Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2013

Menjadi Ibu

Ahad siang di Bukit Ardilaya Dua puluh menit perjalanan melewati sungai Cipalih, pematang sawah, memasuki hutan dan sampailah pada puncak sebuah bukit. Nyaris satu tahun mengeja kata r-i-n-d-u. Saat tiba mereguk kesempatan jumpa, maka tumpahlah semua. Fitrah seorang perempuan itu selalu di rumah. Menjadi reporter atau wartawan itu pekerjaan yang menyenangkan. Keliling dunia! Melihat jingga di banyak kota. Menjadi guru itu keren. Tantangannya mendidik beragam karakter dengan nilai-nilai kebaikan. Menjadi teladan. Tapi, menjadi Ibu teramat mulia. Ya, seyakin itulah kami pada mimpi yang menggantung tinggi di langit sejak duduk di bangku putih biru. Jika kesempatan itu tiba Jika Allah meridhai Jika sampailah bilangan usia pada kesiapan atasnya Maka, tidak ada yang lebih membahagiakan saat hari-hari berisi setiap pengabdian demi membagi ilmu yang selama ini diperjuangkan untuk mereka yang dari kedua matanya mendatangkan ketenteraman bagi yang melahirkannya. Semoga, langkah ka...

Menghening

Hening... Bisa jadi kita saling diam, namun dalam hati mendoa Menggema khusyuknya sampai pada langit Perjalanan tidak melulu soal kesenangan akan bertemu karib dan kerabat. Perjalanan bisa jadi sebagai media mengambil hikmah yang terserak di antara dua jingga yang Allah sudah berikan. Maka, diam bukan berarti kita tidak peduli dengan keadaan apapun. Bisa jadi justru dengan hening, semesta memihak pada doa-doa yang terlantun tulus dari sebuah daging yang bila baik sebagiannya, maka baiklah seluruhnya. Biarlah, semua rasa menanti ketepatannya. Begitulah sabar dan hening bisa jadi jembatan atas ragu yang semakin menggebu... Menanti jingga terakhir di kota Ciamis

Belajar Menyampaikan yang Belum Sampai

Alkisah, kemarin saya pergi ke satu bagian kota tempat saya dilahirkan. Klaten. Bukan perjalanannya yang ingin saya ceritakan Tapi obrolan yang berlangsung ditempat tersebut. Berawal dari saya yang bilang "kalian ini harusnya belajar menjaga perasaan orang lain". Kemudian saya lupa feedback nya apa, terus saya bicara lagi "ya gak bisa gitu dong, kalau kalian mau dingertiin ya coba ngerti orang lain dulu. Gak bisa sepihak". Terus teman saya bilang "Nah, itu kamulah yang harusnya ngertiin juga". Terus saya lupa saya balas apa dan teman saya itu bilang gini "Jadi, menurut kamu, kamu sudah menyampaikan dengan cara yang baik?". Jleb. Teman saya yang satu itu emang ngeselin kalau soal "mengembalikan kata-kata saya". Kesalnya selalu pangkat dua, karena memang langsung bikin saya spechless. Ya begitulah, barangkali beliau itu memang teman saya disini yang paling bisa kasih saya nasihat. Keselnya bukan kesel benci bukan, tapi kesel karena it...

Keras Kepala Vs Berprinsip

Sekitar dua pekan yang lalu. Saya mendapat kesempatan berbagi dengan teman-teman Fisika FMIPA UNS 2013. Ada pertanyaan menarik dari salah seorang adik "Mbak, apa bedanya orang yang keras kepala dan berprinsip?" Saya pernah berpikir hal yang sama dengan sang adik. Dari beberapa buku yang saya baca, saya menyimpulkan. Seseorang yang keras kepala itu berbeda dengan seseorang yang berprinsip. Orang yang memiliki prinsip selalu berlandaskan tata aturan kebenaran. Menurut saya, agama adalah prinsip. Karena saya Islam, ketika saya mengaku orang yang berprinsip maka segala sesuatu yang saya perjuangan, saya ngeyelkan semua termaktub kebenarannya. Itulah orang yang berprinsip. Dia menjunjung tinggi nilai-nilai dan kebenaran dalam agamanya. Kalau orang yang keras kepala. Ya suka ngeyelan  juga sih. Tapi ngeyelnya tidak berlandaskan kebenaran. Alias murni asumsi kebenaran orang yang ngeyel  tersebut. Seketika itu juga pertanyaan si adik menjadi alarm . Sebenarnya lo itu ngeyel ...

Belajar Hidup Dari Musafir [1]

Musafir adalah orang yang melakukan perjalanan. Begitulah secara awam diartikan. Sekilas balik menengok sejarah. Putri. Lahir di Klaten. Usia dua bulan diajak hijrah bersama Bapak ke kota metropolitan. Tinggal di kontrakan Engkong kawasan Jakarta Timur. Usia 4 tahun hijrah ke Bogor. Dulu tempat kami tinggal masih masuk kotamadya Bogor, hingga menginjak bangku Sekolah Dasar barulah menjadi kotamadya sendiri. Depok. Menjalani pendidikan Taman Kanak-kanak dan seragam putih merah di Depok. Sekolah Menengah Pertama di Jakarta Timur, Sekolah Menengah Atas di Jakarta Selatan, Kuliah S1 di Solo. Itu baru pendidikan. Hobi jalan-jalan yang terwaris dari Ayah menjadikan beberapa kota lainnya yang pernah disinggahi. Setelah kilas balik tibalah sepucuk surat dari karib asal Ciamis. Isinya "Tis, belajar hidup dari seorang musafir. Kita ini musafir toh? Tuntutan peran dan semangat menuntut ilmu kadang menjadikan kita harus siap untuk bepergian. Meninggalkan rumah. Meninggalkan kesenangan kit...

Memori yang Terserak [3]

Di dalam Bis menuju Gn. Nglanggeran. Terima kasih pak Supir sudah fotoin kami Power Tough Girls Cups Sholat Subuh Berjamaah di Puncak Gn. Nglanggeran Jingga  Coba liat langitnya. Keren kan :)) Semacam foto keluarga Here we are Ini adalah gaya lama ketika kita sedang Sertijab Lelah...berhentilah sejenak Yeay! Gunung Ngglanggeran Yogjakarta.  Masih sama kalian rangers Azka, Prima, Soang, Babeh, Tio :') Semacam 5 cm. Tapi bedanya, kita bertemu di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Naik trans Jogja ke Giwangan. Nyarter bus ke Nglanggeran 200.000 berenam.  Sensasi tebing, puncak, dan nikmatnya solat Subuh berjamaah di puncak. Well, cuma ada kita waktu itu. Menanti jingga sambil berbicara soal mimpi, cerita gila SMA. Sepenggal cerita yang gak pernah lekang sama waktu.  

Memori yang Terserak [2]

Cheers. Senyum gigi konsisten Menanti lambayung di langit Pok Tunggal Yeay! Pantai Indonesia memang keren Babeh, Tio, Tis, Prima, Soang Kok gue beda gaya sendiri?? Bersama para rangers Pantai Pok Tunggal. Agustus 2013. Babeh, Tio, Prima, Soang :') Terima kasih untuk perjalanan serunya dari Nglanggeran - Pok Tunggal - Terminal Giwangan - Malioboro! Have a super final year in our University. See you on top guys :))))

Aku (Kasihan) Sayang Kamu

Hi, Jingga. Entah kali keberapa aku jatuh hati pada warnamu. Hikmah selalu aku sadari dipenghujung senja. Beberapa pekan lalu, aku membaca sebuah artikel namun ruh tulisan tersebut baru aku rasakan sore ini.  "Kalau Ummi mau sayang sama orang lain, sayangilah dia karena memang dia patut untuk kita sayangi, bukan karena kita kasihan dengan dia jadi kita memaksakan diri kita untuk sayang sama orang itu"  Kalimat di atas itu adalah nasihat yang kurang lebihnya pernah dikatakan kak Nazrul Azwar kepada almh. istrinya. Ahh iya. Kadang kita suka mengambil dalih kita peduli, sayang, cinta. Padahal kita hanya kasihan. Semua orang pantas disayang, dicintai, diberi kesempatan hanya dengan satu alasan. Ini baru sayang diantara manusia. Ibu bapak sayang sama kita, teman-teman sayang sama kita, suami yang insya Allah juga sayang sama kita dan lain-lainnya. Bagaimana dengan Allah? Allah sayang kita semuanya juga pastinya, tanpa mengenal kasihan. Buktinya? Ada banyak hidayah kan set...

Jeda Satu Setengah Jam

Sore kemarin, saat panggilan perut keroncongan melanda, sampilah sebuah pesan masuk ke HP. “Innalilahiwainnailaihiroji’un”. Kembali berita duka sampai di telinga. Tiga berita sekaligus bulan ini. Menatap jalan semakin lesu. Menghelas nafas... Rintik-rintik air bulan Desember menambah kegalauan yang seketika itu muncul setelah membaca kabar duka tersebut. Ada telusup perasaan masuk. Kehilangan. Dua diantara tiga berita duka bulan ini membuat perasaan yang sama. Entahlah. Kenal pun tidak dengan keduanya. Bertemu pun belum pernah. Apalagi berbincang dengan mereka. Sosok pertama adalah seorang akademisi. Saat takziyah , seseorang membacakan aktivitas rutin beliau sebagai seorang dokter. Masya Allah . Semesta berduka. Indonesia kehilangan salah seorang dokter spesialis kandungan terbaiknya. Terbaik? Insya Allah. Well, ketulusan hati orang saat melakukan kebaikan akan sampai kepada hati yang lain. Mekanisme hati memang selalu ajaib. Sosok kedua adalah seorang pejuang kebaikan di ...

Perdana Menteri dan Tukang Dayung #Skripsweet 1

Setibanya dikampus. Tertangkaplah satu sosok yang teramat saya rindukan langkah kakinya menuju ruang-ruang kelas. Bu Menik. Begitulah panggilan akrab beliau. Pendidikan doktoral di UGM menuntut beliau untuk fokus dan mengambil cuti mengajar   serta menjadi pengampu skripsi. Otak saya bekerja cepat membawa langkah semakin dekat pada keberadaan beliau. “Ibu”, salam saya sembari mencium tangan beliau takzim. Kemudian saya tersenyum. Beliau pun membalas senyuman saya. “Kamu yang kemarin sms ya, dek? Gimana skripsimu?”, tanya beliau. “Duh kapan ya ada waktu ngobrol”, tambah beliau. ... Cerita saya pun mengalir spontan mengenai ide yang selama ini membenak. Kegelisahan dan semangat saya akan sebuah isu mengenai lingkungan hidup serta pecinta alam. Masyarakat Mesen sepertinya juga paham soal ketertarikan saya kepada hal-hal tersebut. Seperti beberapa dosen yang saya ajak berbagi soal ide saya tersebut alhamdulilah respon beliau pun sama : antusias. Diskusi pun mengalir rin...

Cinta Kelas Bawah

Ungkapan ini bukan apa-apa. Tidak bisa mewakili bagaimana yg sesungguhnya, makanya kelas bawah. Maknanya dari bagian hati yang terbawah dan mungkin mendapat tempat yg juga dibawah. Tak apa-apalah. Biarlah...biarlah ia mengalir dengan sebagaimana mestinya, yang penting ia datang dari hati Kumpulan hari yg tidak sedikit, mengisi ruang dalam diri. Ada yg dengan kedewasaan, ia mengajariku kesabaran. Ada pula yang melalui diamnya aku belajar keikhlasan karena dalam intipku ia terus bekerja. Ia yg apa adanya mendikteku kebijaksanaan, bagaimana berlaku hikmah. Yang ikhlas belajar, membuatku berkaca malu. Ada yang melalui semangatnya menunjukkanku arti lelah, bukan dengan ucapan melainkan tindakan. Ada juga yg ketidakhadirannya memberikanku arti perjuangan Biarlah...biar mata lain memandangnya tiada berarti. Arti tidak harus dipamerkan. Ia hanya perlu dicari untuk memastikan keberadaannya. Biarlah...biar usaha belum menempati keberhasilan. Ketidakberhasilan dimatanya tidak bermakna ke...

Dari Psikologi UNS Buat Indonesia

Siapa bilang mahasiswa sudah tidak peduli dengan korupsi? Melalui #JujurItuKeren 26 mahasiswa Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) memeriahkan Hari Anti Korupsi Internasional tanggal 9 Desember 2013 di kampus II UNS, Mesen. Aksi digelar pukul 12.00 – 14.00 dengan meminta beberapa mahasiswa bahkan salah satu dosen untuk menuliskan kesan mengenai kejujuran dan korupsi. Selanjutnya, penanggung jawab aksi, Ahmad Shofwan Muis selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI) 2014 mendokumentasikan kesan – kesan yang sudah dituliskan. Shofwan mengungkapkan bahwa aksi digelar untuk menebarkan semangat anti korupsi di civitas akademika Psikologi UNS. Selain itu, Shofwan juga berharap bahwa semangat anti korupsi ini tak hanya pada tanggal 9 Desember, tetapi juga dibawa pada keseharian kita masing-masing sebagai mahasiswa dan pemuda Indonesia. Di bawah ini ada beberapa foto menarik dari aksi #JujurItuKeren yang dapat dilihat selengkapnya pada akun @PsikologiUNS, diantaranya :   ...

Memori yang Terserak [1]

Untuk Seminar Kesehatan Mental tentang anak-anak, judulnya terima kasih ayah, ibu, dan indonesia masa depan mereka sebagai generasi yang sehat, kuat, tangguh terimakasih sudah peduli matahari dan cahayanya di pagi hari biar secerah merekam ingatan kisah pemilik negeri saat sehat setara tidak lapar cerdas semakna bisa bicara senyum sebatas rasa kenyang membayang baca tulis tidak terperi memimpi sandang putih apalah pantas retaknya budi penebus isapan jari malam apabila menutupi cahaya siang terpejamlah dari puas mencuri tidurkan mimpi mencelakai demi berpunya rebahlah angan yang berharap tanpa usaha usai lalu mulai segan meminta katakan saja berharap setiap jalan bertemu pada tujuan seperti tulisan butuh papan, ilmu perlu buku pintar bermula belajar hingga tidak ada biji yang subur tanpa air kesadaran ini berbuah melalui perjuangan denganmu perubahan terjadi tidak sendirian bersamamu pergerakan muncul karna keberanian sambu...