Langsung ke konten utama

Selamat Berlayar, Kapten!

Assalamualaikum wr.wb.

Teruntuk seorang pemimpin yang ketika membaca kalimat-kalimat panjang ini baru saja memulai pelayarannya...

Selamat Berlayar, Kapten!

Mari Menarik Jangkar
Bismillahirrahmanirrahim. Dek, hari ini berbangga hatilah kepada mereka-mereka yang sampai detik ini bersedia mensejajari kaki dalam perjalanan  rasa di usia keduapuluhtahunmu. Kelak, bersama merekalah perahumu berlayar menuju suatu pulau yang didalamnya berisi ‘harta karun’ yang diinginkan oleh seluruh semesta. Harta karun yang hanya bisa dicapai atas keRidha-anNya. Insya Allah...

Dek, berbesar hatilah mendidik adik-adikmu dengan segala keluguannya itu. Mengajak mereka berkeliling seantero perahu. Mengajarkan membaca rasi bintang, membentangkan layar saat badai, memasak untuk seluruk awak kapal, dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya. Bersiap untuk pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kadang terlontar dari benak mereka soal perahu yang sedang kamu kemudikan. Kelak, dari merekalah kita belajar tentang arti cinta yang sesungguhnya.

Dek, bersahabatlah dengan kapten-kapten kapal lainnya yang kadang kamu jumpai ditengah pelayaran. Kelak, mereka yang akan menyelamatkan perahumu bila bajak laut tiba-tiba datang menghadang. Asal kau tahu, berkumpul ria dengan celotehan khas para kapten kapal itu kadang menyenangkan sekaligus menyebalkan.

If you worry just pray in silent and then continue smiling..that makes me better... 

Membentangkan Layar 
AWAS...BADAI KAPTEN !!! Bersiagalah dengan segala jenis angin laut. Tak terduga-duga datangnya. Bisa jadi di koordinat A awan terik menyengat, berpindah menuju koordinat B awan cumolonimbus mengirim hujannya. Pasti kamu sudah mengerti kan? Mencintai hujanNya = mencintai terikNya. Semua satu paket. Makanya, pelayaranmu ini semacam perjalanan rasa nantinya. Kalau kau tak percaya coba saja hitung berapa macam emosi yang muncul dalam perjalananmu. Belajar itu tidak melulu melalui kuliah panjang kalau di sekolah kehidupan.

Siapkan layar terbaikmu untuk menahan segala jenis angin sebagai pengendali kemudi. Pilih, awak-awak kapal yang mahir memainkan dayung dalam menjaga kestabilan posisi kapal. Betapa perahumu kelak akan melahirkan seorang bahkan banyak pelaut yang lebih ulung daripada dirimu. Memang, pelaut ulung tidak pernah lahir dari ombak yang tenang. Disanalah sebenar-benarnya tugasmu sebagai qiyadah. Mendidik pelaut selanjutnya.

Badai pasti berlalu...badai pasti berlalu...badai pasti berlalu...

Melepas Jangkar, Mendarat
“Lihat Kapten, kita semakin dekat dengan pulau”, kata salah seorang awak kapalmu. Alhamdulilah. Diakhir perjalanan nanti, hanya akan ada untaian syukur yang berlipat dari nikmat-nikmat Tuhan yang tidak terdustakan. Setelah berhari-hari lamanya melihat biru disekelilingmu, kini ada warna hijau yang kembali meneduhkan mata. Begitulah sebuah pelayaran menuju fase menjadi orang-orang beruntung ke sebuah pulau ‘harta karun’

Ketika tiba kakimu mendarat kelak kaupun akan merasakan apa yang aku rasakan lewat sepenggal puisi yang saya temukan dari salah seorang kawan karib judulnya “Cinta Kelas Bawah”

Ungkapan ini bukan apa-apa. Tidak bisa mewakili bagaimana yg sesungguhnya, makanya kelas bawah. Maknanya dari bagian hati yang terbawah dan mungkin mendapat tempat yg juga dibawah. Tak apa-apalah. Biarlah...biarlah ia mengalir dengan sebagaimana mestinya, yang penting ia Kumpulan hari yg tidak sedikit, mengisi ruang dalam diri. Ada yg dengan kedewasaan, ia mengajariku kesabaran. Ada pula yang melalui diamnya aku belajar keikhlasan karena dalam intipku ia terus bekerja. Ia yg apa adanya mendikteku kebijaksanaan, bagaimana berlaku hikmah. Yang ikhlas belajar, membuatku berkaca malu. Ada yang melalui semangatnya menunjukkanku arti lelah, bukan dengan ucapan melainkan tindakan. Ada juga yg ketidakhadirannya memberikanku arti perjuangan. Biarlah...biar mata lain memandangnya tiada berarti. Arti tidak harus dipamerkan. Ia hanya perlu dicari untuk memastikan keberadaannya. Biarlah...biar usaha belum menempati keberhasilan. Ketidakberhasilan dimatanya tidak bermakna kegagalan di mata-Nya. Jika itu tidak sampai di mata orang lain. Sesungguhnya ia berbuah dalam diri. Dan kebersyukuran mewujudkan berlimpah doa. Tetap semangat, meski tidak semua dituai di sini. (SF)

Baiklah “bukan seberapa cepat perpisahan itu datang, tapi apa yang sempat kita lakukan bersama sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi”. Ada awal, ada akhir. Ada pertemuan, ada perpisahan. Cepat atau lambat. Siap atau tidak. Semua akan tetap terjadi pada kita. Begitulah mekanisme kehidupan terjadi dalam sebuah pertemuan dan perpisahan. Kita memang harus ketemu dulu, untuk bekal kehidupan kita selanjutnya.

Oh iya, lelah itu pasti datang, semangat itu juga terkadang layu. Itulah gunanya ‘jeda’ dalam hidup. Kita duduk sejenak, melihat sekeliling. Mengambil energi dari semesta. Mengambil hikmah yang terserak. Kemudian kembali mengambil peran. Waktu kita tidak banyak di dunia ini. Mari bergegas. Sebelum waktunya tiba.

Maka, semoga jalan inilah yang membuat Allah senang dengan kamu dan kita semua di UNS. Amanah bukan urusan kita dengan mereka atau siapapun di dunia ini, tapi urusan kita dengan Tuhan yang telah menggerakkan hati untuk memilih kita sebagai qiyadah di bumiNya. Teguhlah, kuatkan dua bahu kecilmu karena Allah menciptakan bahu yang jauh lebih kuat dan kokoh dibanding amanahNya. Bersemangatlah dalam misi belajar merawat Indonesia. Kelak, bangsa ini bangga memiliki anak bangsa seperti dirimu, dek. Titip keluarga kecil ini ya. Wariskan nilai-nilainya, cintanya...

*senyum*
Wassalamualaikum wr.wb
Kakakmu, Titis Sekti Wijayanti

Komentar

  1. Halaman ini adalah salah satu halaman favoritku di dunia maya. Selalu menjadi pengingat dalam gerak, penggugur letih di kala menjeda.

    Terima kasih untuk sudah mengajarkan bagaimana mencintai hujan sekaligus terik-Nya. :)
    Salam cinta. Adkmu, yang kamu tahu pasti meski aku tak menyebut nama.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...