Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Melihat dengan Lebih Baik

Ada banyak hal yang bisa disyukuri dalam kehidupan. Salah satunya kesempatan bekerja sekaligus belajar sebagai seorang guru PAUD dan asesor. Alhamdulillah juga dipertemukan dengan guru yang senantiasa bersabar dalam membimbing serta memberikan kesempatan yang luas untuk menuangkan ide, pemikiran, meskipun dengan batasan-batasan. Hampir setahun purna dari kampus. Bilangan hari yang tidak sedikit, tapi begitu menikmati setiap cabaran yang datang. Mimpi itu masih nyata. Studi lanjut dengan peminatan di bidang pendidikan ataupun sosial.  Ada banyak orang yang menaruh harapan. Aku pun berharap. Tapi entah kenapa, semacam ada magnet yang menjadikan tetap bertahan di kota ini. Pasca lulus justru Allah pertemukan satu persatu dengan banyak orang yang memiliki kesamaan cita, visi, dan misi. Ini yang mahal. Doa-doa kecil yang kemudian Allah jadikan kenyataan. Mulai dari bertemu dengan seorang Ibu yang terpaut usia 10 tahun, namun apa yang ada dalam pikirannya persis seperti yang sa...

Jenderal Berjiwa Besar

[Kesan dari Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Buya Hamka)] “…setelah ada pertanyaan, mengapakah Sudirman yang diangkat menjadi Panglima Perang Besar? Apa sekolahnya pernahkan dia ke Breda (Akademi Militer di Belanda)? Dan kabarnya konon dia hanya guru Muhammadiyah. Seakan-akan nama Muhammadiyah itu saja sudah cukup buat memandangnya orang enteng. Saya pun kadang-kadang berperasaan demikian. Apakah kebesaran Sudirman itu? Di tahun 1941, ketika kami kongres di Yogyakarta, saya sudah konsul Muhammadiyah, sedangkan Sudirman baru WMPM, Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah, jauh di bawah saya. Tapi tuan, ini adalah jiwa besar, dan cahaya dari jiwa yang besar kerap benar timbulnya dari tempat yang kecil. Pilihan kepada Sudirman bukan kepada diplomanya, tetapi pilihan kepada Sudirman adalah kepada jiwanya, walaupun ketika badannya sehat sekalipun tubuhnya hanya sederhana landai, tetapi matanya berapi, mata yang tidak mengenal patah hati di dalam menuju cita-cita besar. Banyak Jenderal Ma...

Sepanjang Jalan Kita

Diantara bergugurannya daun angsana, ada yang membuncah dalam dada. Sayang jika kerinduan ini tidak diluapkan. Saat semuanya berlomba mengabadikan keindahan gugurnya angsana melalui lensa kamera, mata ini mencoba merekamnya dengan frame yang lebih luas. Menikmati setiap jangkauan cahaya sehingga orang-orang yang melintas disekitarnya menjadi objek yang juga berkesan. Bau khas gugurnya angsana, tanah yang basah, lalu lalang manusia... Sungguh mengingatkan diri ini tentang mereka... Kami pernah berjalan bersama, menyusuri gang-gang sempit, membersamai teriknya siang, menikmati dinginnya malam. Bergandengan tangan, sesekali berangkulan. Namun lebih banyak lagi perjalanan itu kita habiskan untuk menghimpun pelajaran. Belajar tentang berbagi, tabiat-tabiat manusia dan kehidupannya, keikhlasan, pengorbanan, senyuman, dan banyak hal lainnya. Kenangan itu muncul berkelebat. Seperti nasihat ibu saat menatap lampu neon sebuah rumah besar, “orang-orang banyak yang memiliki ...