Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Orang-orang yang Berjalan Cepat

Pagi. Langit masih muram sejak kedatanganku pukul 02.30. Ku lirik handphone dalam tas. Waktu menunjukkan pukul 04.30. Tak terasa, sudah dua jam aku tertidur di bangku stasiun dalam posisi duduk sambil memeluk tas. Stasiun sudah ramai pengunjung. Ahh... lekaslah menunaikan kewajiban dulu sebagai seorang hamba. "CL ke Depok, mas" ujarku kepada petugas Ku ulurkan lembaran biru yang kumiliki, ku amati kartu itu dengan saksama. Sistem perkereta-apian di kota ini semakin baik pelayanannya. "Mbak, kalau udah minggir, gantian" kata salah seorang laki-laki di belakangku. "Oh iya, maaf" kataku   Berhentilah melamun batinku. Pagi masih sangat belia. Di kota perantauan, mungkin aku masih mengerjakan pekerjaan "rumah" belum beraktivitas di luar kos. Memasuki peron, ku amati sekeliling. Hampir sebagian besar berjalan menunduk dengan langkah kaki terburu-buru. Beberapa di antaranya menyumpal telinga dengan headset. Entah lagu apa yang sedang mereka den...

Kucing

Di kampung belimbing tempat saya tinggal, para tetua kampung sering mengatakan "Kucing itu hewan kesayangan Rasulullah SAW". Ketika ada yang menghardik kucing, seringkali kami (saat itu masih kecil) dimarahin habis-habisan oleh Wak Haji. Tetangga saya bahkan memiliki kucing banyak sekali. Heran saya dibuatnya. Namun, keheranan ini belum seberapa dengan yang saya alami sendiri di rumah. Cerita bermula lima tahun lalu, waktu kami menemukan seekor anak kucing. Ibu menamakannya Cimeng maksudnya si Meng (orang-orang sini memanggil kucing dengan "meng" karena suaranya "meong-meong"). Terdengar unyu. Ibu, kakak, dan adik saya sayang banget sama Cimeng. Saat Cimeng masih sangat kecil Ibu rutin membuatkan susu untuknya. Beranjak besar di belikan ikan segar untuk makan. Pakde tukang sayur belakang  rumah paham betul pesanan Ibu setiap hari. Bermula dari Cimeng kemudian bertambah banyaknya hingga pernah mencapai 11 ekor kucing yang Ibu berikan makan. Bagaimana d...

Surat Untuk Ananda

Umm... Jadi, ceritanya kemarin iseng ikutan event menulis surat untuk calon anak. Tulisan ini (mungkin) akan gue kasih saat anak gue umur 17 tahun nanti. Kalau kesempatan itu tiba dan Allah meridhai tentu saja. Aamin. Begini isinya... Assalamualaikum wr.wb Dear anak Bunda yang sholeh, Semoga saat membaca tulisan ini, abang sedang berada dalam suasana hati yang baik dan lapang sambil dihiasi "lengkung yang meluruskan segalanya". Sebab itulah pertanda saat kebahagiaan sedang hadir dalam diri kita. Bang, Allah memberi kita dua jingga, keduanya adalah hal yang paling dinanti dimuka bumi. Pada bilangan waktu diantara dua jingga. Disanalah doa Bunda terlantun menanti hadirmu. Memantaskan diri terus-menerus agar Allah memercayakanmu pada Bunda. Di tanggal tujuh bulan kesebelas. Bagi orang lain boleh jadi waktu itu tanpa makna. Namun, bagi Bunda dan Ayah, hari itu adalah sejarah. Ayah mengadzankanmu kemudian Bunda menatapmu lekat dalam buaian. Kebahagiaan kami menggenap deng...

SMA Negeri 28 Jakarta

Bulan ketujuh tahun 2007. Ditemani Ibu, kaki ini menjejak pertama kali di gedung megah itu. Bukan megah secara fisik, namun megah secara kualitas ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dari lima pilihan sekolah yang ada, yakni : SMA 28, 38, 39, 99, 98. Allah memberikan tempat belajar di SMA 28. Sekolah ini ajaib. Masa Orientasi Siswa (MOS) yang biasanya diberikan penugasan untuk membuat beragam prakarya aneh, saya malah hanya disuruh duduk kemudian mendapat banyak ceramah. Permainan yang diberikan kakak OSIS juga ajaib. Tebak-tebakan yang benar-benar mempermainkan cara kerja otak pada umumnya. MOS berlangsung tiga hari di sekolah dan tiga hari di Rindam. Rindam? Iya rindam. Kami memakai pakaian putih dan celana jeans selama 3 hari. Pagi-pagi sudah dibariskan untuk apel. Makan harus dihabiskan. Jurit malam, kemudian ditakut-takuti dengan pocongan melayang. Kami juga diajari lagu-lagu para tentara itu. Belum lagi paket ESQ dua hari yang membuat mata bengkak dan pesantren kilat di Sukabumi y...

Random #1

Bunda, dari mana datangnya cinta? katanya dari mata turun ke hati, ya? Tentu saja datangnya dari Allah. Allah titipkan pada hati setiap manusia. Mata, telinga, lisan hanya "jembatan" agar cinta tidak berhenti pada satu hati, tapi sampai kepada hati yang lain. Itulah apapun kebaikan yang dari hati pasti sampai ke hati yang lain. Tanpa abang perlu memberikan banyak alasan dan penjelasan.   

Bunga-bunga Wisuda

18 Januari 2014 Hari bersejarah untuk salah seorang inspirator. Panggil saja namanya Febri Ekayanti. Kakak guru gue yang teramat keren. Wisuda selalu aja jadi tempat pendewasaan diri buat kita (gue dan kakak gue). Kenapa? Sebab, bapak dan Ibu selalu bisa mengajarkan kami berpikir dari perspektif yang berbeda. Termasuk kemarin. Cerita dimulai karena undangan wisuda hanya diperuntukkan oleh satu orang. Kebingungan terjadi. Siapa yang berhak masuk? Ibu? atau Bapak? Tapi keputusannya adalah GUE.Ya, gue yang datang ke wisuda kakak gue. Kenapa? karena Ibu gue memberikan alasan "Kalau Ibu masuk, bapak gimana? Kalau bapak masuk, Ibu juga ingin masuk". Jadilah hanya gue dan kakak gue yang berangkat. Kakak gue mungkin sedih, karena yang meihatnya memakai toga gagah hari itu bukan Bapak ataupun Ibu. Setibanya di TMII (tempat wisuda berlangsung), gue duduk diantara tamu undangan. Prosesinya khidmat banget. Beberapa kali gue menitikkan air mata. Dengan tidak datangnya Ibu dan Ba...

Rumah

Lebih baik disini rumah kita sendiri, segala nikmat dan anugerah yang Kuasa. Semuanya ada disini (Rumah Kita) and wherever i wonder, the one thing i've learn. It's to here, i'll always return (This is where i belong, Bryan Adams) Tahukah rasanya berlayar di birunya lautan kemudian kau kembali melihat bentangan warna hijau? Kembali mendarat. Begitulah rasanya pulang, Kapten. Hari-hari bahkan menit-menit menuju pulang merupakan waktu-waktu yang panjang, namun ada banyak sekali kejutan. Sebuah artikel di koran Joglosemar, telpon salah satu staff Kemenpora, akreditasi. Fiuh, rasanya saya sudah mengatur penyelesaian deadline dengan sebaik mungkin untuk pulang. Tapi...selalu ada kejutan sebelum saya pulang. Ada apa dengan Solo dan hidup saya? -___- Kemarin, hampir saya ketinggalan kereta karena sibuk dengan handphone sampai tidak sadar kalau keretanya sudah datang. Di kereta, berkali-kali saya telpon salah seorang adik tingkat sampai tidak fokus dengan teman duduk saya. Ma...

Tempat Sampah

Hari ini aku bercerita. Soal ruang yang selama ini Dia beri. Polanya sama : kosong - isi - kosong - isi begitu seterusnya. Silih berganti yang menempati. Tak peduli banyaknya detik yang terlampaui. Bagi sebagian orang, ruang itu teramat berharga. Ruang inspirasi yang terserak. Tapi, bagi sebagian lainnya ruang itu hanya sebuah tempat singgah biasa. Aku menyebutnya seperti sebuah buku, setengah kosong, setengah isi.  Ruang itu adalah sebuah lubang dengan diameter beragam tempat semua orang memasukkan yang disebutnya  sampah . Menurut Wikipedia sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Apa selamanya sampah berarti sisa dari suatu proses?  Umm mari kuceritakan lebih lanjut... Tahun lalu, temanku berjalan. Menepi pada sebuah tempat pembuangan sampah. Dilihatnya segulung kertas. Dibacanya. Dimaknainya. Cintalah iya akan makna yang terkandung di dalamnya. Disimpannya. Belum lagi orang-orang cerdas yang bisa memanfaatkan "sam...

Menempatkan Cinta

Abang, mencintaimu adalah mencintai Ayah. Mencintai Ayah adalah mencintai Allah. Sebab, ridha Allah untuk Bunda ada pada Ayah. Maka, ada yang ingin Bunda tekankan padamu bahwa sepanjang apapun rangkaiannya, segala cinta selalu berujung padaNya. Selalu.  Semacam pesan seorang Bunda kepada anak laki-lakinya :) Kak, tidak akan pernah ada persahabatan yang abadi. Kecuali, persahabatan yang simpulnya berada atas kuasa ikatanNya Semacam pesan seorang Bunda kepada anak perempuannya :) Adik, ada ataupun tanpa Bunda dan Ayah. Cintailah abang dan kakak karenaNya. Iya sayang, karena Allah.  Adil itu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Mengeja adil hari demi hari. Yosssh!

Iman

Pekatnya awan tidak sama sekali meragukanku akan keberadaan bintang. Meskipun malam ini mataku tidak menemukan setitikpun cahaya di angkasa. Sungguh itu sama sekali tidak menggeruskan keyakinanku. Semoga iman kita bahkan lebih teguh dari keyakinan itu (Saki, 30 Desember 2013, 20 : 24 : 29) Pesan singkat itu masuk setibanya kaki di kamar kosan setelah perjalanan Ciamis - Jogja - Solo dalam rangka jumpa dengan seorang karib. Ah iya, malam itu langit kelabu, tanpa kerlip, atau sorot bulatan terang benderang. Tapi bintang tetap berserak di angkasa. Walaupun raga kami belum sampai pada tempat bintang berkumpul, kami yakin mereka disana. Berpendar kesana kemari.  Yakin. Mengakarlah. Mengokohlah keyakinan kita. Iman kita dalam hati, lisan, maupun tindakan.  Nak, kelak ada ataupun tanpa Bunda mendoalah agar Iman kita terus meneguh tanpa keluh. (Berasa nasihatin anak, padahal nasihatin diri sendiri) Oh iyaa, kalau kamu lihat langit, sesekali ada satu bintang yang bersi...

No Better Than Destiny

"Tis :) ngerasa g sih no better than destiny  :) rumh kmu deket UI. Tp km kuliah di UNS. Kmu yg belum berhijab kemudian berhijab, kemudian AAi, kemudian *i*o. Allah kenalkan pada Himapsi, Bem, Dompet Dhuafa. Ah, tis :') nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan :') kita seringnya ngeluh pdhl Allah bnyk berikn jln bgi kita bertumbuh smkin dewasa :) selamat pgi, selmt beraktivitas dgn penuh syukur" 25 November 2013 09 : 20 : 49 Kemarin, kembali ke Jogja (lagi). Dalam perjalanan Solo - Jogja, meluncurlah cerita itu dari mulut ini. Ya, no better than destiny .  Manusia berhak merencanakan, tapi Allah yang berhak memberikan yang terbaik.  Sudah punya rumah di Klaten, kemudian pindah ke Jakarta, pindah lagi ke Bogor yang sekarang jadi Depok dan sekarang kembali ke Solo.  Ada tiga sekolah dasar Tugu VI, VIII, dan XI. Tapi hati tergerak untuk masuk SDN Tugu VI.  Ingin masuk SMP 91, Allah berikan tempat di SMPN 102.  Bertekad keras untuk SMA 38, te...

Kalau Kita Berpikiran yang Sama

Beberapa waktu lalu ngobrol dengan salah seorang kakak di sebuah kedai makan. Bertuturlah ia tentang sebuah kegelisahan. "Tis, kalau, setiap orang yang mendaki gunung berpikiran ahh, gak papa hanya membawa satu tangkai edelweis. Bagaimana gunung-gunung Indonesia 5, 10, bahkan 50 tahun lagi?" Gue masih ingat petuah senior gue dulu. Kill nothing but time, Take nothing but picture, Leave nothing but footprints. Gue yakin semua yang (katanya) pecinta alam tahu banget kata-kata tersebut. Berkali-kali ditekankan saat Diksar, Latsar, apapun namanya. Jangankan edelweis, kadang ada aja yang usil bawa batu dari gunung. Katanya sih buat kenang-kenangan. Kalau semua orang berpikiran hal yang sama soal batu yang jadi kenang-kenangan. Kira-kira batu di gunung tinggal berapa? Tapi poin tulisan ini bukan berapa banyaknya batu di gunung apalagi bunga edelweis... Poin tulisan ini ada dikisah dibawah ini. Cerita ini gue dapet dari salah seorang kakak guru gue di UNS, gara-gara gue gak baw...

SMS yang Terserak [1]

"dan rupanya Allah hny sdg mnunda kesenangan kita, ia ingin melihat bgm ssuatu itu direlakan hnya smata2 karenaNya dan bukan krn apapun.. Allah ingin melihat kesungguhan kita mencari wajahNya. Tis, ditengah kekotoran jiwa kita.. sdgkan kita hny disuruh menunggu" 21 Januari 2013 pukul 23 : 22 : 01 Ada tiga kebiasaan yang saya lakukan : 1. Menuliskan sms-sms berkesan ke dalam jurnal kehidupan saya 2. Mencatat ulang atau membuat rangkuman dari buku yang saya baca 3. Memasukkan segala macam surat, kartu ucapan, tulisan berkesan ke dalam kotak ajaib Membuka-buka salah satu diantaranya selalu menemuka hal menarik. Tidak hanya untuk dikenang. Melainkan sebagai bekal perjalanan selanjutnya. Kok bisa? Rasanya seperti ketika kita membaca arti ayat-ayat Al Quran dan maknanya sangat sesuai dengan kondisi yang sedang atau sering kita alami. Maka, seperti itulah kegunaan jurnal kehidupan dan kotak ajaib yang saya miliki. Kalau dibaca berulang kali kadang geli, takjub, dan suka be...

Obrolan Meja Makan [2]

Menelusup pada benak, mencari memori lima tahun yang lalu. Masih dimeja makan  yang sama, Bu. Bersamamu.  Kata orang, masa SMA adalah masa-masa yang paling membahagiakan. Di saat teman-teman yang lain sibuk dengan pasangan masing-masing lewat Ibulah pemahaman mengenai masa muda yang sesungguhnya terajarkan. Berkelana dari satu kota ke kota yang lainnya, berkenalan dengan banyak orang, menjelajah, mencari-cari kebenaran akan pertanyaan yang membenak.  "Bu, kenapa Ibu ngebolehin tis pergi kemanapun tis mau? Gak khawatir. Lebih-lebih lagi Ibu, Bapak juga jarang menelpon kalau tis sedang di luar rumah"  "Emang Ibu, Bapaknya temanmu gimana"  [dan aku membandingkanmu, membandingkan kalian]  kemudian Ibu menghela, menjawab kegundahan dengan jawaban sempurna  "Prinsip Ibu hanya satu, Ibu gak mau anaknya menyesal. Kamu masih muda silahkan cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Harapan Ibu satu, nanti kamu tidak menyesal. Ibu percaya sudah sama ...

Obrolan Meja Makan [1]

Kalau kau suka makan bilang saya Saya! Meja makan adalah tempat favorit yang dikunjungi begitu masuk kamar dan selesai berbenah diri sepulang dari sekolah. Siang itu, seperti biasa rumah lengang. Bapak mengantar pesanan, kakak kerja, adik main. Menyiduk nasi sajalah. Melengkapi lauk eeh ada suara "Assalamualaikum" khas suara Ibu "Ibu udah pulang jualan? tumben " "Iya, Alhamdulilah  ramai hari ini" Kebiasaan di rumah kami adalah membagikan kejadian apa saja yang kami temui selama di sekolah atau tempat kerja bersama Ibu. Seletih apapun Ibu sepulang jualan, selalu tersisip 'sempat' bagi kedua telinga Ibu mendengar celoteh kami. Kebetulan! Moment yang pas untuk mengadu keluh kesah di Sekolah. Hanya kami berdua "Bu, masa ya tis diancam gak naik kelas kalau ikut lomba (dulu ada suatu lomba yang memang agak pelik untuk diikuti, karena pelatihnya juga agak-agak gimana gitu). Gimana coba bu muridnya ikut lomba gak boleh? Ibu ke sekolah ya,...

Memori yang Terserak [4]

Assalamualaikum wr.wb. Dear Symphony, Semoga saat membaca tulisan ini, kita semua sedang berada dalam suasana hati yang baik dan lapang sambil dihiasi ‘lengkung yang meluruskan segalanya’. Sebab itu pertanda kebahagiaan sedang hadir dalam diri kita. Segala puji bagi Allah telah menjadikan HIMAPSI sebagai ‘kado’ pendewasaan diri di genap dua puluh tahun saya berkesempatan hidup. Semua bermasa. Bermula dan berakhir pada angka. Sunatullahnya begitu kan ? Dulu, saya pernah mengatakan “ Bukan seberapa cepat perpisahan itu datang, tapi apa yang sempat kita lakukan bersama sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi ”. Ada awal, ada akhir. Ada pertemuan, ada perpisahan. Cepat atau lambat. Siap atau tidak. Semua akan tetap terjadi pada kita. Terima kasih Symphony. Terima kasih untuk seluruh Pengurus Harian Tetap maupun pengurus lainnya, adik-adik keren angkatan 2011 dan 2012. Membersamai kalian adalah keberuntungan nikmat yang tak terdustakan sekaligus hadiah terkeren yang pernah saya d...