penawar lelahnya membereskan kamar.
Bukankah di salah satu bagian hati kita, kita juga selalu punya tempat untuk
orang-orang spesial kita. Mengenang mereka akan menjadi penambah energi juga menguraikan
syukur sebab dipertemukan dengan mereka. Dalam bagian beres-beres diri,
keberadaan mereka sahabat-sahabat kita seolah menjadi penenang ditengah
cabaran, teman perjalanan dalam kesabaran.
Sekarang, coba tengok
kamar kita. Sudah bersih atau masih banyak debu yang menempel? Kemudian
cerminkan dengan diri kita, adakah “debu-debu” yang menempel pada dinding iman
kita? Selamat beres-beres~
Komentar
Posting Komentar