Langsung ke konten utama

Cinta Kelas Bawah

Ungkapan ini bukan apa-apa. Tidak bisa mewakili bagaimana yg sesungguhnya, makanya kelas bawah. Maknanya dari bagian hati yang terbawah dan mungkin mendapat tempat yg juga dibawah. Tak apa-apalah.
Biarlah...biarlah ia mengalir dengan sebagaimana mestinya, yang penting ia datang dari hati
Kumpulan hari yg tidak sedikit, mengisi ruang dalam diri. Ada yg dengan kedewasaan, ia mengajariku kesabaran. Ada pula yang melalui diamnya aku belajar keikhlasan karena dalam intipku ia terus bekerja. Ia yg apa adanya mendikteku kebijaksanaan, bagaimana berlaku hikmah. Yang ikhlas belajar, membuatku berkaca malu. Ada yang melalui semangatnya menunjukkanku arti lelah, bukan dengan ucapan melainkan tindakan. Ada juga yg ketidakhadirannya memberikanku arti perjuangan
Biarlah...biar mata lain memandangnya tiada berarti. Arti tidak harus dipamerkan. Ia hanya perlu dicari untuk memastikan keberadaannya.
Biarlah...biar usaha belum menempati keberhasilan. Ketidakberhasilan dimatanya tidak bermakna kegagalan di mata-Nya

Jika itu tidak sampai di mata orang lain. Sesungguhnya ia berbuah dalam diri. Dan kebersyukuran mewujudkan berlimpah doa. Tetap semangat, meski tidak semua dituai di sini.


Coretan diatas saya temukan dan simpan hampir satu tahun. Penulisnya adalah karib saya yang luar biasa. Tapi kalau teman-teman suka dengan kalimat-kalimat tersebut. Doakan saja yang membuatnya berlimpah keberkahan. 

Well, untuk mereka yang senantiasa mencintai ilmu yang dengan kebersahajaannya menjaga iman 

*senyum*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...