Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

Akhirnya, Menggenap

Kepada sahabat 'menggila' semasa bangku putih biru. Mulai dari narsis bareng di koridor sekolah. Cerita tentang keluarga 'bego' sama Emeh, Nadira, Mutiara, Amira, Dita, Vemdia dan lain-lainnya. Belum lagi waktu-waktu yang sering kita gunakan untuk sekedar curhat soal kehidupan. Masih ingat dengan sebutan gembel 1, gembel 2, dan gembel 3? Gue lupa kronologi kenapa dulu kita bisa mencetuskan sebutan itu? Ahh. sudahlah itu tadi hanya pengantar sebelum masuk kepada inti dari tulisan ini. Del, tiga tahun kita bareng-bareng. Kemudian lepas dari SMP kita memilih jalannya masing-masing. Lo yang ambil sekolah analis kesehatan sementara gue yang milih ke SMA. Lo yang udah kerja, sementara gue masih jadi anak kuliahan. Enam tahun kita 'berjarak', Del. Secara fisik iya, tapi secara hati insya Allah selalu dekat ya? *tsah*. Buktinya? Walaupun gak  satu bulan sekali ketemu, tapi kita masih menyisipkan waktu ketemu sepadat apapun urusan kerja ataupun yang lainnya. Del, w...

Awal Cerita

Jam di warnet menunjukkan pukul 20.43. Dua puluh menit waktu yang tersisa untuk menuliskan sebuah cerita. Hari kamis dua minggu yang lalu, sesaat sebelum saya berkumpul dengan teman-teman keren Baktinusa UNS, sepupu saya menelpon. Dia bilang mbah Daman kakung meninggal. Saya kaget bukan kepalang. Sebab, sebelumnya beliau masih sangat sehat bahkan kerap menjadi imam di masjid kampung. Beberapa saat kemudian om saya menelpon hingga Ibu saya yang menelpon. Ketika saya angkat, saya menduga Ibu akan langsung memberikan komando apa-apa yang harus saya lakukan esok hari. Tapi...tidak demikian ceritanya. Ketika telepon itu saya jawab. Terdengar suara Ibu Halo? Titis dimana? Lagi kumpul, Bu dengan teman-teman Baktinusa Gimana Jepangnya?  Waa, seru Bu Titis senang gak? (kemudian berceritalah saya) Titis bahagia kan? sesaat itu juga ada telusup haru masuk di benak. Bahkan ketika dalam kondisi yang sebenarnya ada duka yang ingin disampaikannya, tapi selalu ada sempat un...

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb. Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya... Selamat Berlayar, Kapten! Mari Menarik Jangkar Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah... Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang ...

Kepada Mereka

“Ada yg dengan kedewasaan, ia mengajariku kesabaran. Ada pula yang melalui diamnya aku belajar keikhlasan karena dalam intipku ia terus bekerja. Ia yg apa adanya mendikteku kebijaksanaan, bagaimana berlaku hikmah. Yang ikhlas belajar, membuatku berkaca malu. Ada yang melalui semangatnya menunjukkanku arti lelah, bukan dengan ucapan melainkan tindakan. Ada juga yg ketidakhadirannya memberikanku arti perjuangan” -SF- Penggalan puisi di atas mengingatkan saya akan orang-orang yang teramat berarti hadirnya dalam hidup saya. Mereka yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu namanya. Sebenarnya bisa saja saya sebutkan, tapi biar saja itu menjadi rahasia pribadi saya dengan Maha Penjaga Rahasia. Mereka adalah para pemilik mata yang selalu bersyukur melihat keagungan Tuhan di segala penjuru BumiNya. Mereka adalah pemilik kata-kata yang menentramkan orang-orang yang bercengkrama dengan mereka. Mereka adalah para pemilik pundak yang kokoh menjaga amanah-amanah kecil dan besarnya. ...

Memori yang Terserak [5]

Jingga Prambanan Dua belas Agustus tahun 2013 ada cerita bersama jingga. Bersama mereka tempat menyandarkan kepala saat lelah menyapa. Keluarga adalah sebaik-baiknya jeda. Tempat bermulanya peradaban, tempat menggunungnya harapan, dakwah yang tak kunjung usai. Mencintai kalian pada hari-hari dimana jingga menggoreskan warnanya entah pagi atau sore bahkan diantaranya :) Semoga kelak kita berkumpul lagi :) Keluarga Besar Trah H. Muh. Ali (walaupun belum semuanya)

Dear Februari

Dear Februari... Ada hari-hari dimana kita hanya bisa menanti Dalam khusyuk doa dengan segala penghambaan diri Menuliskan mimpi kemudian menyerahkan keputusan pada Ilahi Ya Rabbi...Ridhai perjalanan kami esok hari Menuliskan mimpi itu sejak tahun 2010 silam. Kutuliskan berulang-ulang hingga jengah membacanya. Jelas-jelas disana tertulis September 2014. Kamu tahu? Allah berencana lain, semua proses berjalan sangat cepat dan tepat sesuai dengan mekanisme langit. Wahai Pemilik Semesta, semoga februari bersahabat mengantarkan kami mengunjungi salah satu sudut negeri Sakura :)