Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2013

Spirit, Menemukan Semangat yang Hilang

Spirit . Film ini dikenalkan empat tahun lalu oleh salah seorang sahabat terbaik gue yang sekarang tinggal di Ciamis. Gue tonton bareng sahabat gue itu. Hasilnya menangin hati banget :’). Kedua kali gue tonton sendiri di kosan dan masih menangin hati gue (lagi). Terus sampai sekarang entah berapa kali gue udah tonton film tersebut. Kadang, kalau sabtu-minggu libur, gue akan memprioritaskan menonton film ini walaupun gue punya cukup banyak film untuk ditonton. Film ini candu banget soalnya buat charge semangat. Seperti judulnya SPIRIT Stallion of Cameron . Film ini pertama kali release tahun 2002 (gue kelas 4 atau 5 SD). Dulu mana peduli gue sama esensi sebuah film. Begitu ada film kartun tayang ya di tonton aja. Tapi syukurnya ingatan gue masih berfungsi baik untuk mengenang kalau gue pernah nonton film ini waktu gue SD. Oh ya, film ini produksi Dreamworks. Secara garis besar, film ini menceritakan perjalanan seekor Mustang pada abad 19. Jalan cerita secara keseluruhan dengan la...

Keputusan

Bogor-Solo 23-27 Agustus 2013 Saya belajar mengambil keputusan menyoal hati "Ya, Rabb. Jika dengan mencintainya akan menambah keimananku pada-Mu. Maka aku akan mencintainya dan izinkan aku mencintainya. Namun apabila dengan tidak mencintainya (menjauhinya) pun akan menambah keimananku pada-MU. Maka aku pun akan menjauhinya, melupakannya"  karena mencintai selalu berawal dari sebuah penolakan "tidak" begitu yang pak Fachry Hamzah sampaikan dalam Seminar Negarawan Muda Indonesia. Inilah indahnya Islam yang tertuang dalam syahadat kita. Ikrar saat kita memutuskan dengan sepenuh hati untuk menjadi seorang Muslim. "Tidak ada Tuhan selain Allah". Menolak ketika segala sesuatunya belum terletak sesuai tempatnya. Sesuai ketentuanNya Sumber Gambar

Kenakalan Remaja atau Kenakalan Orang Tua?

“Gue takut komitmen, Tis. Gue gak mau nikah, gue takut kalau pada awalnya kita saling sayang tapi pada akhirnya kita cerai juga.” “Gue gak mau punya anak, Tis. Gue takut gak bisa jadi orang tua yang baik buat mereka.” “Aku hanya pengen ketemu Ibu dan kakakku yang sudah lama pergi dari rumah, mbak. Aku gak nyaman dengan Ibu tiriku dan anak-anaknya” Itulah sekelumit kalimat yang terus terekam dalam benak saya. Sebagai calon Sarjana Psikologi, seringkali baik sengaja ataupun tidak sengaja, saya menjadi tempat orang-orang mencurahkan perasaan mereka. Saya selalu terenyuh ketika orang lain bercerita mengenai keluarganya yang mengalami perceraian. Belum lagi fakta yang saya temukan dari cerita mereka bahwa mereka kadang harus mengonsumsi obat penenang atau obat tidur, merokok, bahkan ada yang memiliki psikiater khusus untuk menenangkan pikiran mereka.             Cerita mereka menarik perhatian saya untuk menelusuri lebih ja...

Bonus Bagi yang Mencintai

"Dokter itu profesional" “Guru yang profesional” “Dasar, pekerja tidak profesional” Begitulah sekiranya sebagian besar masyarakat memaknai profesional dalam kehidupan sehari-hari.            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesional diartikan sebagai “sesuatu yang bersangkutan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya”. Beginilah bahasa memaknai profesional. Namun, saya berpendapat bahwa seorang profesional adalah ia yang tidak hanya ahli pada suatu bidang namun yang juga mencintai serta mampu menempatkan diri pada peran-peran sosialnya secara baik. Profesional tercermin dari ‘bagaimana ia’ bukan ‘siapa ia’ sehingga bukan lagi sekedar kata sifat namun sebuah kata kerja. Tidak mengherankan untuk mendapatkan label profesional maka dibutuhkan sebuah pembiasaan agar kemampuan itu melekat menjadi sebuah nilai yang kuat. Mengakar menjadi karakter. Dalam sebuah hadist shahih dikatakan bahwa sebuah ...

Hati yang Menang

Hati yang Menang Oleh : Titis Sekti Wjayanti 27 Ramadhan pukul 08.00 WIB “Eh, mbak Rasna pulang” kata Bulik Yanti. “Oalah , cah ayu teka 1 , naik apa, Ras?” tanya Pakde Tukang Sayur “Masya Allah, sudah besar kali anak Pak Slamet sekarang” ujar Ummi Umar “Rasna, pulang. Mampir sini ke rumah Mama Cia” sambut Mama Cia Ku balas semua perkataan mereka tentang kedatanganku dengan anggukan dan seulas senyum. Semua masih mengenalku dengan baik. Alhamdulilah . Aku pamit dari kerumunan beberapa tetangga di depan rumah, kemudian masuk ke dalam rumah. Aku ucapkan salam terbaik teruntuk Ibu, Bapak, Adik, dan Kakak perempuanku. “ Assalamualaikum ”. Aku sambangi mereka satu-persatu di sudut-sudut ruangan tempat mereka berada. Ibu tersenyum saat ku cium tangannya takzim. Bapak berujar “Anakku, wedok mulih 2 ”. Adikku langsung menyerbu kardus kecil yang aku jinjing sejak kedatanganku sambil bertanya “Bawa apa, mbak?”, dan Kakakku yang cuek saja melihat aku datang, kemudian menginga...

Semacam Mimpi Untuk Indonesia

Tara.... ini adalah hasil karya saya, Bima Wirawan, dan Mas Dekai Djakarta (Solo Mengajar). Terima kasih buat mas Yoga yang sudah jepret-jepret hasil karya kita ini. Ceritanya bulan Mei lalu, saya datang ke acara Workshop Tunas Integritas yang diadakan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di Hotel Ibis, Surakarta. Pada awalnya kita diminta menggunting-gunting majalah, diminta menggunting kalimat-kalimat dan gambar-gambar yang disukai. Sesederhana itu sih awalnya. Pukul 13.00 (Sesi II) kami di bagi kelompok dan diminta membuat semacam mimpi untuk Indonesia dalam beberapa sektor. Menggunting-gunting, menempel, mencari gambar dan kata yang bagus, debat, semuanya menyenangkan. Dengan @menyatukanIndonesia, itu semacam harapan banget :'), teringat waktu acara Temu Nasional Baktinusa salah satu pembicara, Gusti Dipo menjelaskan mengenai pentingnya sebuah sinergisitas di Indonesia. Saya pikir, Indonesia memiliki banyak orang HEBAT. Sebutlah Solo, sebagai Kota yang sangat dinamis soa...