Ada
banyak hal yang bisa disyukuri dalam kehidupan. Salah satunya kesempatan
bekerja sekaligus belajar sebagai seorang guru PAUD dan asesor. Alhamdulillah
juga dipertemukan dengan guru yang senantiasa bersabar dalam membimbing serta
memberikan kesempatan yang luas untuk menuangkan ide, pemikiran, meskipun
dengan batasan-batasan.
Hampir
setahun purna dari kampus. Bilangan hari yang tidak sedikit, tapi begitu
menikmati setiap cabaran yang datang. Mimpi itu masih nyata. Studi lanjut dengan peminatan di bidang
pendidikan ataupun sosial. Ada
banyak orang yang menaruh harapan. Aku pun berharap. Tapi entah kenapa, semacam
ada magnet yang menjadikan tetap bertahan di kota ini. Pasca lulus justru Allah
pertemukan satu persatu dengan banyak orang yang memiliki kesamaan cita, visi,
dan misi. Ini yang mahal. Doa-doa kecil yang kemudian Allah jadikan kenyataan.
Mulai
dari bertemu dengan seorang Ibu yang terpaut usia 10 tahun, namun apa yang ada
dalam pikirannya persis seperti yang
saya renungkan saat menjadi mahasiswa. Tiga tahun sebelumnya pernah punya
keinginan belajar langsung dengannya. Namun, hari ini bukan hanya belajar, tapi
berkarya bersama.
Belum
lagi dengan lingkungan bekerja yang terjaga, ditambah ilmu baru setiap harinya.
Meski pernah bergelayut dalam dada, “mending kamu fokus aja persiapan S2, gak usah capek-capek ngurus ini itu”.
Tapi keterbatasan dan ketakberdayaan kita selalu saja ada hikmah besar yang
Allah ingin perlihatkan. Hingga nasihat itu datang, “kamu jangan melihat bahwa
kamu itu tidak berhasil hanya karena kamu belum bisa studi lanjut. Coba kamu
renungkan, hari ini pun kamu belajar, bahkan setiap harinya. Kamu berkuliah.
Langsung. Gurumu adalah anak-anak itu, masyarakat, mamah-mamah. Kamu sedang
belajar. Meski yang membedakan, dalam setiap ilmu yang Allah berikan kamu tidak
mendapatkan gelar dan diwisuda”.
Tak
hanya itu. Dalam pergiliran waktu yang Allah buat, ada pula guru lainnya yang
selalu memberi kesempatan untuk memandang seseorang dari sisi positifnya.
Teringat pula nasihat tentang prasangka baik. Salah satu tools yang harus dipegang oleh seorang
asesor adalah pandangan objektif dan memandang seseorang dari sisi positif.
Jeli menangkap hal disebaliknya. Alasan dari setiap perilaku dan perkataan yang
ditunjukkan sehingga kita akan bisa memberikan penilaian yang objektif terhadap
seseorang. Beliau selalu bilang,. “gak mungkin
semua orang jelek, Tis. Gak mungkin
juga orang itu sangat baik dan tidak memiliki kesalahan.”
Aah
iyaa, mungkin kita memang harus meluaskan mata hati dan jiwa kita sehingga
lebih luas lagi menangkap setiap karunia yang Allah berikan pada kita untuk
setiap penangguhan. Allah hanya meminta kita bersabar. Ya bersabar…akhlak yang
paling banyak Allah sebutkan dalam Al Qur’an. Apalagi kalau merenungkan surat
Ali Imran ayat 200.. Rasanya mata selalu berkaca-kaca… Allah hanya minta kamu
untuk berjuang, bersabar, bersabar… Seperti yang Ibu sampaikan pula dalam
kesempatan terakhir saat pulang.. Sabar
kita tidak terbatas…
Jadi,
mari melihat dengan lebih baik.
Coba
tinggalin lensa kameranya sebentar, mata kita lebih banyak bisa menjangkau
hikmahnya :)
Komentar
Posting Komentar