Pekatnya awan tidak sama sekali meragukanku akan keberadaan bintang. Meskipun malam ini mataku tidak menemukan setitikpun cahaya di angkasa. Sungguh itu sama sekali tidak menggeruskan keyakinanku. Semoga iman kita bahkan lebih teguh dari keyakinan itu (Saki, 30 Desember 2013, 20 : 24 : 29)
Pesan singkat itu masuk setibanya kaki di kamar kosan setelah perjalanan Ciamis - Jogja - Solo dalam rangka jumpa dengan seorang karib. Ah iya, malam itu langit kelabu, tanpa kerlip, atau sorot bulatan terang benderang. Tapi bintang tetap berserak di angkasa. Walaupun raga kami belum sampai pada tempat bintang berkumpul, kami yakin mereka disana. Berpendar kesana kemari.
Yakin. Mengakarlah. Mengokohlah keyakinan kita. Iman kita dalam hati, lisan, maupun tindakan.
Nak, kelak ada ataupun tanpa Bunda mendoalah agar Iman kita terus meneguh tanpa keluh. (Berasa nasihatin anak, padahal nasihatin diri sendiri)
Oh iyaa, kalau kamu lihat langit, sesekali ada satu bintang yang bersinar paling terang. Aku menyebutnya Bintang Berani. Iya berani. Sebab, disaat yang lain meredup, ia memilih bertahan walaupun ia punya pilihan sama seperti bintang yang lain
Malam ini, Maulid Nabi Muhammad SAW. Lihat! Bintang berserak, bulan berpendar. Berikan alasan untuk tidak bersyukur melihat suguhan malam ini?
Komentar
Posting Komentar