Langsung ke konten utama

Melihat dengan Lebih Baik

Ada banyak hal yang bisa disyukuri dalam kehidupan. Salah satunya kesempatan bekerja sekaligus belajar sebagai seorang guru PAUD dan asesor. Alhamdulillah juga dipertemukan dengan guru yang senantiasa bersabar dalam membimbing serta memberikan kesempatan yang luas untuk menuangkan ide, pemikiran, meskipun dengan batasan-batasan.

Hampir setahun purna dari kampus. Bilangan hari yang tidak sedikit, tapi begitu menikmati setiap cabaran yang datang. Mimpi itu masih nyata. Studi lanjut dengan peminatan di bidang pendidikan ataupun sosial.  Ada banyak orang yang menaruh harapan. Aku pun berharap. Tapi entah kenapa, semacam ada magnet yang menjadikan tetap bertahan di kota ini. Pasca lulus justru Allah pertemukan satu persatu dengan banyak orang yang memiliki kesamaan cita, visi, dan misi. Ini yang mahal. Doa-doa kecil yang kemudian Allah jadikan kenyataan.

Mulai dari bertemu dengan seorang Ibu yang terpaut usia 10 tahun, namun apa yang ada dalam pikirannya persis seperti yang saya renungkan saat menjadi mahasiswa. Tiga tahun sebelumnya pernah punya keinginan belajar langsung dengannya. Namun, hari ini bukan hanya belajar, tapi berkarya bersama.

Belum lagi dengan lingkungan bekerja yang terjaga, ditambah ilmu baru setiap harinya. Meski pernah bergelayut dalam dada, “mending kamu fokus aja persiapan S2, gak usah capek-capek ngurus ini itu”. Tapi keterbatasan dan ketakberdayaan kita selalu saja ada hikmah besar yang Allah ingin perlihatkan. Hingga nasihat itu datang, “kamu jangan melihat bahwa kamu itu tidak berhasil hanya karena kamu belum bisa studi lanjut. Coba kamu renungkan, hari ini pun kamu belajar, bahkan setiap harinya. Kamu berkuliah. Langsung. Gurumu adalah anak-anak itu, masyarakat, mamah-mamah. Kamu sedang belajar. Meski yang membedakan, dalam setiap ilmu yang Allah berikan kamu tidak mendapatkan gelar dan diwisuda”.

Tak hanya itu. Dalam pergiliran waktu yang Allah buat, ada pula guru lainnya yang selalu memberi kesempatan untuk memandang seseorang dari sisi positifnya. Teringat pula nasihat tentang prasangka baik. Salah satu tools yang harus dipegang oleh seorang asesor adalah pandangan objektif dan memandang seseorang dari sisi positif. Jeli menangkap hal disebaliknya. Alasan dari setiap perilaku dan perkataan yang ditunjukkan sehingga kita akan bisa memberikan penilaian yang objektif terhadap seseorang. Beliau selalu bilang,. “gak mungkin semua orang jelek, Tis. Gak mungkin juga orang itu sangat baik dan tidak memiliki kesalahan.”

Aah iyaa, mungkin kita memang harus meluaskan mata hati dan jiwa kita sehingga lebih luas lagi menangkap setiap karunia yang Allah berikan pada kita untuk setiap penangguhan. Allah hanya meminta kita bersabar. Ya bersabar…akhlak yang paling banyak Allah sebutkan dalam Al Qur’an. Apalagi kalau merenungkan surat Ali Imran ayat 200.. Rasanya mata selalu berkaca-kaca… Allah hanya minta kamu untuk berjuang, bersabar, bersabar… Seperti yang Ibu sampaikan pula dalam kesempatan terakhir saat pulang.. Sabar kita tidak terbatas…

Jadi, mari melihat dengan lebih baik.

Coba tinggalin lensa kameranya sebentar, mata kita lebih banyak bisa menjangkau hikmahnya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...